Infrastruktur Palapa Ring Rampung Sebelum 17 Agustus 2019

Jumat, 03 Mei 2019 18:57 WIT
Menkominfo Rudiantara meninjau Network Operation Center (NOC) Palapa Ring yang sudah selesai dibangun di kawasan Pomako, Timika. (Foto: Sevianto/SP)

JAKARTA | Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan infrastruktur Palapa Ring ditargetkan selesai dan dapat digunakan sebelum 17 Agustus 2019.

"Kami targetkan pertengahan tahun ini. Menteri (Kominfo Rudiantara) menargetkan 17 Agustus bisa deliver service," kata Direktur Utama BAKTI Anang Latif di Jakarta, Jumat.

Target tersebut, menurut Anang, lebih lama dari rencana awal penyelesaian proyek pembangunan jaringan serat optik nasional itu pada Juni 2019.

Anang mengaku persoalan keamanan di Papua, sebagai salah satu wilayah proyek Palapa Ring Timur, menjadi penyebab target penyelesaian Palapa Ring meleset dari target awal.
Progres pembangunan Palapa Ring Timur telah mencapai 96 persen hingga awal Mei 2019.

Kontur wilayah Papua dan Papua Barat yang berupa pegunungan juga menjadi kendala lain pembangunan Palapa Ring Timur. BAKTI mencontohkan kendala di Kabupaten Intan Jaya misalnya yang memerlukan 52 menara jaringan.

Sebanyak 28 mentara dari 52 menara itu berada di atas pegunungan sehingga membutuhhkan helikopter untuk mengangkut material yang diperlukan.

Satu menara jaringan rata-rata memerlukan 80-100 ton material yang harus diangkut. Sedangkan helikopter yang tersedia hanya mampu mengangkut maksimal tiga ton sekali jalan.

Proyek infrastruktur jaringan Palapa Ring dibagi menjadi tiga paket, yaitu Barat, Tengah dan Timur. Dua paket yaitu Barat dan Tengah sudah selesai dibangun sejak 2018.

Anang Latif mengatakan pembangunan Palapa Ring Timur sempat terkendala baku tembak di Kabupaten Nduga sehingga para pekerja harus menghentikan kegiatan mereka untuk sementara waktu dengan pertimbangan keamanan.

Proyek tersebut juga terkendala banjir bandang di Sentani yang menyebabkan sejumlah material pembangunan hilang. 

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara ketika berkunjung ke Timika, Rabu (30/4), mengatakan jaringan serat optik tidak bisa menjangkau seluruh wilayah karena faktor geografis seperti pegunungan. Satu-satunya solusi adalah membangun satelit.

Ada 28 lokasi di wilayah pegunungan Papua yang tidak terdapat akses jalan darat untuk infrastruktur kabel optic, hanya bisa dijangkau dengan helicopter. Karena itu harus dibangun menara (tower) untuk segmen microwave di sekitar 52 titik.

"Tidak bisa semua menggunakan Palapa Ring, untuk sekolah yang jauh dari kota, tidak mungkin tarik kabel ke gunung. Satu-satunya cara adalah kita membangun satelit yang akan ditandatangani akhir minggu ini," kata Rudiantara. 

Menunjang program 'Tol Langit' tersebut, pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti)  Kominfo, menyewa satelit Nusantara Satu milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). 

"Satelit ini khusus untuk internet cepat, bukan satelit komunikasi yang biasa dioperasikan oleh teman-teman operator. Jadi semua wilayah nanti akan terkoneksi internet berkecepatan tinggi," kata dia.

Penyewaan satelit, kata Rudiantara, sementara dilakukan sebelum satelit multifungsi milik Indonesia bernama Satria (Satelit Republik Indonesia) yang pembangunan konstruksinya diperkirakan rampung di 2022-2023 mendatang. 

"Satelit nanti 2022, tapi Dirut Bakti Anang Latif berniat bahwa tidak harus menunggu satelitnya. Ada satelit milik orang lain yang karakteristiknya sama akan disewa dahulu, sebelum satelit milik Indonesia selesai," katanya.

Setelah Palapa Ring didukung satelit yang keduanya saling melengkapi seluruhnya sudah beroperasi, Ia berharap tak ada lagi kesenjangan akses internet di perkotaan dengan yang ada di daerah pelosok terutama Papua dan Papua Barat. 

"Jadi, pembangunan Palapa Ring, bukan pembangunan internet yang terakhir bagi bangsa ini. Ada satelit. Kita berfikir, bagaimana menghubungkan seluruh wilayah dan seluruh fasilitas publik di seluruh Indonesia," kata dia. 

Satelit Satria ini akan berperan mendukung penyebaran akses internet di daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) hingga 150 ribu titik, untuk menunjang kebutuhan internet di bidang pendidikan, kesehatan, pemerintah daerah, pertahanan, dan keamanan. (Antara/rum/SP)

Kategori:
Bagikan