Wartawan Timika Sikapi Sejumlah Persoalan di HPN 2019

Sabtu, 09 Feb 2019 16:03 WIT
Sejumlah wartawan Timika saat menggelar aksi solidaritas memperingati HPN 2019. (Foto: Ist/SP)

TIMIKA | Peringati Hari Pers Nasional 2019, sejumlah wartawan yang bertugas di Kabupaten Mimika, Papua menyikapi sejumlah persoalan yang terjadi kepada wartawan dari tahun ke tahun. 

"Bertepatan dengan HPN 2019, kami Wartawan Timika masih memberikan perhatian terhadap sejumlah persoalan dasar yang selalu menjadi sorotan dari tahun ke tahun," kata Jeremias Rahadat wartawan Antara mewakili jurnalis Timika dalam aksi solidaritas memperingati HPN 2019, di Timika, Sabtu (9/2/2019).

Dijelaskan, persoalan kekerasan terhadap wartawan baik kekerasan verbal, psikis maupun fisik yang berujung pada kematian adalah sebagai bentuk pencederaan terhadap salah satu pilar demokrasi.

Wartawan rentan dengan kekerasan, bahkan bisa menjadi "makanan" setiap hari khususnya kekerasan verbal. 

Masih ada pejabat pemerintah yang karena merasa diri sebagai pejabat sesuka hati mencaci maki wartawan. 

"Contoh kasus pembunuhan terhadap wartawan di Bali, bahkan pembunuhnya diberikan remisi yang menurut kami tidak adil," kata dia. 

Selain itu, persoalan kesejahteraan wartawan. Hal tersebut bukan saja berkaitan dengan upah yang tidak sesuai dengan UMK atau UMP.

Melainkan kesejahteraan lain berkaitan dengan kewajiban perusahaan yaitu, mendaftarkan pekerja pers untuk memperoleh jaminan sosial ketenagakerjaan maupun jaminan sosial kesehatan. 

"Banyak wartawan di Papua yang tidak diberikan perlindungan tersebut," ujar dia. 
  
Tak hanya itu, persoalan kepastian sebagai pegawai tetap perusahaan pers. Boleh dibilang kontributor media nasional di daerah, Papua terutama adalah pegawai tidak tetap yang terancam bisa diberhentikan sewaktu-waktu. 

Wartawan Timika juga menyoroti persoalan keterbukaan informasi publik. Dimana masih ada sejumlah instansi pemerintah yang tidak terbuka bahkan sangat tertutup terkait informasi publik yang penting diketahui masyarakat. 

Di HPN 2019, wartawan Timika juga bertekad untuk melawan hoaks, sebab berita hoaks menjadi musuh bersama negeri ini yang bisa menyebabkan perpecahan dalam masyarakat. 

Untuk itu, masyarakat sebagai konsumen informasi dapat bijak memilah informasi yang diterima termasuk melalui media sosial. 

"Pada HPN 2019, kami wartawan dari ujung Timur Nusantara hanya berharap agar profesi wartawan mendapat porsi yang sama dengan profesi yang lain," kata dia. 

"Kami hanya bisa berdoa agar Tuhan mengetuk hati para pemangku kepentingan sehingga pekerja pers di Nusantara menjadi lebih baik lagi," pungkas Jeremias mengakhiri. (Ipa/SP)

Kategori:
Bagikan