Imigrasi Mimika Deportasi 12 WNA Asal China dan Korea Selatan

Rabu, 13 Mar 2019 12:27 WIT
WNA asal China dan Korea Selatan dideportasi setelah melakukan penambangan ilegal di Nabire. (Foto: Sevianto/SP)

TIMIKA | Kantor Imigrasi Kelas II TPI Mimika, Papua, mendeportasi 12 Warga Negara Asing (WNA) yang sebelumnya melakukan tindak pidana keimigrasian tentang penyalahgunaan izin tinggal. 

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Mimika, Jesaja Samuel Enock, memimpin langsung
proses pendeportasian ke-12 WNA tersebut untuk dipulangkan ke negara masing-masing melalui Bandara Mozes Kilangin Timika menuju Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Rabu (13/3). 

Mereka dipidana melanggar pasal 122 huruf (a) UU RI No 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, sebagai penambang emas ilegal di Kabupaten Nabire dan divonis bersalah sesuai putusan Pengadilan Negeri Nabire No. 100 - 102/Pid.Sus/2018/PN.Nab tertanggal 12 Desember 2018.

"Para WNA ini telah menjalani hukuman selama 5 bulan dan 15 hari dan denda Rp 10.000.000," kata Jesaja Samuel Enock. 

Adapun ke-12 WNA tersebut dengan rincian 11 orang warga negara China atas nama Wu Jiming, Wu Jiang, Li Shihong, Li Changfu, Li Yuling, Luo Yubing, Tang Gang, Ouyang Weishan, Gong Xiaojun, Wu Xiaoming, Yang Enlong, dan satu orang warga negara Korea Selatan, Go Seong Yong.

Pendeportasian dilakukan setelah 12 WNA selesai menjalani hukuman pada Senin 11 Maret 2019, sesuai surat lepas dari Lapas Nabire Nomor W30.EH.PK.01.01.01-208 – 219, dan telah diserahterimakan dari Lapas Nabire kepada Kantor Imigrasi Kelas II TPI Mimika pada hari yang sama.

"Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka Kantor Imigrasi Kelas II TPI Mimika melakukan pendeportasian ke negara asalnya melalui TPI Bandara Internasional Soekarno Hatta, dan nama yang bersangkutan dimasukkan ke dalam daftar Penangkalan," katanya. 

Sebelumnya Kantor Imigrasi Mimika melakukan penangkapan 21 WNA terdiri dari 16 WNA China, 4 WNA Jepang dan satu WNA Korea Selatan, yang ditemukan melakukan penambangan emas ilegal di wilayah Kampung Mosairo dan Lagari, Distrik Makime, Nabire, pada Juni 2018 lalu. 

Namun 9 WNA lainnya kini masih menjalani sisa hukuman karena mendapat pemberatan hukuman lantaran memalsukan tempat tinggal terbatas di Indonesia dan perusahaan yang memfasilitasi mereka.

"Mereka akan dideportasi setelah masa hukuman selesai. Masa hukuman ke-9 WNA ini rata-rata satu tahun lebih," jelas Enock. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan