Polsek Dalami Keterlibatan Fb dan S Dalam Kasus Voucher Belanja Hero

Senin, 01 Apr 2019 18:08 WIT
Kapolsek Tembagapura AKP Hermanto

TIMIKA | Polsek Tembagapura masih mendalami pemeriksaan terhadap Fb dan S yang diduga terlibat dalam kasus dugaan penggelapan voucher belanja Hero.

Kapolsek Tembagapura, AKP Hermanto mengatakan, kasus tersebut saat ini sudah masuk tahap P21.

“Kasus ini sudah P21 dan selanjutnya sudah menjadi kewenangan dari JPU,” kata AKP Hermanto saat ditemui di Graha Eme Neme Yauware, Senin (1/4).

Menyangkut adanya permintaan dari JPU untuk memeriksa lebih dalam dua orang yang diduga juga ikut terlibat, kata Kapolsek, pihaknya sudah menindaklanjuti apa yang disampaikan JPU dengan memeriksa Fb dan S.

“Apakah ada indikasi keterlibatan, kami belum bisa mengatakan, karena masih dalam pemeriksaan,” terangnya.

Pihaknya akan menyampaikan perkembangan penyidikan ke Kapolres Mimika. “Karena ini bukan hanya perkara individu, tapi juga menyangkut masalah manajemen,”ujarnya.

Pada 28 Desember 2018 lalu,  WAD yang sudah ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan penggelapan voucher belanja mendapatkan perintah untuk mengambil voucher belanja Hero senilai 13 miliar. Voucher ini diperuntukkan bagi karyawan underground Freeport dan kontraktor.

Setelah mengambil voucher belanja tersebut, WAD membawanya ke Kantor Office Building (OB) untuk disimpan. Namun pada tanggal yang sama, WAD menyerahkan voucher tersebut ke tiga orang, yakni FB, NG, dan S. Padahal belum ada perintah untuk membagikan kepada karyawan.

Kemudian, saat hendak dilakukan pendistribusian voucher belanja, pimpinannya mendapati ada kekurangan. Sehingga WAD dilaporkan dan diproses oleh penyidik Polsek Tembagapura.

Menyangkut alasan WAD menyerahkan voucher belanja Hero ke beberapa orang tersebut untuk membayar hutang, seperti NG, diserahkan voucher senilai 100 juta. Hutang WAD kepada NG sendiri sebesar Rp58 juta. Setelah mendapatkan voucher belanja, NG keeseokan harinya cuti. Namun NG tidak mengetahui, kalau yang diserahkan adalah voucher.

NG baru mengetahui bahwa itu voucher setelah kembali dari curi dan memeriksa kembali apa yang diserahkan oleh WAD. Mengetahui kalau itu voucher, NG pun mengembalikannya ke perusahaan dan dilanjutkan ke Kepolisian.

Sementara untuk FB, penyerahan voucher belanja peertama senilai 10 juta untuk membayar hutang sebesar Rp10 juta. Kemudian, menerima kembali voucher senilai 20 juta untuk pembayaran hutang sebesar Rp8 juta. 

Selanjutnya WAD menyerahkan kembali voucher senilai 150 juta, untuk membayar hutang sebesar Rp44 juta. Namun setelah dilakukan pemotongan terhadap hutang, WAD menyerahkan voucher ke FB senilai 61 juta. 

Sedangkan terhadap S, WAD menyerahkan voucher belanja senilai 100 juta, tapi hanya dibayar Rp80 juta. Sedangkan pada 4 Januari 2019 diserahkan kembali voucher Rp50 juta, dan S menyerahkan uang hanya Rp40 juta. Selanjutnya, pada 14 Januari 2019, WAD kembali menyerahkan voucher senilai 100 juta, dan S membayarnya dengan uang sebesar Rp80 juta. 

Dari kasus ini 8 oang saksi sudah diperiksa, termasuk atasan WAD langsung, teman saat mengambil voucher, termasuk tiga orang penerima voucher.

Atas kasus ini, WAD dikenakan pasal 374 KUHP “Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan karena ada hubungan kerja atau karena pencarian atau karena mendapat upah untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun”. 


Sementara dari informasi yang didapat dari sumber terpercaya menerangkan bahwa WAD sudah resign dari PTFI sejak 20 Februari 2019.(mkr/SP)

Kategori:
Bagikan