PGI Kecam Serangan Bom Tewaskan Ratusan Orang di Sri Lanka

Senin, 22 Apr 2019 17:03 WIT
Serangan Bom saat ibadah Paskah di salah satu gereja di Sri Lanka, Minggu (21/4). (Foto: Ist/Instagram)

JAKARTA | Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengecam serangan bom beruntun yang menyebabkan lebih dari 250 orang tewas dan 450 orang terluka di Sri Lanka pada Minggu (21/4), saat umat Kristen negara itu merayakan Paskah.

"Saya mengecam pelaku peristiwa ini, siapa dan dari kelompok manapun itu," kata Sekretaris Utama PGI Pendeta Gomar Gultom kepada Antara di Jakarta, Senin (22/4).

Gomar mengatakan semua tindakan kekerasan yang menebarkan teror, kebencian, dan permusuhan, apalagi yang berakhir dengan pembunuhan, bertentangan dengan ajaran agama manapun.

"Peristiwa seperti ini lagi-lagi mengingatkan kita untuk tidak pernah mentolerir segala bentuk intoleransi dan kekerasan," katanya.

Ia menekankan bahwa tindak kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, hanya akan menimbulkan lingkaran kekerasan baru.

"Oleh karena itu, saya mengimbau seluruh komunitas dunia untuk mengedepankan peradaban yang mengedepankan dialog dan nilai-nilai kemanusiaan," ujarnya.

Menurut warta harian yang dikelola pemerintah setempat, Daily News, terjadi enam ledakan pada Minggu pagi dan dua lagi pada Minggu siang di dalam dan luar ibu kota Sri Lanka, Kolombo.

Ledakan di antaranya terjadi di Gereja St. Anthony di Kochchikade, Gereja St. Sebastian di Negombo dan Gereja Zion di Batticaloa, serta tiga hotel di pusat Kolombo.

PBNU: ini Kejahatan Sangat Keji

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan tragedi bom di Sri Lanka merupakan kejahatan kemanusiaan yang sangat keji karena telah menelan korban ratusan korban jiwa, termasuk anak-anak dan perempuan.

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin, mengecam segala bentuk dan tindak kekerasan, termasuk di dalamnya perilaku menyerang pihak-pihak yang dianggap berbeda.

Dia mengatakan prinsip kemaslahatan umat manusia seharusnya berupa menjaga agama, jiwa, keluarga, harta dan martabat. Kelima prinsip tersebut merupakan prinsip utama yang harus ditegakkan dimanapun bumi dipijak. Tragedi bom itu sendiri bertentangan dengan prinsip Maqaasid Syariah tersebut.

Perilaku kekerasan bukan merupakan ciri Islam yang 'rahmatan lil 'alamin, tegas dia.

Islam, tambahnya sangat menghargai perdamaian, kebebasan dan toleransi. Maka, tindakan pengeboman itu sangat bertolak belakang dengan Islam.

Dalam kesempatan tersebut, Helmy mendorong pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah diplomatis dan ikut andil dalam upaya menciptakan perdamaian di Sri Lanka.

Upaya itu, kata dia penting dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab internasional yaitu turut berperan dalam usaha menciptakan perdamaian dan keamanan dunia.

Sekjen PBNU juga mendesak PBB untuk berinisiatif melakukan investigasi pelaku agar tercipta suatu keadaan yang kondusif di Sri Lanka serta agar tumbuh kembali sebagai negara yang berdaulat yang mensejehterahkan rakyat.

Dia juga mengajak masyarakat Internasional untuk bersama-sama menggalang bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Sri Lanka. (Antara/rum/SP)

Kategori:
Bagikan