BPD Siapkan Fasilitas Kredit Bagi Pedagang Papua di Asmat

Minggu, 07 Okt 2018 17:33 WIT
Pelayanan di Bank Papua Cabang Asmat (Foto: Eman/SP)

ASMAT | Bank Pembangunan Daerah (BPD) Papua Cabang Agats, Kabupaten Asmat memprogramkan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemberian fasilitas kredit kepada Mama-mama pedagang orang asli Papua di kabupaten tersebut.

Pemimpin Cabang BPD Agats Anas Nasuhi mengatakan manajemen Bank Papua menyiapkan kredit mikro bagi pelaku usaha kecil orang asli Papua dengan mengembangkan pola Grameen Bank. Program tersebut telah berjalan beberapa tahun terakhir di Asmat.

“Kami melakukan pembinaan dan pendampingan kepada pelaku usaha. Salah satunya menyiapkan fasilitas kredit untuk Mama-mama pedagang Papua melalui program Grameen Bank,” kata Anas di Agats, Sabtu (6/10).

Anas mengatakan telah ada beberapa kelompok usaha yang dibentuk, salah satunya kelompok usaha sayur-sayuran di Kampung Akat, Distrik Agats. Kelompok tersebut dibina, didampingi dan diberikan modal melalui kredit secara bertahap.

“Umumnya kelompok yang kami bina dan damping itu bergerak di usaha perkebunan sayur, salah satunya di Akat. Selain memberikan kredit, kami juga membantu mereka dalam hal pemasarannya,” kata Anas.

Dia menjelaskan program Grameen Bank menerapkan konsep pembiayaan kelompok (group lending). Artinya para calon nasabah yang mengajukan pembiayaan akan digabungkan ke dalam sebuah kelompok sehigga mempermudah proses pencairan kredit bersangkutan.

Melalui program tersebut, BPD tidak sebatas memberikan kredit. Tetapi menurunkan staf khusus untuk melakukan supervisi, sosialisasi, pertemuan dan pembinaan secara berkelanjutan terhadap kelompok-kelompok usaha.

“Program ini bukan hanya menyalurkan modal, tapi ada pembinaan secara berkesinambungan sehingga usaha mereka bisa berkembang. Ada staf khusus yang menangani program ini,” katanya.

Untuk tahap awal, tambah Anas, pihaknya memberikan kredit sebesar Rp3000.000 kepada setiap anggota kelompok. Jika ada kemajuan usaha, maka akan dinaikkan secara bertahap.

“Batasnya untuk tiap kelompok itu sepuluh juta rupiah. Sekarang mereka sudah punya buku tabungan sendiri, dan tiap minggu aktif menabung,” ujarnya. (NT/SP)

Kategori:
Bagikan