All for Joomla All for Webmasters
Rabu, 27 September 2017 15:32

Kadis Papua Dianiaya di Toraja, Ini Penjelasannya

Kadis PU Provinsi Papua Djuli Mambaya Kadis PU Provinsi Papua Djuli Mambaya

TIMIKA | Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Papua Djuli Mambaya dilaporkan mengalami insiden pemukulan oleh Ketua Umum Ikatan Keluarga Toraja  (IKT) Papua John Rende Mangontan (JRM) di Toraja Utara, Senin (25/9).

Insiden tersebut terjadi saat kedua tokoh asal Toraja tersebut menghadiri pembukaan Pertemuan Raya (Praya) X Persekutuan Pemuda Gereja Toraja, dan pentahbisan gereja di Museum Ne’Gandeng, Malakiri, Toraja Utara, Senin.

Djuli Mambaya (DJM) bersama kuasa hukumnya telah melaporkan dugaan tindak pidana penganiayaan tersebut ke Polres Tana Toraja, di Makale, Sulawesi Selatan, hari itu juga.

"Kejadian itu saat saya diundang secara resmi menghadiri Praya disana atasnama Kadis PU Papua. Saya pun pergi ke sana setelah melaporkan ke Gubernur Papua (Lukas Enembe)," kata Djuli saat dikonfirmasi Seputar Papua, Rabu (27/9).

Djuli menjelaskan kronologis kejadian memilukan yang dialaminya. Saat itu, dirinya tiba di acara tersebut kemudian mengikuti serangkaian prosesi ibadah yang berlangsung. JRM lalu tiba sekitar dua jam kemudian.

"Saya tidak pernah berprasangka akan ada peristiwa ini. Waktu itu kebetulan saya beranjak dari tempat duduk dan pergi ke belakang gereja. Saya agak lama, mungkin 13 menit. Tiba-tiba JRM masuk dan menempati tempat duduk saya," jata dia.

Kedatangan JRM lantas disambut oleh Djuli. Namun, menurutnya, JRM justru dengan muka murung dan langsung marah-marah begitu saja. Padahal, waktu itu ibadah masih sementara berlangsung.

"Karena suasana bising sedang ibadah, dimana pendeta sedang berkhotbah. Jadi saya ajak JRM mengendalikan emosinya dan mengikuti ibadah. Tapi dia malah tantang saya untuk berkelahi di lapangan," ujarnya.

Tidak sampai disitu. JRM kembali datang dengan penuh amarah dan mengundang Djuli berkelahi pada saat acara makan usai ibadah. Sontak aksi tersebut membuat para tamu undangan dan pendeta kaget.

"Melihat situasi itu, Kapolsek yang ada saat itu kemudian menarik saya ke luar. Tapi waktu itu setelah selesai makan, saya masih berbicara dengan seorang pendeta di samping gereja," katanya.

Beberapa saat kemudian, Djuli kemudian menghampiri JRM dengan maksud untuk berbicara secara baik-baik. Namun, JRM yang saat itu membawa beberapa pengawalnya masih menyimpan amarah terhadap Djuli.

"Waktu itu saya ambil handuk basah. Tiba-tiba dia pukul saya. Saya pun tidak bicara, saya tidak melawan. Tapi dia masih dorong saya hampir jatuh," ungkapnya.

"Saya kemudian langsung pergi karena merasa bahwa ini tempat terhormat, acara keagamaan, yang tidak patut untuk kita ribut disitu," tuturnya.

Pasca peristiwa tersebut, Djuli lalu menyampaikan kejadian dialaminya kepada Kapolres Tana Toraja. Djuli mengaku merasa terancam dan tidak nyaman melihat beberapa orang terus mengintai dirinya saat itu.

"Kapolres lalu hubungi Kasat Reskrim untuk saya membuat laporan. Saya diperiksa langsung bersama dengan beberapa orang saksi yang kebetulan menyaksikan peristiwa tersebut. Kasusnya sudah dalam proses hukum," jelasnya.

Menurut Djuli, dendam JRM terhadap dirinya kemungkinan karena adanya beberapa persoalan pribadi yang bermula dari media sosial Facebook. Sayangnya, masalah tersebut sampai berujung pada tindakan premanisme.

"Jadi kemungkinan ada dendam atas kesalahan persepsi oleh beliau kepada saya. Saya pikir bermula dari situ," ujarnya.

Salah satunya, cerita Djuli, ketika dirinya meninjau sebuah proyek pengaspalan di Jayapura. Saat itu ada seseorang menurutnya tidak jelas identitasnya datang begitu saja dan ikut campur dalam urusan tersebut.

"Saya tanya, anda siapa. Dia bilang saya dari (perusahaan tertentu). Saya kemudian suruh Pimpro untuk segera mengusir dia, tidak boleh ada orang tidak berkepentingan disitu," katanya.

Kegiatan sidak pengaspalan jalan itu lalu diapload di media sosial facebook. Kemudian ada sebuah percakapan Djuli dengan seseorang yang kemudian menyebut orang dimaksud tersebut adalah anak buah JRM.

"Percakapan itulah dicapture oleh seseorang bahwa saya menuduh orang yang datang itu adalah anak buah JRM. Ini kemungkinan yang jadi masalah bagi JRM," tukasnya.

Tidak itu saja. Djuli juga menduga jika JRM menganggap dirinya pernah mengintervensi sebuah pelelangan proyek yang kemudian menggagalkan seorang kerabat JRM memenangkan tender.

"Padahal saat evaluasi, saya hanya temukan sebuah dokumen palsu termasuk KTP. Saya ambil temuan itu bahwa ada pemalsuan dokumen. Kan bahaya kalau ada pemalsuan. Inilah yang kemudian dipikir bahwa saya mengintervensi sehingga mereka gagal memenangkan tender," ungkapnya.

Selain itu, Djuli mengatakan masih ada beberapa kemungkinan masalah lain yang membuat JRM menaruh dendam padanya. Sayangnya, berbagai persoalan tersebut tidak diselesaikan secara kekeluargaan, apalagi selaku tokoh masyarakat. (rum/SP)