00
Hari
00
jam
00
Menit
00
Detik
Banner_atas

Toko Sinar Sulawesi Bantah Mengoplos Beras

TOKO | Toko Sinar Sulawesi yang berada di Jalan Hasanuddin (Insert: Hj. Patma)

TIMIKA | Pemilik gudang Toko Sinar Sulawesi membantah bahwa pihaknya melakukan pengoplosan beras, seperti yang dilakukan oleh Pelni (Mart) Logistics BUMN.

Pemilik Sinar Sulawesi Hj. Patma mengatakan, Sinar Sulawesi beroperasi di Timika sejak 2015, dan selama ini tidak ada masalah dengan usahanya.

Hal ini dikarenakan dalam menjalankan usahanya sudah melalui prosedur yang ada, serta memiliki surat izin dari pihak-pihak terkait.

“Selama ini, kami tidak ada masalah dalam jalankan usaha. Dan sudah banyak pelanggan yang membeli beras dari Sinar Sulawesi,” kata Patma saat bertandang ke redaksi seputarpapua.com di Jalan Samratulangi, Kota Timika, Papua, Sabtu (14/3).

iklan_lokal_dalam_berita

Menurutnya, selama ini pihaknya mendatangkan beras dari Sulawesi Selatan yang berasal dari Kabupaten Soppeng, Pare-Pare, dan Sidrap. 

Semua beras yang didatangkan itupun sudah berizin.

“Satu kali mendatangkan beras tidak tentu, terkadang lima kontainer. Dimana satu kontainer berisi 24.500 ton,” katanya.

Terkait pergantian karung beras, dijelaskan Patma bahwa Sinar Sulawesi memiliki beberapa merek, seperti Sinar Sulawesi Papua, Mawar Merah Muda, Tiga Mawar, Raja Panda, dan Gunung Lawu.  

Semua merek itu sudah terdaftar serta memiliki izin, dengan berbagai kualitas mulai beras kepala, medium, dan premium.

“Setiap pengiriman beras, kami mendapatkan karung tambahan dan jumlahnya sangat terbatas,” ujarnya.

Setiap kali pengiriman beras itu, lanjut Patma, pihaknya mendapatkan penambahan karung.

Tujuannya, untuk mengganti karung-karung beras yang rusak saat pengiriman.

Mengingat, pengiriman beras diangkut dengan menggunakan kapal laut yang memakan waktu cukup lama.

Disamping itu juga, pihaknya melihat kebutuhan dari masyarakat. 

Dalam arti, apabila masyarakat banyak yang memilih 10 kilogram, maka karung itu yang diperbanyak. Namun tidak mengganti atau merubah kualitas beras yang ada.

“Kami hanya mengganti karung sesuai kebutuhan masyarakat, tanpa mengganti kualitas beras aslinya. Dan tidak pernah membeli beras dari Bulog untuk diisi dalam karung dan dijual,” terangnya.

Menyangkut dengan Pelni (Mart) Logistics BUMN yang membeli karung dari gudang Sinar Sulawesi, Patma tidak mengetahuinya. 

Dia baru mengetahui setelah adanya pemberitaan di media. 

Namun, pihaknya tidak mengetahui karung beras itu dibeli untuk apa, sebab karung beras yang dijual itu sudah tidak terpakai, dan tidak terdaftar. 

Selain itu, penjualan karung beras tidak terpakai bukan hanya pada pihaknya saja, tetapi ada juga di tempat lain di Timika, termasuk di daerah lain di Indonesia. 

Penyediaan karung beras itu karena banyaknya permintaan masyarakat yang mencari karung untuk memuat barang, apakah itu pasir maupun sagu.

“Saya baru tau kalau Pelni (Mart) membeli karung dari kami. Itupun setelah adanya pemberitaan di media. Dan kami menjual karung ini tanpa mengetahui digunakan untuk apa,” terangnya.

Patma menambahkan, apabila penjualan karung tidak terdaftar itu tidak diperbolehkan, maka pihaknya tidak akan menjual lagi.

“Untuk satu karung yang tidak terdaftar, kami jual antara Rp2.000-3.000 perlembar. Dan jumlah yang kami jualpun tidak banyak,” tuturnya.

Sebelumnya, Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Mimika pada Jumat (13/3) melakukan penyegelan terhadap dua gudang beras Toko Sinar Sulawesi yang terletak di Jalan Hasanuddin, Mimika-Papua.

Penyegelan dilakukan sebagai tindaklanjut pengembangan kasus beras oplosan yang ditemukan di gudang Pelni (Mart) Logistics BUMN, salah satu anak perusahaan dari PT Pelni (Persero).

Reporter: Mujiono
Editor: Aditra

 

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar