All for Joomla All for Webmasters

 

Kamis, 02 November 2017 11:14

Tak Ada Anggaran, Taman Mapurupuwau Belum Bisa Dikelola

TAMAN - Kadistrik Mimika Timur dan Danramil Mapurujaya saat berada di Taman Keanekaragaman Hayati Mapurupuwau TAMAN - Kadistrik Mimika Timur dan Danramil Mapurujaya saat berada di Taman Keanekaragaman Hayati Mapurupuwau

TIMIKA I Pemerintah Distrik Mimika Timur (Miktim) di Tahun 2017 ini belum bisa mengelola Taman Keanekaragaman Hayati Mapurupuwau yang berada di Kampung Mware, Distrik Mimika Timur, Mimika, Papua, dikarenakan belum memiliki anggaran.

Kepala Distrik Miktim, Marike Warinussy mengatakan, Taman Keanekaragaman Hayati Mapurupuwau rencananya akan dijadikan tempat wisata yang memiliki nilai histori atau sejarah. Namun untuk saat ini, masyarakat belum bisa menikmati maupun berkunjung ke tempat tersebut. Hal ini dikarenakan, pihaknya belum bisa menyiapkan fasilitas pendukung yang dibutuhkan masyarakat pada saat berkunjung.

“Tahun ini kami masih belum bisa kelola, karena belum ada anggaran. Tapi pada 2018 nanti, kami sudah programkan hal tersebut. Mudah-mudahan 2018 nanti taman ini bisa dinikmati masyarakat sebagai di tempat sejarah di Mimika,”kata  Marike saat ditemui disela-sela pembersihan Taman Keanekaragaman Hayati Mapurupuwu, Kamis (2/11/2017).

Dijelaskan, taman yang memiliki patung tokoh masyarakat, yakni Tete Mapuru ini dibangun oleh Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko). Kemudian dilakukan renovasi oleh Pemda Mimika melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH). Setelah diresmikan pada 19 Agustus  lalu oleh Bupati, pengelolaannya dialihkan dari BLH kepada Pemerintah Distrik Miktim.

Meski sudah dialihkan ke Pemerintah Distrik Miktim, namun kata Marike, untuk tahun 2017 ini pihaknya belum bisa berbuat banyak dikarenakan tidak memiliki anggaran. Tetapi untuk menjaga agar taman ini tetap terawat, pihaknya rutin melakukan pembersihan.

“Tahun ini kami tidak bisa berbuat banyak karena di DPA tidak ada anggaran untuk pengelolaan. Tapi kami tetap melakukan pembersihan terhadap taman,” ujarnya.

Untuk mengelola taman ini, menurut Marike, pihaknya sudah menganggarkannya di Tahun 2018. Sehingga ia berharap anggaran tersebut dapat terealiasi.

Pasalnya, lanjut Marike, apabila anggaran tersebut dapat terealiasi maka,  masyarakat yang berkunjung bisa menikmati suasana taman yang penuh dengan nilai histori. Sehingga tidak hanya mengetahui adanya patung Tete Mapuru, namun mengetahui keberadabannya. Oleh itu, pihaknya akan menyiapkan segala sesuatunya untuk para pengunjung nanti.

“Dengan adanya taman ini, masyarakat bisa mengetahui keberadaban Mimika, khususnya Suku Kamoro. Begitu juga dengan generasi muda, agar tidak melupakan sejarah daerah ini,”ungkapnya.

Perlu diketahui, renovasi taman Keanekaragaman Hayati Mapurupuwau yang berada di Kampung Mware, Distrik Miktim menelan biaya sebesar Rp1,8 miliar.

Taman Keanekaragaman Hayati Mapurupuwau berawal dari tugu Mapurupuwau yang telah dibangun pada 2006 lalu. Nama Mapurupuwau sendiri berasal dari nama seorang tokoh adat masyarakat Kamoro, yang dipercaya telah membuat peradaban baru di wilayah adat Mimika dan kini dikenal dengan Mapurujaya, ibu kota dari Distrik Mimika Timur.

Keberadaan tugu bersejarah yang merupakan kearifan lokal ini, maka BLH  Mimika melakukan renovasi taman ini selama dua tahun, yakni pada tahun 2015-2016. Taman ini direnovasi dengan menggunakan anggaran yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Yang mana pada tahun anggaran 2015 sebesar Rp700 juta, dan pada 2016 sebesar Rp1,1 miliar. Jadi total pembangunan taman keanekaragaman hayati Mapurupuwau sebesar Rp1,8 miliar.

Anggaran Rp1,8 miliar untuk renovasi taman ini dimulai pada 2015 lalu, yang terdiri dari taman dan bangunan dasar. Patung Mapurupuwau atau biasa dikenal dengan Tete Mapuru sudah ada beberapa tahun silam. Namun disekelilingnya ditambah dengan adanya rumah adat karapau yang memiliki tiang penyangga. Dan tiang-tiangnya diukir, sehingga kesan atau cirri dari Suku Kamoro sangat terasa.

Selain itu, ada beberapa tempat duduk ditaman.  Ditambah dengan area untuk menanam pohon dan bunga, serta air mancur kecil yang keluar dari beberapa guci. Serta ada rumah jaga, kamar mandi, dan menara air untuk menyimpan air yang digunakan para pengunjung. Dan yang tidak kalah penting adalah lahan parkir di luar taman, sehingga pengunjung bisa merasa nyaman.(mjo/SP)