All for Joomla All for Webmasters
Kamis, 12 April 2018 15:48

Bupati Ultimatum Konflik Kwamki Narama Berhenti Dalam Tiga Hari 

TIMIKA | Bupati Mimika, Provinsi Papua Eltinus Omaleng mengultimatum konflik di Distrik Kwamki Narama segera dihentikan dalam waktu tiga hari ke depan. Bila tidak, aparat keamanan TNI-Polri terpaksa akan melakukan penindakan tegas. 

 Bupati Eltinus mengatakan, dirinya telah menggelar rapat dengan Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto dan Dandim 1710/ Mimika Letkol Inf Windarto, untuk membahas masalah penyelesaian konflik berkepanjangan di Kwamki Narama.  

 

"Saya kasih ultimatum bahwa batas waktu tiga hari untuk menghentikan konflik ini. Kalau masih lanjut, maka akan dilakukan penangkapan, lalu pemerintah siapkan pesawat untuk pulangkan mereka (yang terlibat konflik) ke daerahnya masing-masing," kata Eltinus di Timika, Kamis (12/4).

 

Eltinus menegaskan, pihaknya bahkan akan melibatkan TNI dalam menghentikan konflik tersebut secara paksa, apabila tiga kubuh yang terlibat konflik di sana tak kunjung sepakat melakukan perdamaian. 

 

"Kalau perlu, TNI akan dikedepankan. Tidak ada ampun, itu yang saya tegaskan kepada mereka," tegas Eltinus. 

 

Sehubungan dengan hal itu, Jumat (13/4) besok Bupati Eltinus akan menyerahkan 15 ekor babi untuk dibagi tiga kubuh warga di Kwamki Narama yang akan dipakai dalam prosesi perdamaian melalui ritual adat bakar batu. 

 

"Kemudian beras kami siapkan 500 sak dan barang kebutuhan pokok lainnya akan kami serahkan kepada warga di sana," tutur Eltinus. 

 

Di samping itu, Eltinus sepakat dengan Kepolisian untuk membebaskan sebanyak 21 orang yang ditahan karena membawa ratusan busur panah tradisional dari Kabupaten Puncak untuk digunakan dalam pertikaian antarkelompok warga di Timika.  

 

"Sebenarnya saya mendukung upaya penegakan hukum terhadap para pelaku kriminal, akan tetapi ini demi proses perdamaian konflik maka terpaksa harus mengambil kebijakan untuk membebaskan mereka," pungkas Bupati Eltinus. 

 

Adapun konflik antarkelompok warga di Kwamki Narama telah menewaskan belasan orang, membuat aktifitas warga lumpuh, termasuk sekolah dan puskesmas tutup sejak konflik itu memanas pada Januari 2018. (rum/SP)