All for Joomla All for Webmasters
Rabu, 21 Maret 2018 11:09

Menteri Susi: Jangan Gunakan Jaring Centrang dan Troll di Laut Papua

Kapal-kapal ikan  dari luar Papua yang saat ini bersandar di PPI Mimika, Papua Kapal-kapal ikan dari luar Papua yang saat ini bersandar di PPI Mimika, Papua

TIMIKA | Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti meminta kapal penangkap ikan dari luar Papua agar tidak menggunakan jaring cantrang. Karena sangat mengganggu ekosistem laut Papua.

 

“Bapak-bapak nelayan dari Jawa ada tidak yang menggunakan jaring cantrang di sini?,” tanya Menteri Susi kepada para nelayan asal Jawa yang mengikuti dialog dengan para nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) di Poumako, Rabu (21/3).

 

Susi menegaskan jika ada yang menggunakan jaring cantrang kapalnya akan ditenggelamkan.

 

Kata Menteri Susi, penangkapan ikan harus diatur agar tidak merusak alam. Untuk itu pemerintah membuat aturan melarang penangkapan ikan menggunakan jaring troll dan jaring cantrang.

 

“Jangan karena di Jawa sudah dilarang, Bapak-bapak nelayan ini membawanya ke Papua. Dan apabila ditemukan akan ditindak tegas,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, jaring cantrang itu sama dengan trawl atau pukat harimau. Jaring ini memiliki tali besar dengan lebar 6000 meter,  mata jaring kecil yakni 1,5 inci. Dengan ukuran tersebut, maka semuanya bisa tertangkap termasuk udang.

 

“Kalau itu dilakukan, maka masyarakat tidak dapat lagi hasil tangkapan. Karenanya, apabila masyarakat mendapati ada kapal yang menggunakan jaring cantrang harus dilaporkan kepada aparat,” tegas Susi.

 

Dijelaskan,satu cantrang terdiri dari kantong, mulut jaring, tali penarik, pelampung dan pemberat. Selain itu, cantrang juga dilengkapi dua tali selambar yang cukup panjang. Tali ini bisa mencapai 6.000 meter dalam kapal 30 gross ton (GT). Dengan panjang tali itu, cakupan sapuan tali bisa mencapai 292 hektar. Biasanya pengoperasian cantrang untuk menangkap ikan demersal atau ikan yang berada di dalam laut. (mjo/SP)