Puluhan Mahasiswa Asal Mimika Kembali ke Kota Studi

Senin, 27 Jan 2020 16:45 WIT
Joni Jangkup

TIMIKA | Sebanyak 45 mahasiswa asal Mimika, Papua yang sebelumnya pulang karena isu rasisme kembali ke kota studi, tepatnya di Salatiga-Semarang, Jawa Tengah, pada Senin (27/1).

Senior Mahasiswa Asal Mimika, Joni Jangkup mengatakan, pihaknya merasa bersyukur, karena sebanyak 45 mahasiswa asal Mimika bisa kembali ke kota studi, pasca isu rasisme lalu dan pulang kembali ke Mimika. 

Walaupun sebenarnya mereka sudah lama ingin kembali ke kota studi, tetapi belum ada kepastian.

Bahkan pada Jumat (24/1) mereka melakukan aksi demo damai, untuk bertemu tim sosialisasi di Pemkab Mimika, namun belum bisa bertemu.

“Kembalinya teman-teman mahasiswa ini, karena usaha dan upaya kami. Yang melakukan lobi-lobi ke beberapa pihak,” kata Joni kepada wartawan di Bandara Mozes Kilangin Timika.

Kata dia, saat ini masih ada sekitar 200 mahasiswa asal Mimika yang berada di posko. Mereka membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah dan LPMAK.

Bentuk perhatian yang diharapkan adalah agar memfasilitasi mereka yang belum bisa kembali ke kota studi.

“Selama ini kami ada di posko. Tapi belum pernah ada perhatian dari pemda dan LPMAK. Padahal kita ini anak emas, yang nantinya meneruskan pembangunan daerah ini,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya berharap teman mereka yang belum bisa kembali ke kota studi untuk difasilitasi. 

Selain itu, tim sosialisasi Pemda Mimika bisa berkoordinasi dengan kampus maupun pemerintah setempat, sehingga para mahasiswa ini bisa kuliah sebagaimana mestinya.

“Kepada teman-teman yang sudah kembali ke kota studi, diharapkan kuliah maupun sekolah dengan baik. Dan kampuns-kampus maupun sekolah tetap menerima dengan baik pula. Karenanya, minta kepada tim sosialisasi koordinasi dengan pihak kampus dan sekolah,” tuturnya.

Meminta Dibangun Universitas Internasional

Sementara Raymon Nirigi yang juga senior mahasiswa asal Mimika mengatakan, kurang lebih enam bulan ini mahasiswa kembali ke kampung halaman di Papua, khususnya Mimika karena masalah isu rasisme.

Walaupun, isu rasisme ini mereka tidak mengetahui ada apa dibalik itu semua. Namun yang jelas, mereka terkena dampak dari isu tersebut.

“Dari isu tersebut, sudah banyak yang menjadi korban bahkan ada yang meninggal dunia, pengangguran, dan menikah,” kata Raymon.

Dari hal itu, dan untuk melawan ketertinggalan, kemiskinan yang ada, maka Raimon dan senior lainnya bertekad dan berupaya agar mahasiswa ini bisa kembali ke kota studi untuk melanjutkan pendidikannya.

“Sejak kami kembali ke Mimika ini, banyak tekanan dan dorongan dari semua pihak agar adik-adik mahasiswa ini kembali ke kota studi. Karenanya, kami berupaya agar adik-adik ini bisa kembali. Dan bersyukur, hari ini 45 mahasiswa sudah bisa kembali,” tuturnya.

Dari semua itu, kata Raymon pihaknya meminta kepada Pemda Mimika, LPMAK, dan PT Freeport Indonesia memperhatikan kondisi ini. Karena para mahasiswa dan pelajar ini adalah generasi penerus pembangunan di daerah.

“Kami minta ke Pemda Mimika, LPMAK, dan PTFI untuk membiayai putra daerah ke sekolah dengan baik. Selain itu, membangun universitas bertaraf internasional. Karena sudah sepatutnya, putra daerah mendapatkan hak pendidikannya,” ungkapnya.

 

Reporter: Mujiono
Editor: Aditra

 

 

Kategori:
Bagikan