All for Joomla All for Webmasters
Rabu, 21 Maret 2018 00:59

Freeport Klaim Budidaya Karaka Ciptakan Masyarakat Kamoro Lebih Mandiri

Menteri KP, Susi Pudjiastuti (baju hitam) mengangkat wadah crab ball didampingi Sony Prasetyo (paling kiri) Menteri KP, Susi Pudjiastuti (baju hitam) mengangkat wadah crab ball didampingi Sony Prasetyo (paling kiri) Foto: Mujiono/SP

TIMIKA | Executive Vice President (EVP) Suistanble Development PTFI, Sony Prasetyo mengatakan, salah satu program pembangunan masyarakat berkelanjutan yang dilakukan oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) adalah mengembangkan budidaya Kepiting Bakau (Scylla spp.) atau populer disebut Karaka oleh masyarakat lokal. 

 

“Tujuan dari budidaya Kepiting Bakau adalah untuk menciptakan masyarakat Suku Kamoro lebih mandiri. Serta untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” kata Sony saat memberikan sambutan pada acara kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat melihat pembudidayaan Kepiting Bakau di Sungai Yama Tafaro, Selasa (20/3). 

 

Kata Sony, PTFI telah melaksanakan operasi tambang dan menghasilkan emas, tembaga, dan perak sejak 1967, sehingga sudah 50 tahun PTFI beroperasi di daerah tambang ini dan berharap bisa sampai 2041.

 

“Sebagai sebuah perusahaan tambang yang beroprasi di Kabupaten Mimika, PTFI terus berkomitmen untuk membangun masyarakat yang terkena dampak operasi tambang,” jelasnya.

 

Kata dia, komitmen Freeport membangun masyarakat didasarkan pada dua pemikiran yakni, masyarakat harus ikut menikmati nilai manfaat dari keberadaan PTFI dan masyarakat didorong untuk lebih mandiri disaat Freeport tutup nanti.

 

“Sekarang ini masyarakat masih tergantung akan keberadaan Freeport. Tapi diharapkan 20 tahun lagi, masyarakat sudah tidak tergantung karena lebih memanfaatkan sumber daya yang ada,” katanya.

 

Sony menjelaskan, komitmen Freeport terhadap pembangunan masyarakat ini sudah mulai berlangsung sejak 1967 lalu. Dimana, program-program yang dilakukan adalah mulai pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan budaya. 

 

“Untuk bidang ekonomi, kami mengembangkan program yang berbasis kearifan lokal. Khusus untuk masyarakat Kamoro kearifan lokal yang terkenal adalah sungai, sagu dan sampan atau 3S,” terangnya.

 

Ia menjelaskan, dengan 3S, masyarakat lebih memanfaatkan keragaman hayati dengan cara yang sederhana, yakni dengan memanfaatkan sungai. Dimana, kita ketahui bersama, masyarakat Kamoro ini lebih terkenal dengan meramu (mencari dan menangkap). Karena itulah, perusahaan mendorong untuk merubah cara hidup dengan melakukan program budidaya Kepiting Bakau. 

 

“Program ini bertujuan agar masyarakat Kamoro berubah dari meramu jadi pembudidaya, pedagang, industri, dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

  

Penguatan budidaya Kepiting Bakau ini, selain meningkatkan potensi ekonomi juga melestarikan satwa endemik Mimika. Karenanya PTFI bekerjasama dengan Dinas Perikanan Mimika dan Yayasan Crab Ball Indonesia. 

 

Lanjutnya, budidaya Kepiting Bakau ini menggunakan sistim yang sederhana, yakni crab ball. Dan salah satu binaannya adalah Koperasi Perikanan Tarua Ariya Aimar Paramo yang dipimpin DR Leonardus Tumuka.

 

“Pemilihan sistim ini karena sangat sederhana tapi multi manfaat yang cocok dengan masyarakat Kamoro serta memiliki potensi ekonomi tinggi,” ungkapnya. (mjo/SP)