Serly Baransano Sulap Sampah Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomi Tinggi

Kamis, 09 Mei 2019 12:14 WIT
Serly memamerkan hasil karyanya kepada para pelaku usaha yang hadir di acara workhsop Dinas Pariwisata Papua. (Foto: Yunita/SP)

TIMIKA | Seorang pelaku bisnis kerajinan tangan di Mimika, Serly Johana Baransano,  menyulap sampah menjadi berbagai karya kreatif yang bernilai ekonomi tinggi.

Serly Johana Baransano memamerkan beberapa hasil karyanya dalam kegiatan workshop Dinas Pariwisata Provinsi Papua di Hotel Grand Tembaga, Timika, Selasa (7/5). 

Bisnis daur ulang dimulai Serly dengan mengumpulkan sampah kering yang dibuang oleh masyarakat, baik di wilayah pegunungan hingga di pesisir pantai Mimika. 

Dari karyanya, Serly meraup penghasilan yang tidak sedikit. Hasilnya mulai dari menyekolahkan anak, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan Ia bisa menjadi sarjana berkat bisnis daur ulang sampah.

Awalnya Serly mulai mengolah sampah berawal dari aktivitas Mamanya yang merupakan seorang guru. Ia melihat kegiatan mamanya sehari-hari membuat berbagai kreativitas berbahan sampah. 

Dari situ, Serly mulai belajar dan terus mengembangkan bermacam-macam hasil kerajinan tangan. Bahkan, kini Serly telah mengkader Mama-mama, janda, yatim piatu dan anak-anak muda dalam bisnis cukup menjanjikan tersebut. 

Serly mengakui, hasil kerajinannya sudah dilirik masyarakat umum, salah satunya berupa hiasan dinding setinggi 2 meter dan lebar 110 cm yang dipajang di hotel Noken milik Klemen Tinal dan Kantor Disperindag. 

Hasil kerajinan tangan berbahan sampah yang dibuat Serly bermacam-macam. Ada yang berupa kembang, hiasan dinding, tempat pensil, tempat HP, miniatur rumah honai, dan lain-lain. 

Untuk tempat pensil biasa dijual seharga Rp75.000 dan miniatur honai seharga Rp200.000.

"Stok saya banyak di rumah tapi saya tidak tampilkan di luar, karena kalau saya pajang di luar rumah pasti habis. Soalnya saya jika ada event-event keluar saya harus bawa banyak," kata Serly. 

Di samping itu, Serly mengaku bangga dengan bisnis yang dilakoninya karena berbagai hasil kerajinan yang dibuat telah membawanya jalan-jalan ke luar daerah. 

"Dari Disperindag mengajak saya mewakili daerah Papua ke Jayapura mengikuti festival Danau Sentani, kemudian Badan Pemberdayaan Perempuan membawa saya ke Jakarta ikut jambore, dan daerah lain mengikuti event-event seperti Palembang, Batam, Surabaya, dan lain-lain dengan biaya sendiri," katanya. 

"Saya juga biasa diundang untuk melatih seperti di distrik Mimika Baru, serta 10 kelurahan, 2 kampung, dan distrik Amar mewakili PKK," tambahnya. (Cr-03/SP)

Kategori:
Bagikan