Oknum Perwira Brimob Didakwa Dalam Kasus Penembakan Mama Kamoro 

Oknum Perwira Brimob Didakwa Dalam Kasus Penembakan Mama Kamoro 
Suasana sidang kasus penembakan mama Kamoro yang berlangsung di Pengadilan Negeri Timika.

TIMIKA | Inspektur Dua (Ipda) SA, oknum perwira Brimob Polda Kalimantan Timur didakwa akibat kesalahannya menyebabkan mama asal Suku Kamoro, Imakulata Emakuparo (53) tewas tertembak di perairan Pelabuhan Portsite-Cargodock PT Freeport Indonesia, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika pada Sabtu 3 Februari 2018. 

 

Ipda SA yang juga Wakil Kepala Sub Detasemen I Pelopor Brimob Polda Kalimantan Timur didakwa melanggar Pasal 359 KUHP yang menerangkan bahwa “barang siapa karena kesalahannya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun”. 

 

Persidangan terdakwa yang tergabung dalam Satgas Obyek Vital Nasional (Obvitnas) PT Freeport Indonesia, kini telah memasuki agenda pemeriksaan saksi. Sedikitnya delapan orang saksi termasuk suami korban, Titus Onamariyuta, telah dihadirkan dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Kota Timika, Kamis (30/5). 

 

IKLAN-TENGAH-berita

“Delapan saksi sudah diperiksa di persidangan. Sidang akan kembali dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan terdakwa pada Selasa (5/6) pekan depan,” kata Jaksa Penuntut Umum yang juga Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Mimika, Joice E. Mariai. 

 

Joice mengatakan, selama proses persidangan terdakwa SA ditahan di Markas Komando Batalyon B Pelopor Brimob Timika sejak 7 Mei 2018. SA menjabat sebagai Komandan Peleton Penugasan Brimob Kalimantan Timur di wilayah Obvitnas PT Freeport Indonesia di kawasan Portsite Amamapare, Timika. 

 

Pada sidang sebelumnya dengan agenda pembacaan dakwaan disebutkan, bahwa kasus tersebut terjadi pada Sabtu tanggal 3 Februari 2018 sekitar pukul 23.45 WIT di perairan antara Pelabuhan Portsite dan Pelabuhan Cargodock PT Freeport Indonesia, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika. 

 

Awal mula kejadian setelah diduga terjadi pencurian konsentrat emas di pabrik penampungan dan pengeringan milik PT Freeport Indonesia di Porsite. Seorang terduga pelaku pencurian berinisial RN alias Roman berhasil tertangkap. 

 

Terdakwa bersama lima orang saksi terdiri atas anggota Brimob Kaltim, Sat Polair Polres Mimika, Lanal Timika dan Security PT Freeport membawa pelaku RN ke Pelabuhan Cargodock untuk diserahkan ke Polres Mimika. 

 

“Posisi terdakwa berada di bagian belakang speedboat bersama RN. Dalam perjalanan tepat di perairan dekat Kampung Karaka, tiba-tiba RN menceburkan diri ke dalam air. Terdakwa dan saksi lainnya meminta RN naik kembali ke speedboat namun tidak dihiraukan dan justru berteriak meminta tolong,” kata Joice. 

 

Terdakwa kemudian melepaskan tembakan peringatan sebanyak empat kali ke udara menggunakan senjata api laras pendek jenis pistol HS dengan peluru tajam, disusul dua saksi lainnya masing-masing melepaskan tembakan satu kali menggunakan peluru karet dan peluru tajam. 

 

Mendengar teriakan RN, warga setempat dengan menggunakan perahu tradisional (kole-kole) termasuk Titus Onamariyuta bersama korban yang juga adalah istrinya Imakulata Emakeparo, mendekati speedboat yang ditumpangi terdakwa dan berusaha menolong RN sambil melempari speedboat tersebut dengan batu dan kayu. 

 

Terdakwa lalu berusaha menghalau warga dengan tembakan peringatan ke arah air menggunakan senjata api laras panjang jenis AK 101 dengan peluru tajam. Sedangkan saksi lain melepaskan tembakan peringatan ke udara menggunakan peluru karet. 

 

“Bahwa terdakwa patut diduga akibat perbuatan menghalau warga dengan melepaskan tembakan peringatan ke air menyebabkan korban Imakolata Emakuparo meninggal dunia di tempat kejadian setelah terkena peluru tajam pada pelipis kanas tembus kepala bagian belakang,” ungkap Joice. 

 

Luka tembak di kepala korban disimpulkan akibat dari peluru tajam senjata laras panjang jenis AK 101 yang digunakan oleh terdakwa sebagaimana berita acara pemeriksaan Laboratoris Kriminalistik No Lab: 718/BSF/2018 tanggal 15 Februari 2018 di Bareskrim Mabes Polri, pusat laboratorium forensik Polri di Jakarta. 

 

“Atas keterangan saksi kemudian berdasarkan uji forensic Polri, selongsong peluru (tajam) yang ditemukan identik dengan senjata yang digunakan oleh terdakwa,” jelas Joice Mariai. (rum/SP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar