Mimika Penyumbang 20 Persen Kasus Malaria Nasional

Rabu, 24 Apr 2019 21:12 WIT
Penanggung jawab program malaria, Samson Manao. (Foto: Hadija Laisouw/SP)

TIMIKA | Kabupaten Mimika merupakan daerah High Endemis Malaria di Indonesia. Jumlah penderita malaria setiap tahun lebih dari 100.000 kasus dalam dua tahun terahir dan menyumbang 20 persen dari kasus malaria Nasional. 

Dari data Dinas Kesehatan Mimika angka kesakitan malaria mencapai 39.8 persen pada tahun 2017. Tertinggi dari 10 besar kesakitan disemua layanan jumlah kasus malaria tahun 2017-2018.

Penanggung Jawab Program Malaria Samson Manao, mengatakan walaupun pada tahun 2019 angka kesakitan malaria menurun tetapi dalam angka Annual Parasite Incident (API) masih terbilang tinggi 

"Dibandingkan dengan tahun 2018 angka kesakitan malaria sudah menurun kurang lebih 31 persen lebih, tapi tetap saja masih tinggi baik dalam angka kasus maupun dalam angka API," ucap Samson kepada wartawan di Kantor Dinas Kesehatan Mimika, Rabu (24/4) 

Ia mengatakan bahwa pada tahun 2018 sebanyak 432 permil sementara pada tahun 2019 menurun menjadi 294 permil dari kasusnya ,dan target kita kedepan harus lebih turun dari itu. 

"Sesuai dengan target nasional API-nya harus dibawah 100 persen sementara kita di Mimika masih diatas 100 persen," tambah Samson

Samson menjelaskan untuk target eliminasi malaria secara nasional itu pada tahun 2030

"Untuk target eliminasi malaria secara Nasional itu pada tahun 2030, tetapi untuk Papua itu tahun 2026. Dan khusus untuk PON 2020 ditargetkan harus dibawah 100 persen," imbuh Samson

Samson juga menambahkab bahwa dengan angka progres sekarang diatas 200 persen, Dinkes akan berusaha dengan beberapa strategi yang melibatkan mitra-mitra dan lintas sektor yang ada di Kabupaten Mimika agar tahun 2020 minimal harus dibawah 100 persen. 

Untuk percepatan eliminasi malaria menyambut PON 2020 nanti, Dinkes Mimika memiliki visi pengendalian malaria berbasis kampung, yaitu menciptakan kampung bebas malaria melalui tiga fokus 

"Dimana tiga fokusnya itu adalah Temukan, Obati Pantau (TOP), kampanye penggunaan kelambu dan gerakan masyarakat untuk kebersihan lingkungan dan pengendalian vektor," ungkap Samson.

Terkait visi Dinkes tersebut, sudah dilakukannya pelatihan kader sebanyak 72 orang yang nantinya bertuga caranya menemukan secara dini kasus di lapangan.

"Selain itu juga fungsi dari kader-kader ini adalah untuk melakukan pendampingan minum obat secara tuntas terhadap pasien malaria," kata Samson

Karena berdasarkan data Dinkes, tipe malaria paling tinggi pada kabupaten Mimika adalah malaria Tertiana yang mana untuk pengobatannya harus minum obat selama 14 hari. Sementara  diketahui bahwa banyak pasien yang berhenti minum obat setelah merasa dirinya sudah mulai kuat, tetapi tidak menyadari bahwa parasitnya bisa tersimpan dalam hati sehingga kapanpun bisa kambuh. 

"Seperti sekarang sudah adanya kasus tanpa gejalah, jadi tidak ada gejalah-gejalah malaria tetapi saat kita melakukan pemeriksaan bisa saja positif  terinfeksi malaria. Dan inilah yang menjadi masalah dalam lingkungan," tambah Samson

Samson juga menyebutkan bahwa wilayah puskesmas yang masih terbilang angka kesakitan malaria masih tinggi, yakni 10 puskesmas dalam kota menyumbang 80 persen kasus sedangkan 8 puskesmas wilayah pantai dan 5 puskesmas wilayah gunung itu hanya menyumbang 20 persen kasus malaria. 

Sehingga Kabupaten Mimika masih tetap tergolong High Endemis atau Endemis tinggi. (Cr-2/SP)

Kategori:
Bagikan