Internet Cepat Segera Terhubung di Seluruh Wilayah Termasuk Pelosok Papua

Rabu, 01 Mei 2019 17:17 WIT
Menkominfo Rudiantara bersama murid-murid SD 1 Atap Poumako, Timika Papua. (Foto: Sevianto Pakiding/SP)

TIMIKA | Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara memastikan dalam minggu ini pemerintah akan menandatangani kontrak pengadaan satelit untuk internet berkecepatan tinggi. 

Era pemerintahan Jokowi-JK sebenarnya telah membangun Palapa Ring sejak 2015. Proyek pembangunan tulang punggung serat optik nasional itu terbagi dalam tiga segmen, yaitu Palapa Ring paket barat, Palapa Ring paket tengah, dan Palapa Ring paket timur. 

Namun, Rudiantara mengatakan, jaringan serat optik tidak bisa menjangkau seluruh wilayah karena faktor geografis seperti pegunungan. Satu-satunya solusi adalah membangun satelit, dengan infrastruktur menara microwave di wilayah sulit terjangkau. 

Ada 28 lokasi di wilayah pegunungan Papua yang tidak terdapat akses jalan darat untuk infrastruktur kabel optik. Karena itu harus dibangun menara (tower) untuk segmen microwave di sekitar 52 titik.

"Tidak bisa semua menggunakan Palapa Ring, untuk sekolah yang jauh dari kota, tidak mungkin tarik kabel ke gunung. Satu-satunya cara adalah kita membangun satelit yang akan ditandatangani akhir minggu ini," kata Rudiantara di Timika, Rabu (30/4).

Menunjang program 'Tol Langit' tersebut, pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti)  Kominfo, menyewa satelit Nusantara Satu milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). 

"Satelit ini khusus untuk internet cepat, bukan satelit komunikasi yang biasa dioperasikan oleh teman-teman operator. Jadi semua wilayah nanti akan terkoneksi internet berkecepatan tinggi," kata dia.

Penyewaan satelit, kata Rudiantara, sementara dilakukan sebelum satelit multifungsi milik Indonesia bernama Satria (Satelit Republik Indonesia) yang pembangunan konstruksinya diperkirakan rampung di 2022-2023 mendatang. 

"Satelit nanti 2022, tapi Dirut Bakti Anang Latif berniat bahwa tidak harus menunggu satelitnya. Ada satelit milik orang lain yang karakteristiknya sama akan disewa dahulu, sebelum satelit milik Indonesia selesai," katanya.

Setelah Palapa Ring didukung satelit yang keduanya saling melengkapi seluruhnya sudah beroperasi, Ia berharap tak ada lagi kesenjangan akses internet di perkotaan dengan yang ada di daerah pelosok terutama Papua dan Papua Barat. 

"Jadi, pembangunan Palapa Ring, bukan pembangunan internet yang terakhir bagi bangsa ini. Ada satelit. Kita berfikir, bagaimana menghubungkan seluruh wilayah dan seluruh fasilitas publik di seluruh Indonesia," kata dia. 

Satelit Satria ini akan berperan mendukung penyebaran akses internet di daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) hingga 150 ribu titik, untuk menunjang kebutuhan internet di bidang pendidikan, kesehatan, pemerintah daerah, pertahanan, dan keamanan.

"Pak Wakil Bupati (Yohanis Bassang) bapak punya berapa sekolah dan puskesmas di Mimika, kasih tahu saya nanti diberitahu kapan akan terhubung dengan internet dan itu gratis. Negara tidak boleh bisnis sama masyarakat," ujarnya saat uji coba Palapa Ring Timur lewat tele-teaching di SDN Satu Atap Pomako, Timika.

Rudiantara menerangkan, ada sekitar 214 ribu sekolah negeri SD, SMP, dan SMA di seluruh Indonesia. Kemudian 5 ribu lebih puskesmas, fasilitas kesehatan rumah sakit desa, 85 ribu kantor desa, kantor polisi dan TNI, seluruhnya akan segera dihubungkan dengan internet cepat. 

"Ada 150 ribu titik di seluruh Indonesia yang akan dihubungkan. Menghubungkan 150 ribu titik itu bukan pekerjaan yang mudah. Tugas pemerintah pusat, Kominfo, memberi fasilitas, ini kebijakan keberpihakan," katanya. 

Menurutnya, pemerataan jaringan internet ke seluruh wilayah merupakan kesempatan yang baik untuk generasi Indonesia saat ini. Pasalnya, Indonesia akan berada di puncak demografi tahun 2030.

"Tahun 2030 ekonomi Idnonesia diproyeksikan sama dengan seluruh ekonomi negara Asean saat ini. Anak-anak inilah yang harus dipastikan mendapatkan manfaat. Mereka harus belajar dan kesempatannya tidak boleh berbeda antara di Papua dengan belahan barat Indonesia, di Jawa, semua harus mempunyai kesempatan yang sama," katanya. 

Oleh karena itu, semua SD, SMP, SMA, harus dipastikan terhubung dengan internet cepat, agar generasi pelosok seperti di Papua bisa belajar sama dengan di pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, NTT, Maluku dan seluruh wilayah lainnya. 

"Dengan koneksi internet, nanti melalui tele-teaching atau pengajaran jarak jauh dengan live streaming. Mudah-mudahan ini menjadi pilot project yang bisa diterapkan seterusnya dalam rangka mengembangkan pendidikan di Indonesia," jelasnya. 

Palapa Ring Timur

Palapa Ring Paket Timur, pembangunan tulang punggung serat optik ini dibagi dalam dua sub-paket, yaitu sub-paket 1 yang terdiri dari project-9, project-10, dan project 11, yang melintasi Provinsi NTT (Waingapu sampai dengan Alor), Provinsi Maluku (Wetar sampai dengan Dobo), dan terakhir di Provinsi Papua (Timika). 

Kemudian sub-paket 2, terdiri dari prokect-12, project-13, project-14, project-15, project-16, dan project-17, yang melintasi mayoritas di daerah pedalaman dan pegununungan di Provinsi Papua (Sugapa, Ilaga, Kota Mulia, Karubaga, Tiom, Kobakma, Elelim, Wamena, Kenyam, Sumohai, Dekai, Oksibil).

Selanjutnya beberapa kabupaten/kota lain di Papua dan Papua Barat seperti Sorong, Fef, Aifat, Teminabuan, Bintuni, Anggi, Manokwari, Tanggung, Raisei, Ransiki, Biak, Numfor, Sorendiweri, Serui, Botawa, Nabire, Botawa, Kigamani, Tigi, Timika, Enarotali, Agats, Merauke, Keppi, Tanah Merah, Waropko, Jayapura, Waris, Sarmi, dan Burmeso. 

Pembangunan Palapa Ring Timur kini mencapai 96,02 persen. Beberapa hal yang menghambat antaralain gangguan keamanan dari KKB, kondisi geografis Papua, terutama di daerah pedalaman dan pegunungan Papua. 

Kemudian keterbatasan helikopter untuk membangun menara untuk segmen microwave di sebanyak 28 lokasi. Dibutuhkan helikopter berkapasitas besar yang memiliki spesifikasi external load sampai dengan 4 ton yang digunakan untuk mengangkut material dan perangkat. 

Permasalahan lain adalah untuk memperoleh lahan, karena sebagian besar 
lahan masih berupa tanah adat dan banyak suku yang mengklaim memiliki kuasa/pemilikan atas tanah atau lahan yang akan digunakan. 

Di samping itu, kondisi cuaca yang tidak menentu/mudah berubah, sehingga menghambat pelaksanaan pekerjaan terutama pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan helikopter. 

Pada Selasa (30/4), Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara melakukan uji coba jaringan Palapa Ring Timur dari Timika, Papua, lewat tele-teaching atau pengajaran jarak jauh ke Jakarta dan Natuna. (rum/SP)

Kategori:
Bagikan