PN Timika Sidangkan WNA Asal Kamerun

Kamis, 09 Mei 2019 20:17 WIT
Nguetse Zangue Elvige Florie, (Florie) Warga Negara Asing (WNA) berkebangsaan Kamerun usai sidang di PN Kota Timika. (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Pengadilan Negeri (PN) Kota Timika, Kamis (9/5) kembali menyidangkan Nguetse Zangue Elvige Florie, (Florie) Warga Negara Asing (WNA) berkebangsaan Kamerun atas dugaan penyalahgunaan ijin tinggal di Indonesia. 


Pada sidang yang dipimpin oleh Majelis Hakim tunggal, Steven C Walukouw beragendakan mendengarkan keterangan saksi dan terdakwa.


Pada dakwaannya, Florie dijerat dengan penyalahgunaan ijin tinggal yang diberikan, khususnya pasal 122 huruf a UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.


Pada sidang tersebut jaksa penuntut umum (JPU) dari Kajari Mimika, Joice E Mariai menghadirkan tiga saksi. Dua orang saksi dari Kantor Imigrasi Kelas II Timika, yakni Helda Safkaur dan Rifai Amiruddin. Sementara satunya Ursula Beatrix Rumansara yang pernah mengenal terdakwa.


Gelda Safkaur dalam keterangannya menerangkan, pada 29 Januari 2019 dirinya bersama tim dari Kantor Imigrasi mendatangi sebuah salon di Jalan Cendrawasih. Dimama salon tersebut dikelola oleh seorang WNA.


"Saya ke salon itu sebagai calon konsumen untuk menganyam rambut. Dan saat masuk Florie sendiri yang menerimanya. Dan bisa dipastikan bahwa dia (Florie) adalah WNA, karena bahasa Indonesianya terbata-bata," kata Gelda.


"Dan di salon itu ada papan namanya, tapi sudah diturunkan. Di dalam salon, etalasenya juga ada termasuk minyak rambut, tapi mungkin itu dari luar negeri,” ungkapnya.


Sememtara Rifai Amiruddin menerangkan bahwa terdakwa tinggal sendiri di rumah yang juga memiliki salon. Diketahui rumah tersebut milik seorang berinisial YB. 


“Saya tidak tau hubungan terdakwa dengan pemilik rumah,” ujarnya.


Sedangkan Ursula Beatrix Rumansara menyampaikan, dirinya mengenal Florie dari seorang teman. Ia menerangkan pernah ke salon Florie untuk menganyam rambut, saat masih tinggal di jalan C. Heatubun, Distrik Mimika Baru, Timika, Papua.


"Karena harganya mahal, yakni Rp1,6 juta sehingga saya tidak jadi," ujarnya.


Kata dia, sejak awal dirinya mengetahui Florie bukan orang Indonesia. Namun tidak menanyakan soal paspornya, karena Florie datang dari Jakarta.


Pada sidang Florie yang didampingi penerjemah mengatakan, alasannya ke Indonesia, karena pada 2005 lalu, di negaranya sedang terjadi perang. Sehingga banyak yang mengungsi, termasuk dirinya.


Akibat peperangan tersebut, banyak orang dinegaranya memilih melarikan diri ke Eropa. Namun karena dirinya tidak memiliki banyak uang, akhirnya ia memilih ke Indonesia. 


"Mengungsi ke Eropa butuh biaya mahal dibanding ke Indonesia. Namun keluarganya tau, kalau saya di Indonesia," terangnya.


"Di Jakarta, saya ketemu dengan orang Papua dan mengatakan bahwa di Papua memiliki kesamaan dengan Afrika," ujarnya.


Sementara menyangkut dirinya di persidangan ini karena tidak mempunyai visa dan paspor. Dan di Timika sudah empat bulan, dimana tiga bulan tinggal di Jalan Baru, satu bulan di Jalan Cendrawasih.


"Saya minta kepada majelis hakim untuk memberikan keringanan. Karena saya disini ingin cari teman dan bekerja," ungkapnya.(mkr/SP)

Kategori:
Bagikan