Mereka Sang “Pahlawan Pemilu”

Rabu, 24 Apr 2019 14:11 WIT
Personel TNI-Polri yang bertugas amankan Pemilu di Distrik Alama

TIMIKA | “Kalau boleh memilih, saya tentu menginginkan menjaga TPS di dalam kota saja. Tetapi karena perintah, sebagai aparat negara yang disumpah, saya harus jalani”

Itulah sepenggal kalimat yang diutarakan Brigadir Donny Stenly Makasahe, anggota Kepolisian Mimika yang sehari-hari bertugas pada Satuan Reserse Narkoba Polres Mimika. Kepada jurnalis seputarpapua.com, Donny bercerita banyak soal tugas pengamanan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Pemilu 2019 ini.

Ia tampak kelelahan. Meskipun gerakan tubuh saat berbincang seperti orang sehat pada umumnya, tapi isyarat matanya menunjukan berbeda. Yang sama hanyalah senyum manisnya seperti orang Papua lainnya. 

 

alt text

Penyelenggara Pemilu sedang mengangkat kotak suara yang di simpan di sebuah sekolah

 

Donny kebetulan mendapat perintah untuk mengamankan jalannya pelaksanaan pemungutan suara di 9 TPS yang ada di Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Papua. Ia tidak sendiri, bersama 21 rekannya yang terdiri dari 12 anggota Polres Mimika, 7 anggota Brimob Yon B Timika dan 2 anggota TNI juga mendapat perintah yang sama.

Di lokasi inilah mereka harus bertaruh nyawa melaksanakan tugasnya. Donny dan rekan-rekan ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat melakukan pengamanan pemungutan suara di salah satu distrik yang berada di dataran tinggi Kabupaten Mimika itu. Kelompok ini kerap kali menyuarakan akan mengacaukan pelaksanaan Pemilu di Papua. 

“Saya mendapat tugas pengamanan TPS itu dua hari sebelum berangkat. Perasaan biasa saja karena memang sudah sering mendapat penugasan seperti ini,” ungkap Donny.

Pagi itu, Minggu 14 April 2019, cuaca di Timika cukup baik sehingga memungkinkan keberangkatan Donny dan rekan-rekannya. Cuaca menjadi faktor utama karena letak Distrik Alama yang berada diketinggian sehingga keberangkatan sangat bergantung pada kondisi cuaca pada saat itu. 

Kurang lebih 45 menit perjalanan dari Bandara Mozes Kilangin, Donny dan rekan-rekannya tiba di Distrik Alama sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Helikopter yang mengangkut mereka mendarat mulus di Lapangan Terbang Alama. Dingin sudah pasti dirasakan, tapi semangat melaksanakan tugas negara tidak pernah surut.

Sebagai daerah yang baru, Donny dan personel lainnya harus mencari informasi tentang kondisi Alama, baik dari jumlah penduduk, jumlah kampung, kebiasaan masyarakat setempat, hingga acaman dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). 

“Sebelum berangkat, kapolres berpesan untuk selalu waspada karena Distrik Alama termasuk daerah yang dianggap memiliki potensi gangguan terhadap pelaksanaan pemilu. Itu yang selalu kami ingat sehingga segala tindakan yang kami lakukan harus terukur,” tutur Donny. 

“Ketika disana, kami berbaur bersama masyarakat. Apa yang kami makan kami juga bagikan kepada mereka. Seperti beras, ikan kaleng dan lain sebagainya. Kami tiba hari Minggu, sementara pelaksanaan pemilu hari Rabu, jadi waktu menunggu itu kami gunakan untuk mendekatkan diri kepada masyarakat,” pungkasnya.

 

alt text

Aparat keamanan sedang bermain Voli bersama masyarakat dua hari sebelum hari pencoblosan

 

Donny menuturkan, mereka menggunakan salah satu ruangan di SD Alama sebagai tempat tidur. Terdapat empat ruangkan kelas. Tidak ada aktifitas belajar mengajar karena libur nasional pemilu dan paskah. 

Ia menambahkan, masyarakat setempat juga begitu antusias menyambut kedatangan mereka. Begitu pula ketika hari pencoblosan tiba. Diawali dengan bakar batu, masyarakat mulai menggunakan hak pilihnya. Waktu pencoblosan juga berjalan seperti biasa. 

Distrik Alama memiliki 9 kampung. Untuk itu, TPS yang disiapkan juga sebanyak 9 TPS. Karena kampung-kampung tersebut saling berjauhan, sehingga diputuskan TPS dibangun di sekitar sekolah dan bandara. Aparat kampung dan tokoh masyarakat kemudian memanggil masyarakat untuk datang menggunakan hak politiknya. 

“Kami bersyukur semua berjalan aman dan lancar. Meski ada beberapa warga yang datang menunjukan gelagat yang berbeda, tapi kami selalu waspada,” turur Donny.
 
Cerita berbeda pada keesokan harinya, Kamis 18 April 2018. Situasi yang begitu hangat dengan masyarakat Alama berbalik 180 derajat. Sekitar pukul 09.00 WIT, Helikopter yang digunakan untuk menjemput tim pengamanan dan logistik pemilu harus kembali ke Timika karena terdengar bunyi tembakan dari arah bandara.  

“Kami sudah senang karena Helikopter sudah datang untuk jemput kami dan logistik pemilu. Tapi tiba-tiba terdengar bunyi tembakan beberapa kali. Kami langsung lari bersembunyi. Ada yang tiarap di bawah sekolah. Ada di dalam kelas. Helikopter juga terpaksa kembali ke Timika karena situasi tidak aman,” ujarnya.

Bangunan SD Alama memiliki konstruksi panggung. Sehingga cela antara tanah dan lantai sekolah dijadikan tempat persembunyian. Untuk mengantisipasi KKB mendekat, tim gabungan pengamanan melepaskan tembakan ke arah sebelah bandara dimana suara tembakan berasal.

Suasana pagi itu begitu tegang. Donny tidak menyangka bakal terjadi persitiwa ini. Meski demikian, satu hal yang membuat mereka tenang adalah pembelaan masyarakat setempat. Dengan menggunakan bahasa tradisional, masyarakat berbicara agar tim pengamanan tidak diganggu. 

“Sejak penembakan tersebut, sekitar 7 jam kami tiarap dan bersembunyi sambil menunggu komunikasi dengan Polres dan Polda untuk penjemputan kembali. Kebetulan tidak jauh dari sekolah ada rumah masyarakat yang punya Radio SSB. Satu hal yang saya pikir waktu itu adalah keluarga. Saya yakin rekan-rekan yang lain juga sama,” ujar Donny.

Ia menceritakan, sepanjang menunggu penjemputan untuk keduakalinya, posisi siaga tidak pernah berubah. Pandangan terus kedepan, namun sesekali melihat ke arah rekan-rekan yang lain. 

“Setelah komunikasi dengan polres. Akhirnya dua helikopter datang untuk menjemput kami. Dipimpin langsung oleh Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto. Jadi heli yang satu mendarat evakuasi dulu. Kemudian yang satu berjaga diatas udara. Begitu sebaliknya. Tidak semua bisa naik, 7 anggota Brimob harus tunggu lagi jemputan berikutnya setelah kami dievakuasi,” ujarnya.

Untuk menudahkan proses evakuasi, seluruh tim pengamanan dievakuasi ke Distrik Agimuga. Ikut dalam evakuasi tersebut sejumlah petugas KPPS dan Panwas. Logostik Pemilu yang dibawa juga hanyalah Form C1 karena kapasitas dan konsisi keamanan karena harus bergerak cepat sehingga kotak suara dan dokumen lainya tidak dibawa. 

Donny mengatakan, setelah tiba di Agimuga, satu helikopter diinstruksikan kembali ke Distrik Alama untuk mengevakuasi 7 personil Brimob tersisa. Setelah itu, mereka bergabung dengan rekan-rekan lainnya untuk bersama-sama kembali ke Timika pada hari itu juga. 

 

alt text

Brigpol Donny Stenly Makasahe, Personel Polres Mimika

 

Cerita Donny ini adalah sepenggal kisah dari sekian banyak kisah personel TNI – Polri dalam melaksanakan tugas negara pada Pemilu 2019 ini. Meninggalkan keluarga tentu itu yang paling berat dirasakan. Perjuangan untuk memastikan pelaksanaan agenda nasional itu berjalan aman dan lancar berada dipundak mereka. 

“Saya hanya merasa sedih dengan sejumlah komentar miring dari masyarakat yang bilang tidak ada penembakan. Tidak papa, biar saya, teman-teman dan Tuhan yang tau. Kami bukan datang untuk sakiti masyarakat, bikin kacau atau apa. Kami datang karena tugas negara. Sebagai aparat itu tidak bisa ditawar-tawar. Suka tidak suka harus tetap jalani,” tutup Donny. 

Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mencatat sebanyak 15 personel kepolisian meninggal dunia usai bertugas melaksanaan pengamanan Pemilu 2019. Sebagian besar diduga karena kelelahan. 

Akibat peristiwa ini Mabes Polri menginstruksikan jajarannya untuk mengecek kesehatan fisik anggota. Tak lupa juga mengkonsumsi vitamin untuk meningkatkan stamina bila perlu. 

Selain personil kepolisian, lebih dari 90 anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) juga harus meregang nyawa karena agenda lima tahunan ini. Sejarah akan mencatat, inilah pemilu yang paling banyak memakan korban sejak reformasi. Dan berharap pada Pemilu 2024 mendatang hal ini tidak terulang lagi. Sudah sepantasnyalah mereka disematkan sebagai “Pahlawan Pemilu”. (Batt/SP)

 

 

Kategori:
Bagikan