Jokowi: Banyak Orang Jadi Wartawan Medsos Lalu Ciptakan Kegaduhan

Minggu, 10 Feb 2019 21:18 WIT
Presiden Joko Widodo membuka puncak peringatan Hari Pers Nasional 2019 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (9/2)

SURABAYA | Presiden Joko Widodo mengatakan, ada banyak orang seolah menjadi wartawan di media sosial dengan menyebarkan berbagai berita bohong yang kemudian menimbulkan kegaduhan dan ketakutan.

"Di era digital dan pesatnya media sosial, masyarakat disajikan berlimpahnya informasi oleh setiap orang yang bisa menjadi wartawan, bisa menjadi pemred, bahkan menciptakan kegaduhan, ada pula yang menciptakan ketakutan," kata Jokowi dalam puncak peringatan Hari Pers Nasional 2019 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (9/2).

Sejalan dengan ekspansi internet, kata Jokowi, perkembangan media sosial melaju sangat cepat. Dimana pengguna internet di Indonesia saat ini sudah mencapai 143,26 juta jiwa atau 54,68 persen dari total populasi.

Dari total pengguna internet tersebut, 87,13 persen mengakses layanan media sosial.

"Yang viral di media sosial terkadang menjadi rujukan, dan bahkan menjadi rujukan media-media konvensional," ujarnya. 

Namun demikian, lanjut Jokowi, menurut survei Edelman Trust Barometer pada 2018, kepercayaan masyarakat kepada media konvensional atau media arus utama tercatat masih tinggi daripada media sosial. 

Dimana pada 2016, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media konvensional sebesar 59 persen, sementara media sosial angkanya hanya 45 persen.

Kemudian pada 2017, media konvensional angkanya 58 persen dibanding media sosial 42 persen. Dan pada 2018, media konvensional 63 persen dibanding 40 persen media sosial. 

"Semakin ke sini, masyarakat semakin tidak percaya kepada media sosial. Saya sungguh bergembira dengan kondisi ini, sangat gembira," kata Presiden. 

Jokowi berharap media arus utama tetap menjadi rumah penjernih dengan tetap melakukan verifikasi dan terhadap fakta dan kebenaran.

"Media arus utama sangat dibutuhkan sebagai penjernih, dibutuhkan untuk menyajikan informasi yang terverifikasi. Media arus utama dibutuhkan untuk menyampaikan kebenaran dan mengungkap fakta," katanya.

Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019, Presiden Joko Widodo menerima penghargaan bintang tertinggi tentang Kemerdekaan Pers. Penghargaan ini diserahkan oleh Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, karena dinilai sudah menjamin kebebasan pers, dan kepedulian terhadap perkembangan pers nasional.

Kemudian, Anugerah Kepedulian kategori swasta diraih Tomy Winata (Pemilik Artha Graha Group) dan Imam Sudjarwo (Dirut PT Indosiar Visual Mandiri)

Anugerah Kepedulian kategori Instansi Pemerintah diraih Menteri BUMN Rini Soemarno sebagai 'Menteri BUMN Peduli Pers' dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebagai 'Menteri Perhubungan Peduli Pers'.

Penghargaan Warta Bakti Utama diraih Oesman Sapta (Ketua DPD RI), Anugrah Perintis Pers diraih Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat) 'Untuk penerapan kompetensi dan sertifikasi wartawan di instansi pemerintah'. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan