All for Joomla All for Webmasters

 

Kamis, 11 Januari 2018 00:44

Bupati Asmat Bentuk Tim Penanggulangan Wabah Campak

Bupati Asmat,  Elisa Kambu Bupati Asmat, Elisa Kambu

TIMIKA I Bupati Asmat Elisa Kambu, S. Sos telah membentuk tim untuk menanggulangi wabah campak  yang tersebar di lima distrik. 

 

Empat tim ini terdiri dari enam orang yang mewakili pejabat Pemkab Asmat, tiga tenaga medis  dan dua tenaga operator kapal cepat (speedboat). Mereka sudah diterjunkan ke Distrik Swator, Fayit, Pulau Tiga,  Jetsy dan Siret,  pada Selasa (9/1/2018).

 

Tim berperan memberikan imunisasi vaksin campak serta bantuan makanan untuk para warga di lima distrik tersebut.

 

"Tim ini akan bertugas hingga Sabtu (13/1) mendatang. Mereka akan membawa data jumlah penderita campak dan gizi buruk. Setelah itu kami akan kembali menerjunkan tim ke sana," kata Bupati Elisa Kambu, saat ditemui di Timika, Rabu (10/1/18).

 

Bupati mengungkapkan, pihaknya selama ini telah berupaya maksimal memberikan kegiatan imunisasi secara rutin di 16 puskesmas. 

 

Namun, mayoritas warga belum sadar tentang pentingnya pelayanan kesehatan, seperti tidak mau mengikuti kegiatan imunisasi bagi anak mereka yang masih bayi hingga balita.

 

"Saya mengakui implementasi imunisasi yang belum tuntas menjadi salah satu penyebab hadirnya wabah campak di Asmat. Karena itu, saya bersama seluruh jajaran akan berupaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi sehingga tak terjadi lagi wabah campak di masa mendatang," jelas bupati. 

 

Ia pun berharap, adanya bantuan dari Kementerian Kesehatan untuk mendatangkan tenaga medis dokter spesialis dasar seperti spesialis kandungan dan anak. 

 

Sebab pada Desember 2017 lalu, diakui bupati, pihaknya sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Kesehatan terkait penyediaan tenaga medis. 

 

"Pemkab Asmat memiliki anggaran yang cukup untuk mendatangkan tenaga medis. Namun, kami masih kesulitan mendatangkan tenaga medis seperti dokter spesialis. Di Rumah Sakit Agats saja, hanya terdapat dua dokter spesialis bedah," aku bupati. 

 

Dinas Kesehatan setempat  juga menggelar pemeriksaan massal bagi seluruh anak balita di Asmat. Upaya ini untuk mencegah meluasnya wabah campak di Asmat yang terjadi sejak Oktober hingga kini. 

 

Sebelumnya dikabarkan sebanyak 13 anak berusia di bawah lima tahun atau balita meninggal dunia sepanjang Desember 2017 di Kabupaten Asmat, Papua. Penyebab kematian mereka diduga karena gizi buruk dan terserang penyakit.

 

Fakta ini berdasarkan temuan tim Keuskupan Agats saat kegiatan pelayanan ibadah Natal pada 23-25 Desember lalu di Kampung As dan Kampung Atat, Distrik Pulau Tiga, Asmat. Waktu tempuh dari Agats, ibu kota Asmat, ke As dan Atat dengan kapal cepat menyusuri sungai sekitar tiga jam.

 

Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito OFM, saat ditemui di Jayapura, Selasa (9/1), mengungkapkan, tubuh anak yang meninggal kurus dan terdapat bintik-bintik di sekujur tubuh, seperti penyakit sarampa. ”Para korban di Atat yang meninggal berusia 1 hingga 3 tahun. Kami sempat mengunjungi rumah salah satu warga yang berduka karena anaknya meninggal,” kata Aloysius, dilansir dari harian kompas. 

 

Ia pun menuturkan, kondisi para ibu menyusui di Atat juga sangat kurus sehingga kemungkinan ASI yang dihasilkan kurang berkualitas. Rata-rata warga di sana mengandalkan mata pencarian dari berkebun sagu, meramu hasil hutan, dan menanam sayur-sayuran. Namun, hasilnya tidak optimal. Adapun puskesmas terdekat berada di pusat Distrik Pulau Tiga yang berjarak 1,5 jam perjalanan dari Atat.

 

Aloysius berharap program 1.000 Hari Kehidupan yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Asmat sejak tahun lalu bisa menjangkau enam kampung di Pulau Tiga. Program itu berupa pemberian makanan bergizi bagi ibu hamil dan menyusui.

 

”Kami juga akan membentuk tim dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk mengatasi masalah kesehatan di kampung-kampung tersebut. Tim ini akan menyiapkan bantuan, baik makanan maupun tenaga medis, untuk warga,” ujar Aloysius.

 

Kepala Bagian Humas Pemkab Asmat Reza A. Baadila mengatakan, Bupati Asmat Elisa Kambu telah membentuk tim kerja terpadu untuk mengatasi beberapa kasus menonjol di sejumlah kampung di Asmat pada Minggu (7/1). Tim ini akan mengambil langkah cepat yang meliputi penanggulangan gizi buruk, mengoptimalkan program kesehatan, serta memastikan kehadiran tenaga medis di semua puskesmas dan puskesmas pembantu.

 

”Bupati langsung memimpin rapat bersama seluruh jajarannya agar segera mengatasi masalah tersebut. Sejak Senin hingga kini, tim terpadu masih mendata jumlah bayi dan anak balita yang mengalami masalah gangguan gizi dan sakit,” tutur Reza.

 

Ia menambahkan, selain problem kekurangan gizi, juga terjadi serangan penyakit campak di lima distrik. Kelima distrik itu adalah satu kampung di Distrik Suru-Suru, tiga kampung di

Distrik Fayit, satu kampung di Distrik Pantai Kasuari, serta Distrik Derkoumor dan Distrik Atsy.

 

”Bupati telah memerintahkan tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat untuk memantau penanggulangan serangan penyakit campak di daerah-daerah tersebut. Hingga kini kami masih mengumpulkan data jumlah anak yang terserang campak,” kata Reza. (kps/Ipa/SP)