Kapolres Mimika Pastikan Tidak Ada "Kebocoran" Logistik Pemilu 

Jumat, 12 Apr 2019 19:16 WIT
AKBP Agung Marlianto

TIMIKA | Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto memastikan logistik pemilu untuk Pilpres dan Pileg 2019 hingga kini dalam pengawasan ketat tiga unsur, KPU, Bawaslu dan pihak keamanan.


"Kami jamin tidak ada manipulasi terhadap logistik pemilu. Kalau pun ada "kebocoran", tolong dilaporkan dan akan kami tindak tegas," kata Marlianto di Timika, Jumat (12/4). 


Marlianto mengatakan, logistik pemilu dipastikan aman di Gedung Eme Neme Yauware yang selalu digunakan sebagai pusat logistik pemilu, termasuk pada pemilu serentak 2019 di Kabupaten Mimika. 


Ia menerangkan, pihak yang tidak berkepentingan sama sekali tidak diperbolehkan masuk ke tempat penampungan logistik pemilu. 


"Sekalipun pihak penyelenggara pemilu, harus ada tiga unsur yaitu pengamanan, KPU dan Bawaslu. Logistik diamankan dengan tiga gembok, dan kuncinya dipegang masing-masing tiga unsur tersebut. Ini semata-mata untuk memastikan keamanan logistik pemilu," tutur Marlianto. 


Distribusi Logistik

AKBP Agung Marlianto menegaskan, pergeseran logistik pemilu harus melibatkan tiga unsur, yaitu pihak keamanan, KPU dan Bawaslu atau kedua penyelenggara di tingkat bawah. 


"Pada saat nanti bergeser, tidak boleh ada logistik pemilu berjalan sendiri. Artinya tiga unsur itu harus selalu melekat," tandasnya. 


Peraih Adhi Makayasa 1998 ini menjelaskan, distribusi logistik memperhatikan antaralain fakfor keamanan. Beberapa distrik di wilayah dataran tinggi diindikasikan terdapat ancaman kelompok kriminal bersenjata (KKB). 


Kedua, faktor penyebaran masyarakat (demografi). Penyebaran paling banyak yang dikhawatirkan menimbulkan potensi penyimpangan, yaitu Distrik Mimika Baru, Wania, Iwaka, dan Kwamki Narama. 


"Karena berdasarkan pengalaman dari pemilu yang sebelumnya, sumber masalah ada di tiga distrik ini," kata Marlianto. 


Ketiga, faktor geografis yaitu jarak tempuh, dan memperhatikan cuaca serta medan seperti pasang surut air laut untuk wilayah pesisir pantai, dan kondisi cuaca untuk wilayah pegunungan yang dijangkau melalui jalur udara. 


Pergeseran logistik untuk wilayah terjauh dan dengan berbagai pertimbangan khusus, akan dilakukan pada H-3. Ini didahului dengan pergeseran pasukan pengamanan pada H-4. 


"Pasukan dulu masuk, dijamin disitu semua aman, kemudian besoknya atau H-3 itu pergeseran logistik untuk wilayah terjauh," katanya. 


Sedangkan untuk wilayah terdekat dan diindikasi dapat menimbulkan kerawanan, pergeseran logistik pemilu akan dilakukan pada hari H pukul 03.00 dini hari dari gedung Eme Neme Yauware.  


"Pertimbangan kita, semakin lama logistik pemilu disimpan dari lokasi yang jauh dari pengamatan secara ketat, maka potensi terhadap penyimpangan semakin tinggi. Kita belajar dari pemilu yang lalu, itu bahkan ada kotak suara yang dibawa lari oleh oknum KPPS maupun saksi tertentu, ada juga yang diambil alih lalu dicoblos sendiri," ungkap Marlianto. 


Penambahan pasukan

Polres Mimika mendapat bantuan 66 personel dari Polda Papua. Bantuan personel yang rencananya tiba pada H-2 ini akan ditempatkan di TPS yang ada di wilayah kota dan sekitarnya.  


"Jadi rekan-rekan dari Polres Mimika harus rela untuk ditempatkan di daerah terjauh, pelosok. Karena kita yakin mereka yang lebih tahu medannya," katanya. 


Secara keseluruhan, Polres Mimika kini didukung 912 personel yang akan diterjunkan melakukan pengamanan di seluruh TPS. 


"Tapi itu tentatif dalam eskalasi keamanan hijau atau aman saat ini. Ketika nanti ada eskalasi meningkat, sudah ada Satuan Brimob dan TNI yang akan membackup," jelasnya. 


Ia menambahkan, unsur yang terdepan melakukan pengamanan TPS adalah Linmas, yang ditunjuk di bawah pembinaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). 


"Kita kepolisian sebenarnya hanya supporting system dalam pengamanan pemilu. Harusnya yang dikedepankan adalah Linmas, unsur dari masyarakat yang ditunjuk dalam pembinaan Kasatpol PP," pungkasnya. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan