Harga Daging Ayam Potong Mulai Naik

Sabtu, 09 Jun 2018 12:45

TIMIKA | Enam hari jelang lebaran harga dagang ayam potong di Timika, Kabupaten Mimika, Papua mulai mengalami peningkatan. Bahkan kenaikan daging ayam potong ini mulai sejak sebelum bulan puasa.

 

Salah satu pedagang daging dan ikan di Jalan Hasanuddin Timika Bayu mengatakan, kenaikan harga daging ayam potong ini tidak menurunkan jumlah pembeli, justru grafiknya meningkat. 

 

"Harga memang sebelum bulan puasa sudah naik. Dulu sebelum puasa itu Rp.33 ribu per kilo. Sekarang naik jadi Rp. 38 ribu perkilo. Dengan harga begini tidak mengurangi pembeli, justru sebaliknya," jelas Bayu saat ditemui seputarpapua.com, Sabtu (9/6).

 

Bayu memperkirakan, kenaikan jumlah pembeli akan terjadi pada H - 2 lebaran.    Ia bahkan telah menyetok daging ayam potong, daging sapi dan kebutuhan lainnya. 

 

"Kami sudah siap memang untuk menyiapkan kebutuhan baik itu daging ayam maupun daging sapi. Diperkirakan peningkatan permintaan akan meningkat pada 2 hari menjelang lebaran," jelas Bayu.

 

Berbeda dengan Bayu, salah satu penjual Daging Ayam Potong di Pasar Sentral Husnia mengatakan, harga daging ayam potong yang ia jual tidak mengalami perubahan. Pembeli hingga saat ini juga masih stabil, tidak mengalami peningkatan.

 

"Saya jual daging ayam potong Rp40 ribu per kilo. Sejak memasuki bulan puasa memang harganya segitu. Kalau masalah jumlah pembeli, masih sama saja. Belum ada peningkatan. Apalagi dagangan seperti itu juga banyak dibuka di luar pasar," ujarnya. 

 

"Begini-begini saja mas, dari pada tidak bikin apa-apa dirumah, mending cari kesibukan. Kalau masalah pendapatan, berapa-berapa saja didapat semua itu tergantung rejeki. Banyak pedagang di luar juga sehingga pembeli kadang tidak masuk, mereka beli diluar pasar. Kami mau marah, tapi sama-sama cari makan, jadi kita pasrah saja," pungkasnya. (Batt/SP)

Hadapi Lebaran, BI Sediakan Rp100 M

Jumat, 08 Jun 2018 13:03

TIMIKA | Bank Indonesia (BI) menyediakan uang sebanyak Rp100 miliar untuk kebutuhan masyarakat Timika, Papua dalam menyosong perayaan Hari Raya Idul Fitri (lebaran) 1439 H/2018 M. Uang ini disediakan untuk transaksi penarikan di anjungan tunai mandiri (ATM) maupun penukaran uang baru.

 

Kepala Kantor Cabang Bank Mandiri Timika, Irwan Setiawan mengatakan, dalam rangka menghadapi lebaran ini BI sudah menyerahkan uang ke Bank Mandiri Timika sebagai kas titipan (kastip) Bank Indonesia di Timika, dimana uang tersebut dipergunakan untuk pengisian ATM maupun penukaran uang baru.

 

Penitipan uang ke Bank Mandiri Timika, dikarenakan BI tidak ada cabang di Timika sehingga menunjuk Bank Mandiri sebagai kastip yang melayani bank-bank yang lain.

 

“Bank Mandiri Timika sebagai kastip dari BI sudah menyalurkan ke anggota lainnya. Namun besaran uang tersebut diluar dari ketersediaan di masing-masing bank. Sehingga masyarakat Timika tidak perlu kuatir terhadap ketersediaan uang di Timika. Apalagi sehabis lebaran banyak setoran yang masuk,” kata Irwan saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (8/6).

 

Sementara untuk jam pelayanan, kata dia, berdasarkan Surat Edaran (SE) dari BI bahwa mulai libur pada 11-20 Juni 2018. Namun demikian ada kebijakan dari bank-bank masing-masing, seperti yang dilakukan oleh Bank Mandiri, yakni melakukan sistim piket. 

 

Dimana sistim piket ini, petugas akan melayani beberapa transaksi, seperti pembayaran pajak dan setoran dari SPBU. Karena untuk SPBU tidak ada hari libur, walaupun pada saat lebaran.

 

“Jadi nanti, pada lebaran nanti kami menerapkan sistim piket. Sehingga ada operasional-operasional terbatas di hari tertentu,” ujarnya.

 

Sementara untuk pelayanan penarikan, pihaknya menyarankan untuk melalui ATM. Karena selama liburan sesuai tanggal yang ditetapkan oleh BI, maka transaksi kliring dan RTGS tidak ada. Dan akan aktif kembali pada 19 Juni 2018 nanti.

 

“Untuk pindah buku ataupun transfer pembayaran bisa dilakukan melalui internet banking. Tapi untuk kliring dan RTGS tidak bisa dilakukan, karena masih libur,” ungkapnya.(mjo/SP)

TIMIKA | Dua pekan menjelang hari raya Idul Fitri 1439 Hijriah harga sayuran seperti Kol/Kubis  (Brassica Oleracea) justru mengalami penurunan. Hal ini berbeda seperti biasanya, dimana setiap menjelang hari raya Lebaran maupun Natal dan Tahun Baru harga kebutuhan pokok justru mulai meningkat.

 

Salah satu petani di jalan Budi Utomo Ujung, Heru Prasetyo mengatakan, saat ini hasil penjualan sayur menurun hingga setengah dari harga biasanya. Kata dia, hal ini dipengaruhi oleh banyaknya komuditas sayuran yang sering dibuat masakan sop itu dipasaran. 

 

"Sekarang harga sayur kol ini Rp11 ribu per kilo. Padahal beberapa minggu lalu harganya Rp17 ribu per kilo. Kami memperoleh keuntungan yang bagus. Kalau sekarang tipis sekali," ujar Heru saat ditemui seputarpapua.com diladangnya, Selasa (5/6).

 

Lanjut dia, jenis sayuran ini tidak bisa ditahan. Apabila sudah waktu panen, maka tetap harus dipanen karena akan busuk. Belum lagi cuaca belakangan ini hujan. Hal ini akan mempercepat proses pembusukan.

 

"Tanaman kol ini beda dengan yang tanaman lainnya. Kalau hujan terus akan cepat busuk. Begitu juga, kalau panas terus, juga tidak baik. Jadi harus seimbang cuacanya," jelasnya.

 

Heru menjelaskan, sayur kol cukup laku dipasaran. Biasanya apabila didistribusikan ke pasar, langsung habis karena untuk kebutuhan warung makan maupun konsumsi rumah tangga. 

 

"Saya pribadi berharap harga bisa kembali normal sehingga kita juga bisa memperoleh keuntungan yang bagus. Saya biasanya langsung drop ke penjual, tidak lewat pengepul atau tengkulak karena itu semakin membuat keuntungan petani semakin kecil," pungkasnya. (Batt/SP)

TIMIKA | Harga bahan kebutuhan pokok di Pasar Sentral Timika, Papua cenderung masih stabil dan mengalami penurunan khususnya komoditas sayur mayur selama memasuki bulan puasa Ramadhan. 

 

Salah seorang pedagang di Pasar Sentral Timika, Sabri, Jumat (24/5) mengatakan beberapa bahan pokok yang mengalami penurunan harga seperti bawang merah, bawang putih dan sayur-mayur lainnya. 

 

"Harga bawang sekarang mulai turun semenjak sebelum masuk puasa karena stok yang didatangkan banyak, terutama dari Manado. Kalau dari Bima sampai sekarang belum masuk karena masih menunggu kedatangan kapal," kata Sabri.

 

Sementara cabe rawit terbilang masih cukup mahal lantaran kondisi cuaca hujan di Timika yang membuat hasil panen petani berkurang dan kwalitasnya kurang baik. 

 

"Stok berkurang sekarang untuk cabe rawit lokal. Biasanya dibawa dari Ambon atau Makassar menggunakan pesawat, tapi mungkin terbatas juga," kata Sabri.

 

Kondisi lain terjadi pada harga daging ayam beku yang cukup mengalami kenaikan sejak memasuki bulan puasa. Bahkan dalam sebulan terakhir, harga ayam beku sudah mengalami kenaikan 2-3 kali.

 

"Harga ayam beku sekarang mahal sejak memasuki bulan puasa. Modalnya saja Rp36 ribu. Sebelum puasa sekitar Rp32 ribu per kilogram, bahkan sempat hanya Rp27 ribu per kilogram," kata Nur, pedagang daging beku di Pasar Sentral Timika. (rum/SP)

 

Berikut daftar harga beberapa komoditas yang menjadi acuan di Pasar Sentral Timika:

 

Penurunan harga: 

 

1. Bawang merah dijual Rp50 ribu-Rp55 ribu/kg turun dari sebelumnya Rp70 ribu/kg

 

2. Bawang putih dijual Rp35 ribu/kg turun dari sebelumnya Rp40 ribu/kg

 

3. Bawang bombay dijual Rp25 ribu/kg turun dari sebelumnya Rp30 ribu/kg

 

4. Sawi putih dan kol dijual Rp25 ribu-30 ribu/kg 

 

5. Buncis dijual Rp30 ribu 

 

6. Terong dijual Rp5 ribu/kg

 

7. Tomat dijual 15 ribu-20 ribu/kg

 

8. Kentang dijual Rp25 ribu/kg

 

9. Wortel dijual Rp20 ribu/kg

 

Kenaikan harga

 

1. Ayam beku dijual Rp40 ribu/kg naik dari sebelumnya Rp30-35 ribu/kg

 

2. Ikan bandeng ukuran 300 dijual Rp39 ribu/kg naik dari sebelumnya Rp30 ribu/kg

 

3. Daging sapi dijual berkisar Rp110 ribu-Rp120 ribu/kg

 

4. Ayam buras produksi lokal dijual Rp55 ribu/rak

 

5. Telur bebek atau telur asin dijual Rp100 ribu/rak

 

6. Cabe rawit dijual Rp60 ribu-Rp80 ribu/kg