Ini Dugaan Penyebab Matinya Ikan Paus Bryde di Perairan Timika

Rabu, 03 Apr 2019 19:40 WIT
Warga ketika melihat ikan paus yang terdampar di pesisir pantai Kampung Mimika Pantai, Selasa (2/4).

TIMIKA | Bangkai ikan paus jenis bryde yang terdampar dipesisir Kampung Timika Pantai, Distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika, Papua diduga terjerat oleh jaring di laut.


Koordinator Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Mimika, Hariyadi Nugroho mengatakan, pihaknya telah melihat langsung ikan Paus naas itu. 


Saat turun ke lapangan, PSDKP didampingi Satpolairud Polres Mimika dan Polda Papua. Setelah berkoordinasi, masyarakat setempat meminta agar ikan Paus tersebut dijauhkan dari pemukiman kampung. 


“Dari permintaan tersebut, kami sudah lakukan untuk memindahkan bangkai ikan untuk dijauhkan dari kampung,” kata Hariadi saat dihubungi melalui teleponnya, Rabu (3/4).


Ia menjelaskan, untuk penanganan terhadap bangkai hewan yang sudah mati ini ada dua cara,  yaitu dikubur atau ditenggelamkan di laut. Namun untuk dikubur, kita ketahui daerah tersebut berpasir, sehingga susah untuk dilakukan penggalian. Ditambah berat dari ikan tersebut lebih dari 1 ton.


Sementara untuk penenggalaman di dalam laut, harus membutuhkan beban yang mencapai 2-3 kali dari berat ikan tersebut.


“Dari kondisi tersebut, maka untuk sementara kami pindahkan jauh dari kampung, agar tidak mengganggu masyarakat,” katanya.


Ia mengatakan, untuk masalah pemindahan sudah dilakukan dengan menggunakan kapal Polairud. Ini tujuannya, selain menjauhkan dari wilayah perkampung, juga menghindari adanya gas beracun yang muncul dari tubuh ikan tersebut.


Lanjutnya, yang dimaksud gas beracun adalah, karena ikan itu sudah mati, maka terjadi proses pembusukan didalam tubuhnya. Oleh karena itu akan muncul gas-gas beracun, seperti H2SO4 (asam sulfat), NaCl (natrium klorida), dan lainnya. 


“Selain itu, akan akan muncul bakteri. Sehingga udara yang ada akan mengembang ditambah panas matahari. Dan saat mencapai puncaknya akan meledak, dan yang keluar ada gas beracun. Apabila terhirup orang, akan menjadi keracunan. Karenanya, kami pindahkan dari perkampungan,” jelasnya.


Menyangkut indikasi apa, sehingga ikan itu terdampar. Hariyadi menjelaskan, kemungkinan terjerat jaring. Karena saat ditemukan, orang yang menemukan mengatakan dibadannya terkena jaring di laut. Dan ikan itu tidak bisa bergerak, sehingga hanyut terbawa arus laut.
 

“Kami berkesimpulan kalau ikan tersebut terbelit oleh potongan jaring yang ada di laut. Karena, kami tidak menemukan ada indikasi keracunan. Karena di badannya tidak ada tanda-tandanya. Dan ikan tersebut tidak tersesar ke pesisir pantai,” terangnya.


Apalagi jenis ikan paus bryde ini memiliki sifat migrasi. Dan habitatnya untuk di Indonesia ada di laut arafura dan sekitarnya. 


“Kalau kita lihat dipeta ada jalur migrasi ikan tersebut, mulai wilayah Indonesia sampai ke Amerika latin. Dan mereka lebih kepada arah tengah-tengah laut,” ujarnya.


Langkah selanjutnya, kita sudah merencanakan dan akan berkoordinasi dengan Dinas Perikanan Mimika untuk menyiapkan pemberat yang beratnya sekitar dua ton.


“Pemberat dua ton bukan secara utuh, tapi akan dipecah kebeberapa ratus kilogram. Kalau secara utuh, maka sangat keberatan,” tuturnya.(mkr/SP)

Kategori:
Bagikan