Ratusan Korban PHK Freeport Tidur di Depan Kantor Kemnaker

Rabu, 08 Agu 2018 00:37 WIT

TIMIKA | Ratusan karyawan korban PHK "sepihak" oleh manajemen PT Freeport Indonesia bertahan menunggu Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri di depan kantor kementerian tersebut di Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Selasa (7/8) malam. 

Hingga pukul 23.00 WIT mereka masih bertahan dan berencana menginap di depan halaman Kantor Kementerian Ketenagakerjaan. Perwakilan pekerja berkoordinasi dengan pihak kepolisian mengingat mereka juga tidak memiliki tempat tinggal untuk beristirahat.  

"Kami tidak punya tempat tinggal di sini. Jadi kami rencana menginap di depan kantor kementerian. Tapi kalau kepolisian negosiasi untuk tempat (istirahat), nanti kita lihat perkembangannya seperti apa," kata Marten Mote, Koordinator Karyawan Mogok Kerja dari Timika.

 

Baca Juga:

Marten Mote mengatakan, mereka belum ditemui oleh Menaker Hanif Dhakiri setelah melakukan aksi sepanjang hari di depan kantornya. Menaker, katanya, beralasan hari itu tengah sibuk mengikuti kegiatan di Istana Negara. 

"Kami belum sempat ketemu dengan menteri. Kami masih bertahan di depan kantor. Kami sudah serahkan surat permintaan untuk audiensi besok. Tapi kami masih tunggu kabar dari mereka," ujarnya saat dihubungi Seputarpapua dari Timika. 

Menurut Mote, ada sekitar 200an lebih gabungan pekerja korban PHK asal Timika, Jawa Timur, Jawa tengah dan lainnya terpaksa harus tidur seperti "gelandangan" untuk menuntut keadilan kepada Kemnaker yang dianggap berkontribusi besar bagi kesengsaraan ribuan pekerja saat ini. 

"Kami minta menteri selaku pemegang otoritas untuk ketemu agar kami bisa menyampaikan keluh kesah kami. Karena sudah satu tahun lima bulan ini kami diterlantarkan begitu saja, tidak ada kepastian," katanya. 

Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Indra Jafar telah meminta agar massa segera membubarkan diri karena menilai bahwa menurut ketentuan undang-undang, aksi seharusnya sudah dibubarkan pada pukul 18.00.

Meski begitu, Mote menyampaikan bahwa massa bertahan bukan lagi untuk melakukan aksi. Melainkan sekaligus beristirahat lantaran mereka sudah tidak memiliki fasilitas untuk beristirahat di sana. 

"Kita memang tidak ada tempat tinggal jadi kita tidur di sini. Lagipula kita cuma mau tidur saja bukan menggelar aksi, mengenai aksi sudah bubar tadi pukul 18.00 WIB," ujar Mote. 

Diabaikan Pemerintah

Perwakilan korban PHK Freeport yang mayoritas merupakan pekerja asli Papua telah berada di Jakarta sejak Selasa (31/7) lalu. Mereka berangkat dari Timika, Kabupaten Mimika menggunakan kapal laut dengan menempuh perjalan seminggu lebih untuk sampai di Surabaya, Jawa Timur, dari situ mereka bertolak ke Jakarta. 

Sejak seminggu lebih berada di Ibu Kota Negara, perwakilan pekerja telah berdialog dengan para tokoh maupun lembaga keagamaan seperti Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI atau Kawali) hingga kampanye di car free day (CFD) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. 

Karyawan korban PHK melalui kuasa hukumnya dari Lokataru Law and Human Rights Office, Nurkholis Hidayat, menyayangkan sikap pemerintah terutama Menaker Hanif Dhakiri yang selama ini mengabaikan masalah tenaga kerja tersebut hingga telah bertransformasi menjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

“Kami akan berada di Jakarta menuntut keadilan sampai ada tindakan konkrit dari pemerintah, ada respon dari pemerintah dan perusahaan. Saya tidak bisa estimasi waktunya sampai kapan,” kata Nurkholis. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan