Nikmatnya Sagu Tindis Makanan Khas Suku Kamoro

Nikmatnya Sagu Tindis Makanan Khas Suku Kamoro
Mama-mama asal Suku Kamoro saat menunjukan salah satu makanan khas. (Foto: Mujiono/Seputarpapua)

TIMIKA | Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau terbentang luas dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua). Dengan kondisi tersebut, Indonesia memiliki berbagai macam keragaman, baik adat istiadat, budaya, kuliner (makanan).

Seperti di Papua, khususnya di Kabupaten Mimika yang memiliki dua suku besar yaitu Amungme dan Kamoro. Kedua suku ini juga memiliki berbagai macam jenis olahan makanan khas, salah satunya adalah Suku Kamoro. 

Salah satu olahan makanan dari Suku Kamoro adalah Sagu Tindis atau Amamaihi (Bahasa Kamoro).

Sagu Tindis merupakan makanan khas Suku Kamoro yang terbuat dari sagu dan parutan kelapa. Sagu Tindis menjadi makanan sehari-hari masyarakat Suku Kamoro yang mendiami pesisir pantai Mimika.

Bahan sagu sendiri didapatkan dari emplur atau sari pati sagu dari pohon sagu yang banyak tumbuh di Papua, termasuk di Kabupaten Mimika (daerah tempat masyarakat Kamoro bermukim). Pembuatan sagu tindis sendiri cukup sederhana, serta tidak perlu ada bumbu maupun bahan lainnya.

Menurut penuturan Mama Ola Ikikitaro yang ditemui saat Misa Inkulturasi yang digelar Gereja Katolik Paroki St Petrus SP 3, Minggu (12/8) mengatakan, pengolahan Sagu Tindis sangat sederhana. Pertama-tama tepung sagu diberi air kemudian disaring. Selanjutnya, sagu yang telah disaring diendapkan terlebih dahulu, kemudian dimasak dengan ditambahkan kelapa.

“Setelah sagu dicampur dengan kelapa, kemudian dimasak sambil ditindis atau ditekan dengan menggunakan sendok atau spatula. Dan lamanya masak kurang lebih 30 menit,” terangnya.

Rasa dari sagu tindis ini cukup gurih dan enak. Apalagi ditambahkan dengan Karaka (Kepiting) sebagai lauknya.

“Untuk tambahan lauk itu tergantung dari selera dari yang makan. Dalam arti, bisa diganti dengan ikan, daging atau lainnya,” katanya.

Sagu Tindis olahan Mama Ola, pada Misa Inkulturasi dipamerkan kepada para jemaat. Selain itu, masakan ini juga bisa dipamerkan pada saat ada pameran budaya. Sehingga tidak jarang, cukup banyak yang ingin membelinya dan ini menjadi pemasukan tambahan bagi masyarakat. (mjo/SP)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan