Menteri ESDM Resmikan Sembilan Fasilitas yang Dibangun LPMAK

Kamis, 02 Mei 2019 21:56 WIT
Menteri ESDM Ignasius Jonan saat menandatangani prasasti pada peresmian sembila fasilitas yang dibangun LPMAK dan PT Freeport Indonesia. (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, Kamis (3/5) meresmikan sembilan fasilitas yang sudah dibangun oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK) bersama PT Freeport Indonesia (PTFI).


Peresmian sembilan fasilitas yang dipusatkan di Sekolah Taruna Papua, Kelurahan Wonosari Jaya, Distrik Wania, Mimika, Papua ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri ESDM, yang didampingi Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, Presdir PT Inalum, Budi Sadikin, Wakil Bupati Mimika, Yohanis Bassang, Sekretaris Eksekutif LPMAK Abraham Timang, dan Uskup Keuskupan Timika, John Philip Saklil.


Adapun sembilan fasilitas yang diresmikan oleh Menteri ESDM adalah di bidang Pendidikan, yakni Asrama dan Sekolah Taruna Papua, Asrama Solus Populi, Pusat Pelatihan Terpadu “Alkinemok Kamoree” (PPTAK), Gedung SD, SMP, dan Asrama Putri di Distrik Mimika Barat, Gedung SD, SMP, dan Rumah Guru di Distrik Mimika Timur Jauh, Gedung SD, SMP, dan Asrama di Kampung Beanegogom-Tsinga, Distrik Tembagapura.


Sementara di bidang kesehatan, Private Wing & Klinik BPJS Rumah Sakit Mitra Masyarakat. Sedangkan di bidang infrastruktur meliputi, Lapangan Terbang Ainggogin-Aroanop, Distrik Tembagapura dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (Microhydro) di Kampung Banti, Distrik Tembagapura.


Menteri ESDM, Ignasius Jonan mengatakan, saat ini saham Freeport beralih kepemilikannya sebesar 51,2 persen kepada Indonesia yang diwakili oleh PT Inalum, Pemprov Papua, dan Pemkab Mimika. 


Untuk itu, peran serta masyarakat dalam upaya mendukung keberadaan PTFI yang sudah menjadi milik bangsa sangat diperlukan. Tidak bole lagi ada perasaan bahwa Freeport ini milik asing. Walaupun 48,8 masih dimiliki Freeport Mc Moran. 


“Dengan 51,2 persen ini cukup untuk 20 tahun atau 2041 nanti. Sehingga dengan waktu tersebut, putra-putri bangsa belajar mengelola pertambangan yang sedemikian hebat, kompleks, dan rumit di dunia ini,” kata Jonan.


Terkait dengan dana pengembangan masyarakat, Jonan mengatakan, kedepannya bisa dinaikkan menjadi 2 persen. Sehingga bisa berkontribusi bagi seluruh masyarakat di tanah Papua. 


“Sekolah ini bagus Pak, apabila dibandingkan sekolah saya dulu. Kalau perlu berunding, apakah pembagian devidennya diatur atau lainnya. Sehingga pengembangan masyarakat terus menikmati upaya pembangunan yang ada,” katanya.


"Kalau perlu sekolah ini diekspansi. Dalam arti sekarang mampu menampung 1000 anak, maka kedepan harus bisa 2000 anak. Apalagi program pengembangan masyarakat bukan lagi dalam bentuk CSR. Tapi harus menjadi bagian utuh dalam operasi suatu usaha," Tambaknya. 


“Dulu freeport dimiliki 100 persen asing. Sekarang 51 persen dimiliki anak bangsa, masak tidak berkembang,” ujarnya.


Sementara untuk bidang kesehatan, Jonan meminta, PTFI ataupun LPMAK membangun klinik di daerah-daerah yang layanan kesehatannya kurang. “Kalau memang ada rencana seperti itu, maka minta dukungan ke ESDM dan akan dibantu air yang bisa langsung di minum,” tuturnya.


Wakil Bupati Mimika, Yohanis Bassang mengatakan, keberadaan sekolah Taruna Papua merupakan wujud nyata kerjasama antara LPMAK dan PTFI, yang didukung Pemda Mimika dengan bertujuan mensukseskan, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas pendidikan di Mimika. 


Lanjut Bassang, tentunya apa yang dibangun LPMAK dibawah binaan PTFI merupakan kebanggaan, dalam melakukan pembinaan terhadap anak-anak Amungme-Kamoro (Amor). Dimana semua yang dididik dalam asrama dan sekolah mayoritas dari dua suku besar tersebut.


Sementara itu, Presdir PTFI, Tony Wenas mengatakan, PTFI di tanah Papua, khususnya Mimika ini sudah berdiri selama 52 tahun. Sebelum adanya PTFI, penduduk di Mimika sebanyak 1000 jiwa. Namun sekarang ini jumlahnya meningkat menjadi 250 jiwa. Ini membuktikan kalau ada pertumbuhan ekonomi di daerah ini.


“Dengan kondisi itu, maka kami percaya bahwa tidak ada satupun perusahaan bisa bertahan, apabila masyarakatnya tidak tumbuh dan berkembang bersama,” katanya.


Ia mengatakan, sejak awal beroperasi, PTFI dan masyarakat telah melakukan kerjasama, dimulai dari ‘Januari Agreement’ pada 1974. Dan terus berevolusi, dengan dicetuskan dana kemitraan yang dikelola oleh LPMAK sebesar 1 persen dari pendapatan perusahaan. 


“2018 lalu, besaran dana 1 persen yang diberikan sejumlah 60 juta US dolar atau Rp900 miliar. Belum dihitung dana ‘community development’ yang dikelola langsung oleh PTFI sebesar 40 juta dolar. Jadi totalnya 100 juta US dolar, dan kalau dikurskan dengan Rp14 ribu per dolar, maka nilainya Rp1,4 triliun untuk tahun lalu,” katanya.


Dari dana itu, kata Wenas, sebagai salah satu wujud nyata dari program tersebut, saat ini dilakukan peresmian beberapa fasilitas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. 


“Dengan fasilitas ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat. Sehingga keberadaan PTFI bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Papua,” ungkapnya. (mkr/SP)

Kategori:
Bagikan