Dandim Jayawijaya: Guru-guru Trauma dan Takut Kembali ke Nduga

Senin, 11 Feb 2019 21:52 WIT
Ilustrasi

WAMENA | Dandim 1702/Jayawijaya, Papua, Letkol Inf Candra Dianto mengatakan sejumlah tenaga pengajar yang sebelumnya bertugas di beberapa sekolah di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua tidak mau kembali ke tempat tugas.

Dandim dalam rilis di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Senin (11/2), mengatakan guru-guru yang kini berada di luar Nduga itu trauma akibat penyanderaan, pemerkosaan serta ancaman dari Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB).

"Sehingga para tenaga pengajar atau guru tidak mau kembali ke sekolah masing-masing," katanya.

Ia mengatakan beberapa sekolah yang berada di wilayah operasi KKSB sama sekali tidak berjalan, dan menyebabkan sejumlah guru, masyarakat, termasuk anak-anak sekolah mengungsi ke Kabupaten Jayawijaya.

"Sebagai pendatang merasa trauma dan ketakutan. Yang lebih fatal dari kejadian tersebut adalah tidak adanya proses belajar mengajar hingga saat ini di wilayah tersebut. Siswa siswi SD hingga SMA yang merupakan generasi penerus bangsa tidak dapat mengenyam pendidikan," katanya.

Ia mengaku telah membangun koordinasi dengan pemerintah Nduga agar siswa dan siswi yang datang ke Jayawijaya, bisa segera kembali dan melanjutkan pendidikan di Kabupaten Nduga.

"Saya sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat agar siswa-siswi yang berdatangan ke Wamena seluruhnya dapat melanjutkan sekolah di Kenenyam yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nduga," katanya.

Hingga kini ada sekitar 320 orang anak Nduga yang berada di Kabupaten Jayawijaya dan bersekolah di sekolah darurat yang berada di halaman gedung gereja di Elekma, Jayawijaya.

"Seluruh siswa-siswi yang mengenyam pendidikan di Wamena, mereka tinggal di rumah sanak keluarganya yang sebagian besar berada di Kampung Elekma. Hal ini disebakan pasca kejadian penyanderaan, pemerkosaan serta ancaman dari KKSB," katanya. (Antara/rum/SP)

Kategori:
Bagikan