All for Joomla All for Webmasters

 

Rabu, 22 November 2017 10:58

Polisi Wanita Mengajar Anak-anak Pengungsi di Timika

TIMIKA | Seratusan anak para pengungsi dari lokasi pasca dikuasai oleh kelompok bersenjata di Kampung Banti dan Kimbeli, Distrik Tembagapura, kini mendapatkan layanan pendidikan di Graha Eme Neme Yauware, Kota Timika, sebagai tempat penampungan sementara.

Pada Rabu (22/11), proses belajar mengajar berlangsung diikuti sekitar 100 lebih murid tingkat SD dan TK. Sedikitnya sepuluh guru dibantu sejumlah Polisi Wanita (Polwan) Polres Mimika memberikan materi pelajaran dasar kepada mereka.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, sudah sebulan terakhir anak-anak tersebut tidak mendapat layanan pendidikan setelah kelompok bersenjata memasuki wilayah perkampungan mereka di Tembagapura hingga akhirnya harus dievakuasi.

"Ada beberapa guru yang turun untuk dievakuasi karena mengalami teror dari kelompok bersenjata. Sehingga tidak ada lagi proses belajar mengajar di kampung tersebut," katanya di Timika, Rabu.

Kombes Kamal yang mendampingi langsung kegiatan tersebut menjelaskan, tindakan penanganan para pengungsi pasca evakuasi terutama terhadap anak-anak adalah upaya pemulihan traumatis setelah berada dalam situasi mencekam.

"Kami meminta instansi terkait untuk mencari solusi yang tepat, pertama keinginan dari masyarakat akan menetap di Timika ataukah akan kembali ke daerahnya masing-masing," ujarnya.

Menurut Kamal, perlu ada solusi bagi 806 warga asli Papua tersebut jika mereka ingin kembali ke kampung halaman mereka di Tembagapura. Terutama menyangkut penghidupan mereka di sana, kesehatan, maupun pendidikan anak.

"Di sana sudah tidak ada lagi persediaan makanan sehingga menjadi perhatian kita semua agar kedepan mereka mendapatkan kehidupan yang layak," katanya.

Ia berharap, musyawarah bersama warga hari ini dapat menemukan solusi terbaik, demi kesejahteraan dan ketentraman seribuan lebih masyarakat asli Papua yang bermukim di Kampung Utikini, Kimbeli, Banti, dan lainnya.

"Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan yang dilakukan saat ini dan kedepan terstruktur dengan baik, akan menghilangkan psikis warga menjadi lebih baik," tuturnya.  

Kepala Sekolah SD Inpres Banti Markus Leppang mengatakan, untuk sementara terdata sebanyak 101 anak usia sekolah terdiri dari 50 laki-laki dan 51 perempuan ikut dalam proses evakuasi warga dari Tembagapura pada Senin (20/11) lalu.

"Masih ada anak-anak yang belum kami data karena pada saat evakuasi situasi sangat tidak memungkinkan," katanya.

Markus menambahkan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Kadispendasbud) Mimika Jenni Usmani agar anak-anak ini bisa mendapatkan tempat yang lebih layak.

"Karena untuk saat ini kami cuma dapat siapkan buku dan pensil untuk proses belajar mengajar untuk menghilangkan psikologis anak disamping belajar sambil bermain," kata dia.

"Kami juga berharap dari pemerintah dan lembaga adat serta manajemen PT Freeport Indonesia harus bersama-sama memikirkan secepatnya untuk mencari tempat yang layak agar anak-anak kita ini dapat belajar dengan baik," harapnya.

Untuk diketahui, sebanyak 806 warga asli Papua meminta dievakuasi pada Senin (20/11) lalu, lantaran mereka hidup dalam situasi mencekam dan khawatir sewaktu-waktu kelompok bersenjata kembali memasuki permukiman mereka. (rum/SP)