Tokoh Amungme Tanggapi Aksi Karyawan Mogok

Tokoh Amungme Tanggapi Aksi Karyawan Mogok
Yohanis Kum dan Vebian Magal - (Foto: Mujiono/SP)

TIMIKA I Tokoh pemuda Amungme, Vebian Magal, dan tokoh masyarakat (Tomas) Amungme Yohanes Kum mendukung upaya aparat kepolisian dalam melakukan penegakan hukum terhadap non karyawan yang melakukan pengrusakan fasilitas di Check Point 28, terminal Gorong-gorong, dan depan Petrosea Jalan Cenderawasih, Sabtu (19/8/17) lalu.

Vebian Magal mengatakan, pihaknya secara tegas menolak cara-cara kekerasan yang merusak barang orang lain. Karena tindakan itu sangat merugikan.

“Kalau masyarakat asli yang lakukan mungkin bisa dimaklumi, tetapi ini yang melakukan adalah orang yang tau aturan. Karenanya kami menolak keras tindakan kekerasan yang terjadi di Check Point 28, terminal Gorong-gorong, dan Petrosea,”kata Vebian kepada wartawan saat melakukan konfrensi pers di Jalan Cenderawasih, Selasa (22/8/17).

Karenanya pihaknya mendukung tindakan penegakan hukum yang dilakukan Polri. Dan persoalan ini harus diselesaikan mengikuti aturan  yang berlaku.

Ia menambahkan, selain itu kata diatidak boleh mengganggu operasional PTFI, karena sumber pendanaan program pengembangan masyarakat 7 suku kekerabatan dari PTFI. Mengganggu operasional PTFI sama saja dengan menghambat program pengembangan masyarakat 7 suku.

“Tidak boleh mengganggu ketertiban umum,  karena akan mengganggu pelayanan kepada masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Ini karena dana pengembangan berasal dari PTFI,”tuturnya.

IKLAN-TENGAH-berita

Hal senada juga disampaikan Tomas  Amungme, Yohanis Kum yang mengatakan, Republik ini ada aturan main, bagi siapa yang melanggar maka akan diproses sesuai dengan aturan yang ada. Sama dengan perusahaan memiliki mekanisme dalam tenaga kerja, mulai perekrutan sampai diberhentikan. Dan karyawan terikat dengan aturan tersebut

“Karyawan yang langgar harus diproses sesuai aturan yang ada. Apalagi PTFI ini merupakan perusahaan tambang yang terbesar di dunia ini milik semua masyarakat, lebih khususnya Papua dan Mimika memiliki aturan yang jelas,”kata Yohanes.

Kata dia, terkait masalah tenaga kerja ini, PTFI sudah melakukan pemanggilan terhadap karyawan selama dua bulan. Dan menurut aturan, maka kalau sudah dipanggil lebih dari dua kali, maka kalau tidak hadir tanpa alasan yang jelas maka dianggap mengundurkan diri. Sehingga semua pihak tidak bisa paksa bahwa mereka harus diterima lagi

“Saya sebagai anak pemilik gunung menegaskan bahwa banyak masyarakat yang datang kesini untuk bekerja. Sehingga tidak boleh melakukan pengrusakan, kecuali Amungme dan Kamoro. Ini karena, masyarakat ini yang punya tanah tambang,”ungkapnya.
(mjo/SP)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar