All for Joomla All for Webmasters

 

Kamis, 08 Februari 2018 07:35

Keuskupan Timika Kawal Proses Hukum Kasus Penembakan Mama Kamoro

Uskup Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil Pr Uskup Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil Pr Foto insert: papualive.com

 

TIMIKA | Keuskupan Timika, Papua mengawal proses hukum para pelaku kasus dugaan penembakan yang menewaskan Imakulata Emakeparo, ibu rumah tangga asal Suku Kamoro yang bermukim di Pulau Karaka, Distrik Mimika Timur jauh pada Minggu (4/2) dini hari.

Uskup Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil Pr mendukung proses penegakan hukum terhadap oknum aparat keamanan kepolisian dari Satgas Brimob Polda Kalimantan Timur yang diduga terlibat dalam insiden tertembaknya Mama Emakeparo.

“Kami juga melakukan investigasi lagi peristiwa ini, walaupun prosedur kepolisian tetap berjalan. Kami akan kawal supaya hukum betul-betul ditegakkan,” kata Uskup Saklil kepada seputarpapua.com di Timika, Kamis (8/2).

Keuskupan Timika akan bekerja sama dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) serta lembaga-lembaga kemanusiaan lainnya untuk melakukan investigasi guna menemukan fakta-fakta di lapangan.

“Kami sudah dampingi kasus yang sama pada tahun 2015 (yaitu penembakan dua warga Kamoro oleh dua oknum prajurit TNI di Koperapoka Timika) sampai pada pihak pelaku sudah dipecat dan dihukum penjara,” katanya.

Uskup merasa berang terhadap brutalitas oknum aparat keamanan yang merenggut nyawa masyarakat tak bersalah. Ia menyebut peristiwa serupa sudah berulang kali terjadi dan aparat seakan-akan kehilangan profesionalitas dalam menjalankan tugas.

“Maka itu, saya minta kepada semua pihak terutama pimpinan aparat keamanan agar merubah cara kerja seperti ini. Kenapa harus ditindak dengan cara begitu. Mereka mau amankan siapa, kasus-kasus yang terjadi begitu, apakah itu ada unsur kesengajaan,” ujarnya.

Ia berpendapat, pola pendekatan aparat keamanan TNI dan Polri yang terkesan mengedepankan tindakan represif atau kekerasan, telah menimbulkan rasa antipati dari masyarakat Papua terhadap pemerintah Indonesia karena bagaimanapun mereka hadir atasnama Negara.

“Peristiwa sudah berulang kali terjadi. Itu (rasa antipasti) yang terjadi. Ketidak percayaan masyarakat (kepada Negera) itu sudah terjadi,” tukasnya.

Kapolres Mimika AKBP Indara Hermawan mengatakan, kasus penembakan yang menewaskan Mama Emakeparo yang diduga dilakukan oleh anggota Brimob Satgas Amole dari Polda Kalimantan Timur masih terus dalam penyelidikan tim gabungan Polda Papua.

"Intinya masyarakat menghendaki proses hukum dilakukan dengan benar, pelakunya ditindak dan diproses secara terbuka. Itu semua sedang berjalan," jelas Indra di Timika, Rabu (7/2).

Sejauh ini, katanya, penyidik baru memeriksa sekitar enam anggota Polri termasuk dua orang Security yang saat kejadian bertugas di kawasan Pelabuhan Cargo Dock Portsite Amamapare PT Freeport Indonesia.

Adapun saksi dari masyarakat termasuk saksi kunci yang merupakan suami korban sendiri, Titus Onamariyuta, hingga kini belum bisa diambil keterangan lantaran mereka masih dalam suasana berduka.

"Kami terus berkoordinasi dengan para tokoh masyarakat untuk memastikan kapan kita akan jadwalkan pemeriksaan warga mereka yang saat kejadian ada di lokasi itu. Semua yang ada di sekitar TKP akan kami mintai keterangan," jelasnya. (rum/SP)