Minggu Palma dan Pemimpin yang Dirindukan Rakyat

Senin, 15 Apr 2019 10:05 WIT

KUPANG | Minggu (14/4) merupakan peringatan Minggu Palma bagi gereja Katolik. Dalam tradisi gereja Katolik, Minggu Palma dikenang umat Katolik sedunia sebagai peristiwa masuknya Yesus Kristus ke Kota Yerusalem.

Masuknya Yesus Kristus ke Kota Yerusalem dinilai sebagai hal yang sangat istimewa, karena terjadi sebelum kematian-Nya dan bangkit pada hari ketiga yang dikenang umat Kristiani sedunia sebagai Hari Raya Paskah.

Itulah sebabnya Minggu Palma dalam tradisi gereja Katolik disebut sebagai pembuka pekan suci. Dalam liturgi Minggu Palem, umat dibagikan daun palem, dan ruang gereja pun dipenuhi dengan ornamen palem.

Dalam tradisi gereja Katolik, simbol daun palem merupakan simbol dari kemenangan martir atas kematian. Martir sering digambarkan dengan daun palem sebagai instrumen dari kesyahidan.

Yesus Kristus sering kali menunjukkan hubungan daun palem sebagai simbol kemenangan atas dosa dan kematian, yang diasosiasikan dengan kejayaan-Nya saat memasuki Kota Yerusalem.

Daun palem memiliki warna hijau, khas tumbuh-tumbuhan musim semi. Oleh karena itu, simbol kemenangan dari kehidupan atas kematian, menjadi sebuah campuran dari kuning dan biru sebagai lambang amal dan registrasi dari pekerjaan jiwa yang baik.

Saat Minggu Palma, umat melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi, sebagai simbol untuk menyatakan keikutsertaan umat bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem, Kota Allah, di mana ada kedamaian yang tumbuh di sana.

Pada Minggu Palma, gereja tidak hanya mengenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem melainkan juga mengenang akan kesengsaraan Yesus.

Oleh karena itu, Minggu Palma juga disebut sebagai Minggu Sengsara. Dalam tradisi gereja Katolik, setelah umat melakukan prosesi daun palem (melambai-lambaikan daun palem), umat akan mendengarkan pembacaan kisah-kisah sengsara Yesus yang diambil dari Injil.

Memang kisah-kisah ini akan dibacakan ulang dalam liturgi Jumat Agung tetapi pemaknaannya berbeda. Pembacaan kisah sengsara Yesus dalam liturgi Minggu Palma dimaksudkan agar umat mengerti bahwa kemuliaan Yesus bukan hanya terletak pada kejayaan-Nya memasuki Yerusalem melainkan pada peristiwa kematian-Nya di kayu salib.

Daun palem ini membawa arti ke arah simbol Kristen, sebagai sebuah bentuk pernyataan kemenangan martir atas kematian. Dan, setiap agama pasti memiliki tradisi yang berbeda-beda dalam memperingati setiap hari peringatan.

Gereja Katolik juga demikian. Ada perayaan Natal (kelahiran Kristus) dan Paskah (kebangkitan). Salah satu hari peringatan Kristen yang paling dikenal adalah Paskah.

Seluruh umat merayakan kemenangan Yesus atas maut yang dimulai dari Minggu Palma sebagai pembuka awal pekan suci. “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya.“

“Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya,” demikian sejumlah kisah dalam kitab suci yang digambarkan oleh para penginjil.

Memilih pemimpin

Kisah masuknya Yesus ke Kota Yerusalem yang kemudian dikenang sebagai Minggu Palma itu juga dilakukan oleh dua pasangan calon presiden Indonesia, masing-masing paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin dan paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Ketika pasangan calon presiden ini memasuki sebuah kota saat berlangsungnya kampanye, ribuan pendukungnya selalu mengelu-elukan dengan mengibarkan bendera partai pendukung sebagai simbol kemenangan. Hal ini tampaknya nyata ketika dua pasangan calon presiden menggelar kampanye pamungkas di Gelora Bung Karno Senayan Jakarta.

Pada Minggu Palma, Zakharia, seorang Yahudi menyampaikan nubuat kepada umat untuk bersorak-sorai saat melihat kedatangan Yesus. Dan itulah yang kemudian terjadi saat Yesus masuk ke Kota Yerusalem. Orang-orang mengelukan-Nya. Pujian dan kehormatan bagi Yesus inilah yang membuat seluruh kota Yerusalem menjadi gempar.

Banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari sebuah pohon yang sering sekali dijumpai sehari-hari. Di negara tropis seperti Indonesia ini, banyak sekali jenis dari pohon. Mulai dari pohon yag memiliki kayu tidak terlalu lunak seperti sengon (Parasesianthes falcataria) sampai pohon yang kayunya sangat kuat seperti kayu ulin (zwgeri).

Selain manfaat kayu yang memang bernilai ekonomis tinggi, juga banyak sekali pelajaran kehidupan yang bisa dicontoh dari pohon-pohon tersebut, karena memiliki keunikan masing-masing, mulai dari akar yang tersembunyi di dalam tanah sampai pucuk yang berada di tempat tertinggi.

Akar menjadi penyuplai bahan-bahan organik yang tergantung dalam tanah, menyerap air, dan yang terpenting adalah menjadi penopang agar pohon tersebut tidak roboh. Begitulah sikap akar, ia bekerja maksimal walaupun tidak ada yang menilai.

Ia tidak pernah merasa dirugikan dengan hal tersebut, meski tidak ada yang memujinya, ia tetap memperlihatkan etos kerja yang tinggi sehingga pohon itu tetap saja berdiri.

Terkadang, orang menilai prestasi seseorang hanya dilihat dari tampilan luarnya saja, padahal dibalik kesuksesan tersebut, senantiasa ada orang yang mendukung prestasi tersebut,

Di balik kesuksesan organisasi non-profit yang ada, ada orang-orang yang tidak menampakkan dirinya, namun dia memiliki peran dalam kesuksesan perusahaan.

Dalam hidup dan kehidupan, manusia membutuhkan penopang yang kuat. Jika diibaratkan akar maka hal itu merupakan pondasi hidup berupa iman, maka batang adalah aktivitas manusia.

Manusia yang bermanfaat umumnya lahir dari amal yang kokoh. Dengan amalnya, ia memberikan manfaat yang banyak. Hal ini diibaratkan batang pohon yang kuat, besar, tekstur tinggi, dan awet yang menghasilkan kayu dengan kualitas tinggi.

Daun juga berfungsi sebagai mahkota pelindung dengan kerindangannya, dan juga dengan daya serapnya sehingga daun dapat menyerap berbagai macam gas termasuk gas beracun. Daun memiliki karakter pelindung, peneduh, dan mengubah hal yang berbahaya menjadi hal bermanfaat.

Orang berkarakter seperti ini, sangat dibutuhkan oleh orang lain dan merupakan contoh ideal seorang pemimpin. Pemimpin mempunyai peran pelindung saat melihat rakyatnya dilanda masalah dan selalu memberikan solusi dikala ada sesuatu permasalahan yang dihadapi.

Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, telah menunjukkan kapasitas sebagai calon presiden yang mumpuni untuk periode 2019-2024, yang mereka tunjukkan saat debat terakhir di Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (13/4) malam.

Tinggal rakyat yang akan menjatuhkan pilihannya pada saat pelaksanaan pemilu serentak 17 April 2019. Siapa pun yang menjadi pemimpin yang telah memberikan kesegaran, perlindungan, dan semangat kepada rakyatnya, ia tetap dirasakan bermanfaat oleh rakyatnya.(Antara/SP)

Kategori:
Bagikan