Pelajar dan Mahasiswa Asal Puncak Mengaku Terlantar di Kota Studi

Jumat, 17 Jan 2020 22:41 WIT
Mahasiswa asal Kabupaten Puncak memperlihatkan sejumlah barang yang akan dijual untuk membayar sewa rumah. (Foto: Ist/IPMAP)

TIMIKA | Ratusan pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Puncak, Papua, mengaku terlantar di sejumlah kota studi lantaran ketidakjelasan bantuan beasiswa mereka sejak 2019 hingga saat ini.

Mereka yang tergabung dalam organisasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa asal Puncak Papua (IPMAP) telah melayangkan surat kepada Pemerintah Kabupaten Puncak, termasuk Dinas Sosial yang mengurus bantuan beasiswa. 

Ketua Pengurus IPMAP Korwil Salatiga, Jawa Tengah, Amianus Magai kepada SeputarPapua.com, Jumat (17/1), mengatakan bantuan beasiswa, dana pemondokan, dan dana operasional kepada mereka mulai terhambat sejak April 2019. 

"Pemkab Puncak melalui Dinas Sosial tidak menangani kami dengan serius. Kami disini bayar rumah kontrakan pake uang sendiri. Padahal dana itu ada, tetapi tidak direalisasikan untuk pendidikan," katanya. 

Amianus menceritakan kondisi mereka selama 2 tahun terakhir, dimana aktivitas perkuliahan terkatung-katung lantaran bantuan biaya studi dari pemerintah daerah diberikan secara tidak konsisten. 

"Pembayaran tempat tinggal kami tidak tuntas, kami kekurangan sembako, setiap tahun begitu sehingga pendidikan kami terhambat," sebutnya. 

Ia mengatakan, tim Dinas Sosial Puncak sudah turun ke 9 kota studi se-Jawa dan Bali untuk mengumpulkan data-data mahasiswa pada November  2019 lalu. Data tersebut kemudian disetujui Bupati Puncak Willem Wandik. 

Namun pada 16 Desember 2019, Amianus mengaku, hanya sejumlah mahasiswa yang menerima bantuan. Sementara sebagian besar mahasiswa belum mendapatkan kejelasan hingga sudah memasuki 2020 saat ini. 

"Kami 9 pengurus korwil se-Jawa Bali ada bukti data nama-nama mahasiswa yang kami serahkan ke Dinas Sosial, sehingga sekian mahasiswa yang belum dapat kiriman itu dipertanyakan," kata dia.

Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ini mempertanyakan anggaran miliaran rupiah yang dialokasikan untuk pendidikan guna kemajuan generasi Papua, namun nyatanya tidak direalisasi secara tepat sasaran.

"Kami butuh tim dari pemerintah provinsi maupun pusat agar turun menyelidiki dan periksa laporan pemakaian anggaran sekian miliar untuk bidang pendidikan di Kabupaten Puncak," katanya. 

Ia juga minta Kepala Dinas Sosial Kabupaten Puncak Otto Alom yang belakangan mengurus bantuan beasiswa agar bisa dievaluasi karena dinilai tidak serius mengurus tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan padanya. 

"Kami harap ada orang yang bisa bekerja dengan hati, serius, dan melaksanakan tanggung jawabnya secara baik kepada seluruh rakyat di Kabupaten Puncak," kata dia.

Adapun data mahasiswa asal kabupaten Puncak se-Jawa dan Bali yang dikirim Amianus Magai, yaitu di Salatiga 76, Jakarta 51, Surabaya 27, Jogjakarta 70, Semarang 36, Malang 55, Bali 18, Bandung 31, dan Bogor 31 mahasiswa. 

"Dari 9 kota studi ini kebanyakan mahasiswa sempat tidak dapat beasiswa dan dana pemondokan, operasional  buat tempat tinggal. Kami tanggung sendiri," ungkapnya. 


Reporter: Sevianto
Editor: Batt

 

Kategori:
Bagikan