00
Hari
00
jam
00
Menit
00
Detik
Banner_atas

Pagar Bandara Agimuga Senilai Rp8,5 Miliar Dinilai Bermasalah 

Pagar Bandara Agimuga Senilai Rp8,5 Miliar Dinilai Bermasalah 
Pius Ilimagai

TIMIKA | Tokoh masyarakat Agimuga di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Pius Ilimagai menilai pekerjaan pagar keliling Bandara Agimuga yang ditangani salah satu kontraktor asal Sorong meninggalkan sejumlah permasalahan.

Ditemui wartawan di Timika, Selasa (13/2), Pius mengatakan proyek pembangunan pagar keliling Bandara Agimuga tahun anggaran 2017 menelan anggaran Rp8,5 miliar bersumber dari APBN.

Sejak awal proyek itu dilaksanakan, katanya, sudah ada sejumlah kejanggan yang ditemukan seperti penunjukan kontraktor pemenang lelang tidak transparan.

“Mereka datangkan kontraktor dari Sorong untuk mengerjakan proyek pagar bandara Agimuga. Selama pekerjaan berlangsung, kontraktor tidak pernah menginjakan kaki di Agimuga. Semua pekerjaan diserahkan penuh kepada mandor lapangan yang nota bene merupakan anggota TNI yang bertugas di Koramil Agimuga,” kata Pius.

Ia menengarai penunjukan kontraktor asal Sorong tersebut tidak lepas dari intervensi Kepala Unit Pengelola Bandar Udara (UPBU) Agimuga, Imanuel Bleskadit yang juga berasal dari Sorong.

“Kami tidak tahu persis apakah antara kepala bandara dan kontraktor ada hubungan keluarga atau tidak, tapi yang jelas mereka sama-sama berasal dari Sorong,” titur Pius.

Saat pekerjaan awal dilakukan, pihak mandor lapangan menyuruh masyarakat Agimuga dari tiga kampung yaitu Aramsolki, Amungun dan Kiliarma mengumpulkan material batu untuk pengecoran fondasi pagar bandara.

Namun setelah material batu dikumpulkan oleh masyarakat ternyata tidak semuanya dibayar oleh pengelola proyek.

“Perjanjian awal dengan masyarakat saat itu harga batu satu kubik Rp500 ribu. Kenyataannya tidak diambil semuanya. Akibatnya terjadi pertengkaran hingga perkelahian diantara masyarakat sendiri. Material batu yang belum dibayar masih terutang sekitar Rp300 juta,” jelas Pius.

Selanjutnya saat pengukuran lokasi Bandara Agimuga untuk dibangun pagar keliling, Kepala UPBU Agimuga Imanuel Bleskadit menentukan sendiri batas tanah lokasi bandara tanpa berkoordinasi dengan para tokoh masyarakat setempat.

Landas pacu Bandara Agimuga sendiri memiliki panjang 600 meter, sementara total pagar yang dibangun mencapai lebih dari 1.000 meter.

Pius mengatakan pekerjaan proyek pembuatan pagar Bandara Agimuga diselesaikan pada Desember 2017, namun kualitas pekerjaan tidak seluruhnya baik.

“Kalau di bagian depan kelihatan bagus, tapi di belakang-belakang ada banyak bolong-bolong karena fondasi pagar tidak dicor seluruhnya sehingga ternak masyarakat bebas keluar masuk area bandara,” kata Pius.

Ia meminta pihak Direktorat Jenderal Perhubungan Udara segera mengirim tim ke Agimuga guna mengecek kualitas pekerjaan pagar bandara tersebut.

“Kami juga minta agar kepala bandara (Kepala UPBU Agimuga) segera diganti karena yang bersangkutan tidak pernah berada di Agimuga. Masyarakat Agimuga tidak mau lagi kontraktor tersebut menangani pekerjaan proyek apapun di Distrik Agimuga,” ujar Pius.

Ia berharap agar aparat penegak hukum baik Polres Mimika maupun Kejaksaan Negeri Timika agar dapat mengusut tuntas proyek pagar Bandara Agimuga yang ditengarai merugikan keuangan negara dalam jumlah yang cukup besar.

“Kalau bisa polisi dan kejaksaan mengusut masalah pekerjaan pagar Bandara Agimuga itu biar menjadi pelajaran bagi semua kontraktor agar bertanggung jawab untuk menangani pekerjaan sampai tuntas, bukan asal-asalan saja,” pinta Pius. (rum/Ant/SP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar