Kapolres Apresiasi Perjuangan Karyawan Moker Freeport

Kamis, 04 Okt 2018 22:07 WIT
AKBP Agung Marlianto

TIMIKA | Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto mengapresiasi perjuangan ribuan karyawan mogok kerja di lingkungan PT Freeport Indonesia dan sejumlah perusahaan subkontraktornya setelah mereka dianggap mengundurkan diri secara sukarela oleh perusahaan itu. 

Kapolres Marlianto mengatakan, pihaknya telah melakukan penggalangan dan bertemu Ketua Pimpinan Cabang SPKEP SPSI Kabupaten Mimika Aser Gobai yang memastikan karyawan moker tidak akan melakukan aksi-aksi anarkis dalam memperjuangkan nasib mereka. 

“Ini sangat kita apresiasi terhadap Pak Aser Gobai dan seluruh jajaran eks karyawan Freeport (karyawan moker). Mudah-mudahan ini turut berkontribusi menciptakan situasi kondusif di Mimika,” kata Marlianto, lulusan terbaik Akpol 1998. 

Ia menyayangkan siapapun yang telah menyebar berita bohong (hoax) soal karyawan moker beberapa waktu lalu yang mengandung konten provokasi. Menurutnya, informasi tersebut tentu saja menimbulkan kekhawatiran dan keresahan di masyarakat. 

Marlianto berjanji akan menindak tegas penyebar berita bohong yang disinyalir sengaja memanfaatkan kondisi karyawan moker saat ini dalam perjuangan tanpa kepastian.

“Ini kami akan bekerja keras dan mencari pelakunya untuk kami tindak tegas. Kami sudah ketemu Pak Aser Gobai, beliau memastikan tidak akan ada aksi moker terkait dampak dari komplin beliau di Jakarta ditolak oleh kementerian terkait,” katanya. 

Terhadap penyampaian aspirasi karyawan moker ke depan bila dilakukan, Marlianto memastikan hal itu dijamin dalam undang-undang dan merupakan hak setiap warga negara, selama itu disampaikan secara santun dan menghormati ketertiban umum. 

“Kami tidak boleh membatasi. Mereka menyampaikan pikiran baik secara tulisan maupun secara lisan itu dilindungi undang-undang. Itu wujud rasa demokratis melalui aksi, tapi harus dilakukan dengan aksi damai, menghormati hak-hak masyarakat lain,” pesannya. 

Sekali lagi, Kapolres Marlianto mengimbau para karyawan moker agar tetap berjuang secara damai tanpa merugikan orang lain dan diri sendiri seperti pengalaman yang lalu-lalu. Apalagi tahun ini hingga 2019 merupakan tahun politik sehingga situasi kondusif harus dijaga. 

“Sekecil apapun potensi kerawanan itu kami tindak lanjuti. Termasuk ketika adanya informasi di Gorong-gorong ada massa masuk ke situ, kami langsung melakukan antisipasi. Tapi sekali lagi alhamdulillah itu berita bohong,” ujarnya. 

Adapun dampak sosial yang ditimbulkan akibat kisruh berkepanjangan antara manajemen Freeport dengan para pekerjanya itu, dilaporkan terdapat 34 karyawan moker yang telah meninggal dunia.

Para karyawan moker Freeport bersama keluarganya tidak bisa lagi mengakses fasilitas kesehatan melalui BPJS Kesehatan. Tidak sedikit pula karyawan moker yang terusir dari rumah kontrakan di Kota Timika dan menjual berbagai aset milik mereka untuk bisa bertahan hidup. Sebagian lagi kini telah kembali ke kampung halaman masing-masing.

Guna memperjuangan nasib mereka melawan kebijakan manajemen PT Freeport, ribuan karyawan moker Freeport dan perusahaan subkontraktornya itu kini telah memberikan kuasa kepada kantor hukum dan HAM, Lokataru. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan