Polisi Gagalkan Konvoi Ugal-ugalan Pasca Pengumuman Kelulusan SMA di Timika

Senin, 13 Mei 2019 19:12 WIT
Para pelajar dengan mengendarai sepeda motor melakukan konvoi usai pengumuman kelulusan. (Foto: Yunita/SP)

TIMIKA | Jajaran Kepolisian Mimika, Papua, menggagalkan konvoi massal pelajar SMA/SMK pasca pengumuman kelulusan, Senin (13/5).


Beberapa titik kumpul para pelajar yang diwarnai aksi coret-coret seragam dibubarkan pihak kepolisian lantaran tengah bersiap-siap melakukan konvoi merayakan kelulusan di jalan raya. 


Kasat Lantas Polres Mimika AKP Indra Budi Wibowo bersama anggotanya, terpaksa menahan beberapa unit sepada motor milik pelajar yang ditemukan ugal-ugalan dan membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lain.


Salah satu titik kumpul pelajar yang dibubarkan kepolisian di depan Kencana Market, Jalan Cenderawasih. Kedatangan aparat membuat para pelajar berhamburan, kocar-kacir menghindari aparat.  


Penertiban pelajar sempat tertahan ketika salah satu motor pelajar tanpa plat nomor ditilang polisi.


AKP Indra mengatakan, ugal-ugalan di jalan raya oleh pelajar yang diantaranya belum memiliki SIM, kemudian kendaraan tidak lengkap, tentu saja merupakan pelanggaran hukum, meresahkan masyarakat dan mengganggu aktivitas jalan raya. 


"Kita terpaksa sedikit keras kepada adek-adek ini supaya tidak ada aksi konvoi tetapi dengan niat yang baik, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Indra. 


"Kalau terjadi kecelakaan misalnya, otomatis baliknya ke mereka sendiri dan yang susah adalah orang tua mereka dan guru-gurunya," katanya lagi. 


Pasca pengumuman, Satuan Sabhara dan Satuan Lalu Lintas diturunkan melakukan patroli di seputaran Kota Timika, kemudian mendatangi sekolah-sekolah untuk mengimbau para siswa agar tidak melakukan konvoi di jalan raya.


"Jika masih ada yang nekat melakukan aksinya, maka kami pastikan akan ditilang bukan hanya tilang biasa saja, tapi sampai lebaran baru boleh ambil kendaraannya yang disertai tilang," tandas Indra. 


Ia mensinyalir ada di antara para remaja tersebut terlibat dalam aksi balapan liar yang kerap meresahkan warga usai salat subuh. 


"Tapi bukan menuduh juga. Mereka ini kan masih dalam mencari jati diri, jadi semangat mereka yang berlebihan larinya ke sana dengan bereforia, kebanyakan ya seperti itu," kata dia.


Menurut Indra, dari tahun ke tahun kepolisian sudah menyampaikan kepada pihak sekolah agar jangan sampai ada aksi konvoi kelulusan, namun sayangnya masih ada juga yang membandel. 


"Nah yang harus dipertanyakan, jika terjadi hal seperti ini, yang harus dan mesti disalahkan itu siapa" pungkasnya. 


"Kalau di sekolah ya sebagai guru dia harus bertanggung jawab, karena dialah yang menjadi orang tua terdekat mereka. Jangan hanya dilingkup sekolah saja, diluar juga jika terjadi apa-apa siapa yang mesti disalahkan," katanya. (Cr-03/SP)

Kategori:
Bagikan