Bisnis Sewa Modem, Ancaman Baru Bagi Perusahaan Provider

Selasa, 09 Apr 2019 12:18 WIT
Ilustrasi

JAKARTA | Industri telco beberapa tahun ini tengah mengalami kelesuan. Banyak dari perusahaan telco besar termasuk Telkomsel hingga Indosat masih mengalami kerugian. 


Masa suram dari industri telco dimulai ketika berkembangnya aplikasi. Dengan adanya aplikasi komunikasi untuk pesan, telepon hingga panggilan video membuat perusahaan telco kehilangan pemasukan dari pulsa. Apalagi selama ini perusahaan telco sangat bergantung dari pemasukan panggilan pulsa dan SMS.


"Pasar telekomunikasi di sektor ritel atau end user consumer tahun 2018 kemarin memang lesu. Menurut BPS sektor komunikasi dan informasi hanya tumbuh 7.04% di 2018 melambat dalam 4 tahun terakhir. 

 

alt text


Pasar smartphone juga mulai jenuh dengan penetrasi 133% (wearesocial Jan 2019). Artinya jumlah smartphone sudah melampaui total populasi Indonesia," kata Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira.


Kini industri telco mulai mendapatkan ancaman baru yakni perusahaan penyewaan modem ke luar negeri. Sejak muncul di 2016, pemain di industri ini semakin banyak.


Coba saja ketik sewa modem ke luar negeri di mesin pencari Google, pasti muncul deretan situs penyewaan modem.


Salah satu pemain yang sudah berkembang cukup masif adalah PT Yelooo Integra Datanet Tbk alias Passpod. Umur perusahaan ini baru 2 tahun, tapi sudah bisa mejeng di pasar modal.


Saat berdiri di 2016 di bulan keempat saja sudah mengantongi omset Rp 100 jutaan. Sekarang perusahaan bisa mengantongi omset sekitar Rp 1,5-3 miliar per bulan.


Bahkan pernah Passpod berhenti menawarkan modemnya bukan karena gulung tikar tapi karena modemnya yang berjumlah 2 ribu perangkat habis disewa semua bersamaan. Itu terjadi pada Desember 2017.


Melihat potensi yang luar biasa, perusahaan terus menambah jumlah modemnya hingga kini ada sekitar 11 ribu modem. Pada saat IPO Passpod berhasil mengumpulkan hampir Rp501 miliar, dari target perolehan dana Rp48 miliar. Uang itu salah satunya digunakan untuk pengembangan bisnis.


Menurut Hiro industri penyewaan modem wifi memiliki potensi yang luar biasa seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat kekinian yang lebih gemar plesiran. Apalagi pertumbuhan masyarakat kelas menengah saat ini begitu tinggi.


"Size-nya besar banget, bayangkan dalam satu tahun ada 8,2 juta orang yang ke luar negeri dari Indonesia. Itu pasar yang luar biasa," tutupnya.

 

alt text


Potensi perkembangan bisnis sewa modem juga di dukung dengan gaya hidup milenial saat ini. Ibaratnya generasi ini lebih mementingkan melepas penat dengan jalan-jalan dan rela berhemat di pos pengeluaran lainnya.


Sakina Rakhma Diah Setiawan misalnya, wanita berusia 29 tahun ini dalam setahun bisa 3-4 kali melancong ke luar negeri. Dalam tripnya yang terakhir ke Taiwan dia memanfaatkan modem wifi. 


Sakinah mengaku baru pertama kali menggunakan jasa sewa modem wifi untuk ke luar negeri. Biasanya dia menggunakan paket roaming ataupun membeli SIM card baru.


Menurutnya sewa modem wifi memiliki beberapa keunggulan. Misalnya, kuota yang tak terbatas dan masa beterai yang tahan lama. 


Baginya internet dianggap sebagai salah satu modal paling penting saat melancong ke luar negeri. Dia membutuhkan akses internet untuk mencari informasi tentang perjalanan maupun tujuan wisata yang hendak dia sambangi. 


Apalagi dia sangat gemar traveling seorang diri, jadi internet satu-satunya teman sekaligus pemandu baginya. 


Di luar itu, internet merupakan bahan utama bagi dia untuk update di Instagram. Foto ditempat tujuan wisata ibaratnya menjadi oleh-oleh wajib bagi setiap pelancong saat ini.


Ada juga Suci Sarasina yang gemar melancong ke luar negeri bersama teman-temannya. Dalam setahun dia bisa 2 kali pergi ke luar negeri, meski hanya sebatas Asia Tenggara.


Sejak 2017 Suci mengaku lebih memilih modem wifi ketimbang paket roaming ataupun SIM Card. Alasannya karena 1 perangkat bisa dipakai bersama teman-temannya. Baik Sakinah maupun Suci memiliki pemasukan sekitar Rp 7-8 juta per bulan.


Namun tidak semua milenial yang gemar travelling ke luar negeri memilih untuk menggunakan modem wifi. Sapto (28 tahun) misalnya, dia lebih memilih menggunakan paket roaming. 


Alasannya membeli paket jauh lebih simpel, tak perlu ribet menenteng perangkat modem. Dia juga khawatir modemnya sewaannya hilang. Selain itu faktor harga juga menjadi alasannya. (Batt/SP


Artikel ini telah tayang di detik.com dengan judul "Bisnis Sewa Modem, Ancaman Baru Bagi Perusahaan Provider"

Kategori:
Bagikan