Polisi Bantah Pengusaha Ditangkap Terkait Pencurian Emas di Freeport

Polisi Bantah Pengusaha Ditangkap Terkait Pencurian Emas di Freeport

TIMIKA | Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto, membantah isu penangkapan seorang pengusaha emas lantaran diduga membeli emas hasil curian di pabrik pengeringan (dewatering plant) Portsite Amamapare dan pemotongan pipa konsentrat milik PT Freeport Indonesia. 

 

“Tidak ada kaitannya dengan itu (kasus pencurian pemotongan pipa konsentrat Freeport),” kata Agung Marlianto usai memimpin pembubaran aksi pendulang emas tradisional di Timika, Sabtu (2/6).

 

Kapolres Marlianto memastikan pemilik Toko Emas Rezki Utama yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, Kota Timika itu ditangkap tim Mabes Polri di Makassar lantaran kedapatan membawa emas batangan dalam jumlah banyak tanpa izin. 

 

IKLAN-TENGAH-berita

Pengusaha berinisial H.D tersebut kini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Bareskrim Mabes Polri, kemudian ditahan sementara di Rutan Polda Metro Jaya, di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.

 

“Jadi yang bersangkutan sedang berurusan dengan pihak berwajib karena informasinya membawa emas dalam jumlah cukup besar, emas batangan di Makassar,” kata Marlianto.

 

Penangkapan H.D berujung penutupan Toko Rezki Utama miliknya yang kemudian berimbas tutupnya sejumlah toko emas lainnya di Timika sejak Sabtu (2/6). 

 

Kondisi tersebut membuat para pendulang emas tradisional dari bantaran kali kabur (sungai Ajikwa) area PT Freeport Indonesia mengamuk dan melakukan aksi palang jalan, lantaran kesulitan menjual hasil dulang mereka. 

 

“Jadi aksi (pendulang) ini murni karena yang bersangkutan sedang berurusan dengan hukum, kemudian tokonya ditutup sehingga berimbas kepada tutupnya toko lainnya. Masyarakat menjadi resah, tidak bisa menjual hasil dulang mereka,” jelas Marlianto. 

 

Sempat Tutup Toko Emas

 

Pada awal April 2018 lalu, kepolisian sempat melarang pembelian emas dari warga menyusul maraknya pemotongan pipa konsentrat di jalan tambang dan pencurian konsentrat milik PT Freeport Indonesia di pabrik pengeringan konsentrat di Portsite Amamapare. 

 

Kebijakan tersebut memicu kemarahan para pendulang emas dengan membakar ban di jalan-jalan utama di Kota Timika, Papua selama dua hari beruntun. 

 

Waktu itu, Wakapres Mimika Kompol Arnolis Korowa mengungkap alasan pihak kepolisian menutup tiga toko emas di Timika yang selama ini menerima dan menampung hasil dulangan dari para pendulang tradisional. 

     

“Toko-toko itu yang mengakomodir semua, tidak hanya hasil dulangan dari para pendulang, tetapi juga emas hasil pencurian konsentrat di portsite dan pemotongan pipa konsentrat Freeport yang terjadi di sejumlah titik. Jadi, mereka itu (pemilik toko emas) bisa dikategorikan sebagai penadah,” katanya.

 

Masalah ini kemudian dapat diselesaikan lewat musyawarah dengan para pendulang. Apalagi mengingat ribuan pendulang tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup mereka karena hanya bergantung pada hasil pendulangan. 

 

Para pendulang juga menekankan bahwa tidak semua warga yang menjual butiran emas adalah pencuri. Yang terjadi menurut mereka, justru oknum aparat keamanan sendiri yang kerap membantu pendulang masuk melakukan aktifitas terlarang di area PT Freeport di Tembagapura. (rum/SP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar