Dua Karyawan Hero Tembagapura Bersaksi di Sidang Penggelapan Voucher

Kamis, 25 Apr 2019 19:34 WIT
Persidangan kasus penggelapan voucher Hero di PT Freeport Indonesia dengan agenda mendengar keterangan saksi. (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Dua karyawan PT. Hero Supermarket di Tembagapura, Mimika Papua, dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan penggelapan voucher dengan terdakwa WAD, Kamis (25/4). 

Dua saksi tersebut atasnama Sunandar dan Wiwik. Sunandar dihadirkan karena membeli voucher senilai Rp250 juta dari terdakwa WAD. Sedangkan Wiwik adalah karyawan Hero yang menyerahkan voucher belanja Hero senilai Rp13 miliar kepada WAD.

Sunandar dalam keterangannya mengatakan, dirinya membeli voucher dari Winar sebanyak tiga kali, yakni pada 28 Desember 2018 sebanyak 1000 lembar dengan nilai total Rp100 juta, namun dibelinya dengan harga Rp80 juta.

Selanjutnya, pada 1 Januari 2019 kembali membeli voucher Hero dari WAD sebanyak 500 lembar dengan nilai Rp50 juta, namun hanya dibayar Rp40 juta. Terakhir pada 14 Januari 2019, membeli lagi 1000 lembar dengan nilai Rp100 juta, namun hanya dibayar Rp80 juta.

“Awal membeli voucher ini, karena Winar (terdakwa) mengatakan bahwa ada titipan voucher untuk diuangkan. Dari pembelian voucher tersebut, saya mendapatkan keuntungan Rp50 juta,” terangnya.

Setelah membeli voucher, kata Sunandar, untuk pembelian pertama dirinya menjualnya kembali kepada saudara Zainal 500 lembar dan selebihnya dijual kepada karyawan lainnya. 

“Begitu juga dengan pembelian yang kedua dan ketiga, juga menjualnya kepada Zainal dan selebihnya dijual kepada karyawan di shoping family,” ujarnya.

Ketika Ketua Majelis Hakim, Relly D Behuku menanyakan apakah voucher Hero dari terdakwa WAD dengan jumlah begitu banyak diperbolehkan untuk diperjualbelikan, Sunandar menjawab tidak mengetahui.

Namun, Sunandar langsung meralat jawabannya setelah dibacakan berita acara pemeriksaan (BAP) bahwa dirinya sebenarnya mengetahui jika voucher tidak untuk diperjualbelikan. 

Dimana voucher tersebut merupakan hadiah dari PTFI kepada karyawan dan tidak bisa diperjualbelikan. Kecuali kalau sudah diberikan kepada karyawan, namun tentu saja dalam jumlah yang kecil. 

“Seharusnya kamu juga duduk di kursi pesakitan, selain Winar. Karena kamu sudah beli tiga kali dan mengetahui kalau voucher itu tidak boleh diperjualbelikan,” kata Ketua Majelis Hakim.

Sementara ketika ditanya apakah ada orang lain selain saksi yang membeli voucher, Sunandar menjelaskan, setelah diperiksa di kepolisian, dirinya baru mengetahui bahwa FB juga membeli voucher tersebut.

FB sendiri berhalangan untuk menjadi saksi. Dan menurut informasi yang bersangkutan sedang cuti untuk menjalani perawatan.

Sedangkan Wiwik dalam kesaksiannya menerangkan, dirinya memang menyerahkan voucher senilai Rp13 miliar kepada Winar. Hal itu dilakukan pada 28 Desember 2018, sekitar pukul 08.00 WIT. Voucher yang diberikan ke Winar pun atas petunjuk pimpinan. 

“Voucher yang diberikan ke Winar senilai Rp13 miliar, dan pengambilan sendiri dikemas dalam lima kotak besar. Dan voucher itu untuk karyawan Departemen Underground, PTFI,” katanya.

Kata dia, voucher senilai Rp13 miliar tersebut dengan rincian Rp12 miliar lebih dengan pecahan 100 dan kurang lebih Rp800an lebih pecahan 50.

“Dari informasi bahwa yang digelapkan oleh Winar sebesar Rp750 juta. Sementara lainnya, dari terungkapnya kasus ini sudah dibagikan kepada karyawan yang berhak,” terangnya.

Persidangan kasus dugaan penggelapan voucher Hero ini akan dilanjutkan kembali di PN Kota Timika pada Senin (29/4) dengan agenda pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). (mkr/SP)

Kategori:
Bagikan