Diperlakukan Tidak Manusiawi, 15 Siswa PKL dari Jogja Kabur dari Kapal

Diperlakukan Tidak Manusiawi, 15 Siswa PKL dari Jogja Kabur dari Kapal
Para siswa yang kabur dari kapal saat berada di Sekretariat KKJB di Jalan Budi Utomo. (Foto: Anya Fatma/SP)

TIMIKA | Sebanyak 15 siswa kelas XI dari SMK 1 Temon, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di KM RJ 01 dan VA 2 terpaksa kabur dari kapal karena diperlakukan tidak manusiawi.

Mereka kabur saat kapal sandar di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Poumako, TImika,  Papua pada Selasa (7/1) lalu. 

15 siswa tersebut terbagi di dua kapal, lima siswa di KM RJ dan 10 di VA. Kedua kapal ini bermuatan 300 Ton.

Berdasarkan jadwal dari sekolah, belasan siswa malang ini seharusnya melaksanakan PKL selama tiga bulan sejak tanggal 17 Desember  2019. 

Namun, beberapa hari diawal mereka mulai berlayar di kapal, mereka kerap diperlakukan tidak wajar oleh Anak Buah Kapal (ABK).

Salah satu siswa, Evan Agus Rafael yang berpraktek di KM RJ mengatakan, dia dan teman-temannya mulai berlayar dengan kapal dari Pulau Jawa sejak tanggal 27 Desember 2019. 

Mereka mengaku tidak langsung naik ke kedua kapal tersebut, melainkan dari Pulau Jawa mereka menumpang pada kapal angkut baru kemudian di tengah laut dipindahkan ke kapal-kapal tempat mereka PKL.

Para siswa ini mengambil jurusan Nautika dan Teknika pada sekolah mereka. Yang seharusnya pada pelaksanaan PKL mereka berpraktek di bagian mesin dan dek kapal membantu nahkoda. 

"Selama di kapal tidak pernah kerja begitu. Kita disuru tarik jaring-jaring besar, pilih-pilih ikan yang baru ditangkap maupun yang sudah beku," kata Evan saat diwawancara Seputarpapua.com di Sekretariat KKJB, Jalan Budi Utomo, Timika, Kamis (9/1).

Berdasarkan pengakuannya, setiap harinya mereka sudah mulai bekerja pada pukul 04.00 higga sore atau malam hari waktu setempat. 

Namun, pada beberapa waktu, mereka bisa bekerja mulai dari pukul 04.00 sampai pukul 01.00 dini hari tanpa diberi waktu untuk istirahat.

"Tarik jaring dari jam 4 subuh sampai siang. Kalau ikan banyak, dari jam 4 subuh sampai jam 1 malam, nanti jam 4 kerja lagi," tuturnya.

Siswa lainnya, Galuh Dwi Nugroho menceritakan pengalaman lain, yang mana dengan pekerjaan yan cukup berat bagi mereka itu, mereka hanya diberi makan dua kali yakni pagi dan sore. 

Siswa yang berpraktek di KM Veru Ardhana ini menyebut, waktu makan mereka juga tidak tetap. Yang mana mereka harus bergantian dengan teman-teman lainnya untuk makan.

"Kita kerja satu hari ful itu, nanti pas makan itu baru kita manfaatkan untuk istirahat sebentar. Setelah makan ya kerja lagi jaring ikan, pilih-pilih ikan juga bongkar muatan," ungkapnya.

Galuh mengatakan, mereka tidak mendapatkan jatah untuk makan siang dan malam.

Jika malam hari mereka lapar, mereka harus membuat sendiri makanan. Itupun jika ada makanan yang tersedia.

"Kalau malam kadang bikin mi instan. Kadang juga nasi goreng, tapi itu kita harus sembunyikan nasi dulu," katanya.

Tidak hanya itu, Galuh juga mengaku ada temannya yang mendapatkan tindakan kekerasan karena tidak sengaja menjatuhkan barang didekat ABK yang sedang berbaring.

"Teman saya (Yusuf,Red) posisi lewat terus ada barang yang jatuh, terus teman saya kembalikan ke tempat semula dia lempar tidak sengaja ada ABK yang tiduran. ABK itu samperin Yusuf ditarik kerak baju, dibentak-bentak, dia lempar sendal. Terus dia hampiri pake 'ganco' dikalungkan ke lehernya," jelas Galuh.

Galuh menceritakan, dia dan teman-temannya bisa kabur dari kapal karena pada waktu kapal sandar di Pelabuhan, mereka diperbolehkan untuk keluar kapal. 

Mereka langsung memutuskan untuk melarikan diri dan bersembunyi di sebuah masjid. Kemudian mereka bertemu dengan salah satu pekerja pada pabrik sagu.

"Kan kita di kapal ada 10 orang. Yang kabur duluan enam orang dan empat yang lain masih di kapal. Kita pergi hanya dengan pakaian di badan," ungkapnya.

Mereka kemudian menumpang pada angkutan kota menuju Kota Timika.

Singkat cerita, mereka diantar untuk tinggal sementara di pabrik sagu di Jalan Irigasi, Timika.

Kemudian kejadian tersebut dilaporkan ke pihak Kerukunan Keluarga Jawa Bersatu (KKJB) dan anak-anak tersebut langsung dijemput oleh pihak KKJB.

"Setelah itu teman-teman dari kapal yang lain langsung ikut. Besoknya kita di jemput sama pak Teguh dari KKJB," katanya.

Saat ini, para siswa itu sedang berada di Sekretariat KKJB.

Karena hanya pergi dengan pakaian di badan dan tidak membawa barang, mereka memutuskan untuk kembali ke kapal untuk mengambil barang-barang ditemani Teguh Sukma, yang merupakan Penasehat Hukum KKJB.

"Pertama kesana kita tidak dibolehkan ambil katanya harus ada ijin dari nahkoda. Besoknya pergi lagi baru bisa kita ambil karena nahkodanya sudah ada," kata Andin Mu'tashim siswa yang berpraktek di KM VA.

 

Reporter: Anya Fatma
Editor: Aditra

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar