00
Hari
00
jam
00
Menit
00
Detik
Banner_atas

Siswa Kabur dari Kapal, Begini Tanggapan Satpolairud Polres Mimika

Siswa Kabur dari Kapal, Begini Tanggapan Satpolairud Polres Mimika
Kondisi para siswa saat berada diatas kapal. (Foto: Ist/SP)

TIMIKA | Sebanyak 15 siswa kelas XI dari SMK 1 Temon, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di KM Rafindo Jaya 01 dan Veru Ardhana 2 terpaksa kabur dari kapal karena diperlakukan tidak manusiawi.

Mereka kabur saat kapal sandar di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Poumako, TImika,  Papua pada Selasa (7/1) lalu. 

Kasatpol Airud Polres Mimika, Iptu J. Limbong mengatakan, Ia baru menerima laporan terkait para siswa yang berpraktek dan melarikan diri dari kapal tersebut.

Dalam hal ini, Limbong mengatakan, tidak boleh ada yang membenarkan ataupun menyalahkan salah satu pihak. Karena, Polairud baru mengumpulkan keterangan dari pihak-pihak terkait.

iklan_lokal_dalam_berita

"Saya minta waktu untuk menyelesaikan masalah ini, karena kebetulan saya lagi dinas di luar Timika. Bagaimanapun, kita tidak boleh mengatakan siapa benar siapa salah," katanya saat dikonfirmasi Seputarpapua.com melalui sambungan telepon, Kamis (9/1) malam.

Ia mengaku akan melakukan koordinasi dengan pengurus KKJB agar melaporkan kasus ini secara resmi. Ia juga akan meminta keterangan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi.

"Kalau memang benar-benar hal itu terjadi, adanya intimidasi atau kekerasan baik fisik maupun verbal, akan kita tindaklanjuti. Namun sampai sekarang mereka belum membuat laporan ke kami," ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengkonfirmasi ke pihak kapal jika benar telah terjadi hal-hal yang diakui oleh para siswa, maka mereka akan mencari fakta hukum.

"Kenapa sampai mereka (Siswa-Red) itu nggak betah? Pasti ada sebab akibat," ujarnya.

Lebih lanjut, Limbong mengatakan, sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, siapapun yang merasa tertekan, terintimidasi atau tindak lainnya tentu akan diberikan pelayanan hukum tanpa menyalahkan maupun membenarkan pihak manapun sebelum ada fakta hukum yang berbicara. 

"Kan kami tidak bisa mengatakan kamu benar kami salah. Itu fakta yang akan menyatakan ada kesalahan atau tidak," tuturnya.

"Saya lagi konfirmasi ke anggota tadi, akan lakukan interogasi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Harus berdasarkan fakta, ada bukti-bukti" katanya lagi.

Ia menegaskan, jika benar telah terjadi perlakuan tidak manusiawi tersebut, tidak akan ada pengecualian bagi siapapun pelakunya.

"Kalaupun itu benar, tidak ada pengecualian bagi siapapun. Pelaku akan tetap diproses hukum," ujarnya.

 

Reporter: Anya Fatma
Editor: Batt

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar