Pabrik Miras Lokal Digrebek, Polisi Selamatkan 450 Jiwa di Mimika

Senin, 11 Mar 2019 16:53 WIT
Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto, Kasat Narkoba Iptu Laurensius Kordiali dan Kasat Reskrim AKP I Gusti Agung Ananta, saat menunjukan barang bukti miras lokal, saat konfrensi pers, Senin (11/3). (Foto: Mujiono/SP)

TIMIKA | Satuan Reskrim Narkoba Polres Mimika berhasil menggrebek pabrik pembuatan minuman keras lokal jenis sopi di Kota Timika. 

Pabrik miras lokal milik YL, OD, dan MN yang ditemukan polisi ini berada di hutan belakang Kantor Pertanian KM 7, pada Rabu (6/3) lalu. 

"Ketiganya diamankan di dua lokasi berbeda," kata Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto, didampingi Kasat Narkoba Iptu Laurensius Kordiali dan Kasat Reskrim AKP I Gusti Agung Ananta, dalam konfrensi persnya, Senin (11/3) di Kantor Pelayanan Polres Mimika. 

Tersangka YL dan OD, tertangkap tangan sedang memproduksi miral lokal di hutan belakang Kantor Pertanian KM 7. Sedangkan tersangka MN merupakan seorang perempuan ini ditangkap  di lokasi stadion SP1. 

Ketiganya ini memiliki peran yang berbeda. YL dan OD, memiliki peran sebagai pembuat miras. Sementara MN memiliki peran sebagai penyuplai bahan-bahan pembuatan miras dan juga mengedarkan hasil miras tersebut. 

"Sementara ada satu yang masih buron yakni IM," ujar AKBP Agung. 

Dari lokasi pabrik, polisi berhasil mengamankan empat drum dan delapan jiregen ukurun lima liter berisikan miras lokal yang siap diedarkan, dengan total keseluruhan 640 liter. 

Dengan jumlah tersebut, AKBP Agung mengatakan, pihaknya dapat menyelamatkan sekitar 400-450 jiwa. Sebab, bila miras tersebut berhasil diedarkan maka sangat mengancam keselamatan masyarakat.

"Untuk semua barang bukti itu dimusnahkan di tempat. Kecuali delapan jiregen ini sebagai barang bukti untuk proses hukum," tutur AKBP Agung. 

Para tersangka mengakui bila praktik pembuatan miras lokal ini sudah dilakukan sejak Desember 2018 lalu. Untuk modalnya, ketiganya ini patungan.

Setiap kali pembuatan miras lokal ketiganya mengeluarkan modal sebesar Rp6 juta dengan keuntungan yang bisa diraih sebesar Rp24 juta perbulan. 

"Hasilnya ini mereka bagi tiga," ujar AKBP Agung. 

AKBP Agung menegaskan, ketiganya dijerat dengan pasal berlapis sebagai bukti komitmen Kepolisan untuk memerangi miras, sebab miras merupakan pintu gerbang masuknya kejahatan lainnya.

Ketiganya kini dijerat dengan tindak pidana kejahatan yang mendapatkan bahaya bagi keamanan umum manusia dan barang. Tindak pidana perlindungan konsumen dan tindak pidana pangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 204 ayat (1) KUHP dan atau pasal 62 ayat (1) Pasal 8 ayat (1) UU RI No. 08 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan atau Pasal 140 UU RI No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

Adapun Pasal 204 ayat (1) KUHPidana berbunyi, 'barang siapa menjual, menawarkan, menyerahkan atau membagi- bagikan barang yang diketahuinya membahayakan nyawa arau kesehatan orang, padahal sipatnya berbahaya itu tidak diberitahu, diancam dengan pidana paling lama 15 (lima belas) tahun'. 

Pasal 62 ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 8 ayat (1) UU RI No. 08 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen berbunyi, 'pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa atau jangka waktu penggunaan / pemanfaatan yang baik atas barang tersebut dan tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama barang, ukuran berat / isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha, serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang / dibuat'. 

Pasal 140 UU RI No. 18 Tahun 2012 tentang pangan berbunyi, 'setiap orang yang menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan dan / atau peredaran pangan yang tidak memenuhi persyaratan sanitasi pangan pidana penjara paling lama 2 (dua) Tahun atau denda paling banyak 4.000.000.000,-(Empat miliar rupiah)'.

“Kami sudah konsekwensi dan tidak memberikan ampun terhadap masalah ini,” pungkas AKBP Agung.(Ipa/SP)

Kategori:
Bagikan