Ramadhan Momentum Tepat Jaga Kesehatan dan Lingkungan

Sabtu, 04 Mei 2019 17:47 WIT
Ilustrasi

JAKARTA | Bulan Ramadhan bukan sekedar momentum untuk peningkatan ibadah, melainkan menjadi momentum pembiasaan diri menjaga kesehatan dengan makan secara bijak selain lingkungan.

"Puasa merupakan momentum emas detoks dan hidup sehat," kata Ketua PERGIZI Pangan Indonesia Hardinsyah dalam acara Makan Bijak di Jakarta, Jumat (3/5).

Hardi mengatakan sel-sel tubuh melakukan pembersihan (autophagy) dengan memusnahkan sel-sel atau komponen sel rusak dan zat beracun lain yang bersumber dari makan dan minuman saat berpuasa 12-13 jam.

Puasa, lanjut Hardi, memunculkan pertumbuhan sel-sel baru yang dihasilkan oleh lysosome yang bekerja saat tubuh istirahat dari aktivitas makan dan minum.

Hardi mengatakan berpuasa secara benar juga membuat awet muda karena meningkatkan autophagy.

"Salah satu upaya awet muda adalah (menjalani) gaya hidup sehat dan berpuasa, serta berdoa," kata ahli gizi dan pangan dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB itu.

Selain dilakukan muslim saat Ramadhan, tren berpuasa juga sudah berkembang di Amerika dan Eropa dengan sebutan 'fasting diet' atau diet puasa.

Hardinsyah mengatakan berpuasa akan membuat pola tubuh sehat yang ditentukan dari perut sehat.

"Intinya perut harus sehat kalau ingin totalitas sehat," kata Hardinsyah yang mengatakan perut sehat berdampak pada pikiran, emosi, dan mental.

Dampak lingkungan

Kajian "Food Sustainability Index 2017" yang dirilis oleh The Economist Intellegence Unit (EIU) untuk kategori limbah dan bahan makanan yang terbuang, Indonesia menempati peringkat kedua terbawah pembuang sampah makanan terbesar di dunia.

Sementara, Dinas Kebersihan DKI Jakarta mencatat peningkatan volume sampah sebesar 10 persen pada 10 hari pertama Ramadhan 2016. Volume sampah itu didominasi sampah organik seperti sisa makanan.

Hardinsyah mengatakan makan berlebih menimbulkan penyakit selain pemborosan bahan pangan. Makan berlebih juga mengurangi kesempatan orang lain untuk mendapatkan akses makan.

"Makanan berlebih memicu eksploitasi sumber daya alam, meningkatkan emisi, merusak lingkungan dan menghambat tujuan SDGs," kata Hardinsyah.

Makan Bijak merupakan kampanye yang diinisiasi oleh Mylanta sejak 2018. Kampanye itu kembali digaungkan agar masyarakat semakin sadar untuk menerapkan pola hidup sehat dengan makan bijak tidak berlebihan.

"Makan bijak itu, tidak berlebihan. Makan apa yang dibutuhkan, bukan apa yang kita mau. Dan, belajar menyisihkan makanan sebelum dikonsumsi dan membungkusnya dengan membawa kotak makan sendiri," kata Associate Brand Manager Mylanta Dinda Parameswari.(Antara/SP)

Kategori:
Bagikan