All for Joomla All for Webmasters

 

Senin, 12 Maret 2018 14:30

Polisi Tegaskan Tak Ada Ampun Bagi Pelaku Konflik di Mimika

TIMIKA | Kepolisian mulai mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku perang adat/suku di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Polisi bakal menangkap siapapun yang ditemukan membawa senjata tajam termasuk atribut perang adat berupa busur panah tradisional. 

 

Kapolsek Mimika Baru, AKP Frits Jhon Erari menegaskan, hukum positif harus ditegakkan di tengah konflik antarkelompok warga yang telah menimbulkan cukup banyak korban jiwa. Pihaknya tidak akan memberi toleransi sedikitpun terhadap oknum warga yang terlibat konflik atau ditemukan membawa senjata tajam. 

 

“Hukum harus bertindak di Kwamki Narama. Siapapun yang bergerak keluar dari rumah dengan memegang busur panah, parang, tulang kasuari dan apa saja yang berbentuk alat tajam, kami akan tangkap lalu masukkan ke dalam sel dan proses hukum,” tegas Erari di Timika, Senin (12/3).

 

Erari mengatakan, tidak ada cara lain untuk menghentikan konflik tersebut tanpa penegakan hukum dengan menangkap siapapun yang terlibat secara langsung ataupun bertindak sebagai provokator dan aktor intelektual di belakangnya. Ia memastikan tidak akan melepaskan siapapun yang ditangkap dalam operasi kepolisian.  

 

 “Kami akan kenakan undang undang darurat bagi mereka yang membawa senjata tajam atau alat perang. Setelah mereka ditangkap, tidak aka nada toleransi apapun dari kami, sekalipun kepala perang datang minta bebaskan,” tegasnya. 

 

Menurut Erari, penyelesaian masalah dengan cara perang adat dan saling membunuh sudah merupakan tindakan yang sangat  keliru. Sebab, pihak-pihak yang terlibat tak lain adalah satu rumpun keluarga masyarakat Papua dan bahkan merupakan kerabat dekat namun kebetulan berada dalam kelompok yang berbeda. 

 

“Saya anak Papua, saya tidak terima adat yang salah. Saling membunuh antar saudara sendiri. Saya tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang salah itu terus terjadi. Tidak mungkin kita harus membiarkan orang Papua setiap hari mati di depan mata kita. Kalau kita biarkan dengan alasan adat, itu justru sangat keliru,” katanya. 

 

Penyelesaian masalah dengan cara saling membunuh, kata Erari, bukan saatnya lagi di tengah perkembangan zaman dan semua orang sudang mengenal agama. Jika itu terus berlanjut, maka yang ada hanya kehancuran bagi masyarakat Papua sendiri. 

 

“Kita tidak berada di zaman purbakala. Alat perang orang Papua adalah busur panah. Tetapi zaman ini berubah, kita sudah maju dengan segala kemajuan teknologi. Oleh karena itu, saya sebagai Kapolsek orang Papua tidak akan pernah membiarkan ini terus terjadi,” katanya lagi. 

 

Dua Warga Tewas Dalam Sehari

 

Pada Senin (12/3), setidaknya dua orang warga Mimika ditemukan tewas dengan sejumlah luka akibat senjata tajam. Satu warga bernama Aminus Wamang ditemukan tewas di Jalan Poros SP V Kampung Limau Asri Timur, Distrik Iwaka, dan satu lagi bernama Setinus Lokbere ditemukan tewas bersimbah darah di Check Point 28. 

 

Kedua korban tersebut diduga masih merupakan buntut dari konflik yang berpusat di Kwamki Narama. Dimana kedua jenazah korban dibawa ke lokasi konflik tersebut untuk dilakukan ritual adat kremasi (bakar mayat) yang lasim dilakukan terhadap para korban tewas dalam perang adat Papua. 

 

“Sekali lagi saya minta hentikan ini semua. Mari kita berubah untuk hidup lebih baik. Panah ini ada sejak nenek moyang kita namun digunakan untuk berburuh binatang di hutan, bukan untuk membunuh saudara sendiri lalu bakar seperti kayu bakar,” sesal Kapolsek Erari. 

 

 

Sejak konflik berkepanjangan itu berlangsung dari Januari 2018, tercatat sudah menimbulkan sekitar 11 korban tewas dan puluhan luka-luka. Selain itu, aktifitas warga di Kwamki Narama terisolasi lantaran hampir setiap hari kelompok warga terlibat saling serang dengan busur panah tradisional, parang, kapak dan senjata tajam lainnya. 

 

“Untuk menghentikan ini semua, hanya ada satu cara yaitu penegakan hukum positif. Dengan demikian, siapapun yang terlibat lalu sial bertermu dengan aparat maka dia akan ditangkap,” kata Erari. 

 

Puluhan Warga Ditangkap

 

Kepolisian mencatat sudah puluhan orang telah ditangkap setelah ditemukan membawa senjata tajam termasuk alat perang adat berupa busur panah tradisional. Delapan orang tersebut diantaranta telah menjalani persidangan setelah dijerat UU darurat. Sementara belasan orang lainnya kini masih berada dalam sel tahanan kepolisian. 

 

Tidak hanya menangkap para pelaku konflik dan pemilik senjata tajam, polisi juga menyita ribuan anak panah yang diperkirakan sudah mencapai setengah container. Barang bukti tersebut kini ditampung di Mapolsek Mimika Baru, Jalan C Heautubun dan direncanakan dilakukan pemusnahan dalam waktu dekat. 

 

“Di Polsek Mimika Baru ada tiga orang sudah ditangkap untuk proses hukum karena membawa sajam. Jadi tidak ada ampun, tidak ada alasan apapun untuk mengeluarkan mereka dari sel tahanan. Saya harap dengan proses hukum ini dapat mengubah pola pikir mereka. Di dalam tahanan lapas nanti tentu mereka akan mendapat pembinaan, semoga keluar menjadi orang lebih baik,” pungkas Erari. (rum/SP)