All for Joomla All for Webmasters

 

Jumat, 19 Januari 2018 07:22

Kementerian Kesehatan Beberkan Penyebab KLB Campak di Asmat

Kapolda menjenguk penderita campak dan gizi buruk di asmat Kapolda menjenguk penderita campak dan gizi buruk di asmat

JAKARTA | Kasus kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua, disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat akan pentingnya imunisasi yang berdampak pada rendahnya cakupan imunisasi.

Dalam keterangan pers Kementerian Kesehatan yang diterima di Jakarta, Jumat (19/1) salah satu dokter spesialis anak yang dikirimkan ke Asmat, Dimas Dwi Saputro menjelaskan KLB campak disebabkan imunisasi yang tidak lengkap disertai kendala pada kondisi geografis.

"Ketidaktahuan orang tua akan jadwal imunisasi dan sulit melakukan edukasi pada orang tua membuat cakupan imunisasi semakin rendah," kata Dimas.

Dimas menerangkan strategi tim kesehatan dalam penanganan KLB campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat Papua dimulai dengan mengidentifikasi jenis penyakit.

Apabila terdiagnosis campak, pasien lansung ditangani infeksinya dengan antibiotik lalu diberikan asupan nutrisi optimal dan vitamin A.

Terapi komplikasi campak seperti diare, pneumonia, dehidrasi karena asupan kurang, penurunan kesadaran, juga diberikan jika hal-hal tersebut ditemukan.

"Untuk gizi buruk, kami berikan nutrisi susu dengan formulasi khusus yang kami buat sendiri, yaitu susu formula ditambah gula, ditambah minyak dan 'mineral mix'. Sayangnya minyak dan mineral mix tidak tersedia di sini sehingga hanya susu dan gula saja. Tujuannya memberikan kalori padat, susu dengan kalori yang padat untuk kejar tumbuh," jelas Dimas.

Selain itu diberikan pula antibiotik pada penderita gizi buruk dengan infeksi, dan vitamin A, asam folat. Pemantauan kenaikan berat badan pun dilakukan setiap pagi. Budi Suyanto.

Campak dilaporkan telah menyebabkan kematian sebanyak 63 jiwa diantaranya 61 anak-ank di Kabupaten Asmat, Papua. Korban tersebar di 23 kecamatan di kabupaten tersebut.

Sementara data dari rumah sakit menunjukkan total 568 anak telah terjangkit campak dan 175 diantaranya membutuhkan perawatan intensif. (Ant/rum/SP)