Ironis, Sudah Tiga Bulan Murid SD Kwamki Lama Belajar Dilantai

TIMIKA | Sudah tiga bulan murid-murid di SD Inpres Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua belajar dilantai. 

Alih-alih mengadakan kursi dan meja, Dinas Pendidikan setempat justru memberikan karpet sebagai alas untuk para murid belajar di lantai.

Potret ini ditemukan lima anggota DPRD Mimika dari Fraksi Golkar yang melakukan kunjungan kerja di Distrik Kwamki Narama, Kamis (20/2).

Kelima wakil rakyat itu yakni Mariunus Tandiseno, Rizal Patadan, Anton Bukaleng, Mery Pongutan dan Aser Murib.

Sekolah ini sempat tidak melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada 2018 lalu karena terjadi pertikaian antar suku di wilayah itu. Kondisi sekolah juga sebagian sudah rusak seperti kaca jendela yang hancur akibat peristiwa tersebut. 
 
Akibatnya, dalam satu ruangan digunakan oleh dua kelas yakni kelas 3 dan 4. Lebih parahnya lagi, ada juga siswa yang belajar di luar ruangan dengan menggunakan tenda.

Rizal Patadan pada saat itu langsung menanyakan kepada para guru terkait koordinasi antara pihak sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, mengingat kondisi sekolah yang memprihatinkan ini sudah cukup lama tetapi tidak ada perbaikan maupun pengadaan meubeler.

Ia juga mempertanyakan bagaimana para guru mengatur para siswa yang tidak masuk sekolah.

"Apakah guru-guru mendatangi rumah siswa dan lakukan pendekatan dengan orang tua siswa atau bagaiamana," tanya Rizal.

 

alt text

 

Siswa Antusias Ikuti KBM

Meski dalam kondisi memprihatinkan, anggota Fraksi Golkar Mariunus Tandiseno menilai antusias anak-anak di SD Inpres Kwamki Narama mengikuti proses belajar cukup tinggi. 

"Walau hanya beralaskan karpet tetapi antusias anak-anak untuk datang ke sekolah sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa mereka ada niat untuk belajar," ungkapnya.

Ia juga mengusulkan kepada Dinas Pendidikan agar segera memperbaiki sekolah mulai dari bangunan hingga pagar sekolah agar dibuat lebih tinggi.

"Kondisi sekolah maupun pagar juga lainnya harus dikerjakan dengan cepat, apa lagi sekolah ini sudah masuk dalam kota," tutur Marianus.

Katanya, kondisi sekolah seperti itu juga tidak terlepas dari kesadaran orang tua untuk tidak merusak fasilitas sekolah yang telah dibangun karena ini juga untuk masa depan anak-anaknya.

"Dinas kalau mau bisa ajukan dan dewan akan dorong ke perubahan untuk yang urgent seperti kursi dan meja. Ini harus cepat dilaksanakan," katanya.

Tanggapan Pihak Sekolah

Salah satu guru, Theresia Kilangin mengaku selama ini tidak ada bantuan baik meja maupun kursi untuk para siswa dari Dinas Pendidikan. Katanya, untuk alat tulis saja diberikan oleh alumni sekolah itu.

"Yang dinas kasih itu hanya karpet yang saat ini kita pakai," katanya.

Lanjutnya, saat ini yang paling dibutuhkan oleh para guru dan terutama siswa ialah meja dan kursi agar para siswa bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan nyaman.

"Saat ini yang paling kami butuhkan adalah meja dan kursi," harap Theresia.

 

Reporter: Anya Fatma
Editor: Batt

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar