Kamis, 03 Agustus 2017 11:00

BBV Maros Survey Anjing-anjing di Mimika

TIMIKA I Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Kabid Keswan) Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Mimika, drh Sabelina Fitriani mengatakan, untuk memastikan Papua secara umum dan Mimika secara khusus bebas dari penyakit rabies, pihaknya bekerjasama dengan Balai Besar Veteriner (BBV) Maros melakukan survey terhadap anjing-anjing di Kabupaten Mimika.

“Menteri Pertanian memang sudah menyatakan, Papua bebas penyakit rabies. Dan untuk membuktikan hal tersebut, maka kami melakukan survey dan pengambilan sampel kepada anjing-anjing yang ada di Mimika,”kata drh Sabelina saat ditemui seputarpapua.com di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembibitan Ternak Babi di Kampung Naena Muktipura (SP6), Kamis (3/9/17).

drh Sabelina mengatakan, rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus rabies ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan, misalnya oleh anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar.
Di Mimika sampai saat ini belum ada kasus rabies. Kalaupun ada informasi adanya masyarakat yang terkena gigitan anjing, itu bukan rabies. Tetapi hanya sekedar gigitan. Karena, kalau itu rabies, maka anjing yang mengigit akan mati dalam masa inkubasi, yakni selama dua minggu setelah menggigit.

“Kasus gigitan selama ini bukan rabies. Karena baik anjing ataupun manusianya tidak mati, hanya sekedar infeksi karena luka gigitan,”ujarnya.
Ia mengatakan, untuk mengantisipasi kasus rabies di Mimika, pihaknya telah melakukan beberapa langkah, seperti melakukan pendataan terhadap 100 an lebih anjing yang ada di Timika. Selain itu, menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang pelarangan memasukkan hewan pembawa rabies. Dimana untuk Raperda sudah dimasukkan ke Bagian Hukum, tetapi belum dibahas karena ada kendala di DPRD.

Selain itu, pihaknya bekerjasama dengan BBV untuk melakukan wawancara kepada pemilik anjing. Dan melakukan sampel terhadap kepala dan darah anjing.

“Tim dari BBV Maros saat ini ada di Timika. Kedatangan tim untuk memastikan bahwa Mimika secara khusus bebas dari rabies,”terangnya.
Sementara Ketua Tim BBV Maros, drh Vera Hendrawati ditempat yang sama mengatakan, BBV Maros memiliki wilayah kerja Indonesia Timur, mulai Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Sementara untuk di Mimika, saat ini pihaknya sudah mengirimkan sampel otak anjing ke Balai Besar untuk diperiksa. Dan dari pemeriksaan tersebut, hasilnya negatif penyakit rabies.

“Hasil dari pemeriksaan terhadap otak anjing yang dikirim negatif,”jelasnya.
Ia menjelaskan, kenapa otak dan darah anjing yang diperiksa? Ini karena, penyakit rabies menyerang pada pusat sususan saraf yang terdapat pada otak. Karenanya apabila anjing itu terkena rabies, maka dalam waktu inkubasi, yakni dua minggu maka akan mati.

“Dari hal tersebut, perlu dilakukan pendataan terhadap anjing-anjing yang ada di Mimika. Ini untuk mendukung, Papua secara umum dan Mimika secara khusus bebas dari rabies,”jelasnya. (mjo/SP)

JAYAPURA | Gubernur Papua, Lukas Enembe diminta untuk segera menonaktifkan Direktur RSUD Dok II Jayapura,  drg. Josef Rinta Rachdyatmaka.  Alasannya,  karena Josef tersandung masalah hukum.

TIMIKA I Meskipun Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Timika, Distrik Mimika Baru siap untuk diakreditasi pada 2017 ini, namun masih ada sejumlah kendala yang dihadapi. Salah satunya adalah minimnya fasilitas gedung puskesmas yang belum memadai. Sementara, apabila dilihat dari sisi manajemen dan administrasi, Puskesmas Timika yang terletak di Jalan Trikora ini sudah sangat siap. 

TIMIKA I Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika telah mengutus tim untuk memastikan kebenaran adanya informasi peningkatan Penyakit Campak di Kampung Banti, Distrik Tembagapura. 

 

"Saya sudah perintahkan tim untuk langsung ke Banti mengecek, apakah benar kasus itu ada di sana. Kami belum bisa menyatakan apakah campak benar terjadi atau tidak," kata Kepala Dinkes Mimika Philipus Kehek di Timika, Kamis (27/7/17).

 

Philipus mengatakan, tim baru diturunkan lantaran baru menerima informasi dari Sekretaris Dinkes Mimika Reynold Ubra. Meski begitu, dia belum mengetahui informasi yang diperoleh Sekretaris Dinkes tersebut berasal dari petugas kesehatan yang ada di Banti atau dari laporan masyarakat.

 

"Bisa saja tidak benar atau sebaliknya informasi itu benar. Nanti kami sampaikan secara resmi hasil investigasi tim yang sudah kami utus ke sana," ujar Philipus.

 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Aloisius Giyai juga mengharapkan agar Dinkes Mimika lebih meningkatkan pelayanan dan pengawasan terhadap layanan kesehatan terutama di wilayah terpencil.

 

"Kontrol pelayanan kesehatan apakah posyandu di kampung-kampung itu jalan atau tidak, petugas-petugas yang di puskesmas ke tempat tugas atau tidak?," kata Aloisius.

 

Menurut Aloisius, jika di Timika terjadi suatu kasus wabah penyakit maka sudah tentu akan cepat tersiar sampai ke luar negeri mengingat di Timika terdapat perusahaan tambang emas Freeport.

 

Sementara Sekretaris Dinkes Kabupaten Mimika, Reynold Ubra saat ditemui di Graha Eme Neme Yauware, Jumat (28/7/17) mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi dari Rumah Sakit Banti adanya peningkatan kasus campak. 

 

"Info itu masih secara lisan, sementara untuk laporan secara tertulis belum. Ini karena untuk laporan tertulis ada format kasus yang berpotensi kejadian luar biasa (KLB)," katanya. 

 

Sementara peningkatan untuk kasus campak di Banti, kata dia, Dinkes belum mengetahui. Karena untuk mengetahui berapa peningkatannya harus membandingkan dengan data sebelumnya dan trend yang ada. 

 

Kalau memang ada peningkatan, maka harus segera ditangani. Tetapi kalau menurun, Dinkes Mimika akan melakukan langkah pengobatan.

 

"Kami belum tau berapa peningkatannya. Karenanya Kamis (27/7) kemarin, kami tegaskan untuk segera melakukan pengecekan,"kata Reynold.

 

Ia menjelaskan, penyakit campak ini bisa dicegah dengan imunisasi. Dimana sekarang yang terkenal campak rubella, memiliki gejala dan dampak yang sama,yakni kecacatan dan kematian. Karenanya kalau ada, maka Dinkes mengambil sampel dan dirujuk ke Balai Laboratorium Kesehatan (Labkes) di  Jawa Timur untuk mengetahui secara pasti, apakah ini campak atau rubella.

 

"Peningkatan campak ini periode tertentu dan berdasarkan pengalaman campak terjadi pada anak yang belum imunisasi. Oleh itu, untuk yang di Banti kami masih cek. Dan apabila benar, akan segera ditangani,"ungkapnya. (mjo/SP)