Sidang Lanjutan Kasus Makar di Timika, Tiga Terdakwa Dituntut Hukuman Penjara

Selasa, 14 Mei 2019 16:27 WIT
Tiga terdakwa kasus makar saat melakukan koordinasi dengan kuasa hukumnya usai persidangan dengan agenda tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). (Foto: Muji/SP)

TIMIKA | Sidang lanjutan kasus makar dengan terdakwa aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Timika, Yanto Arwekion (Wakil Ketua I KNPB Timika), Sem Asso (Wakil Ketua I PRD Timika), dan Edo Dogopia (Anggota KNPB Timika) memasuki babak penuntutan.  


Dalam persidangan yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Kota Timika, Kabupaten Mimika, Papua, Selasa (14/5), Habibi Anwar, selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU), menuntut Majelis Hakim untuk menjatuhkan pidana penjara terhadap Yanto Awerkion alias Yanto selama 1  tahun penjara, Sem Asso selama 10 bulan penjara, dan Edo Dogopia Alias Emanuel Day Dogopia selama 8 bulan penjara. 


Habibi Anwar dalam pembacaan tuntutannya mengatakan, berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan dan analisa, maka pihaknya melakukan pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan.


Pada hasil pembuktian tersebut, maka dakwaan yang tepat, yakni alternatif ketiga, Pasal 169 Ayat (1) dan (3) KUHPidana, yang terdiri dari unsur-unsur, barang siapa, sebagai pendiri atau pengurus, turut serta dalam perkumpulan, yang bertujuan melakukan kejahatan, dan atau turut serta dalam perkumpulan lainnya yang di larang oleh aturan-aturan umum.


“Dari pasal tersebut, maka semua unsur tindak pidana yang dilakukan oleh ketiga terdakwa terpenuhi. Dan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana,” katanya.


Selain unsur itu, pihaknya mempertimbangkan beberapa hal, yakni hal yang memberatkan, terdakwa Yanto Awerkion alias Yanto  sebelumnya  dua kali  pernah dihukum. Sementara hal-hal yang meringankan, para terdakwa berlaku sopan selama persidangan. Dan merupakan tulang punggung dalam keluarganya.


Ketiga terdakwa melalui kuasa hukumnya, Veronica Koman akan mengajukan pledoi. Rencana pledoi akan disampaikan pada Jumat (17/5).  


Perlu diketahui, Yanto Arwekion dan dua terdakwa pada Senin 31 Desember 2018 bertempat di Sekretariat KNPB Timika didakwah telah melakukan percobaan makar. Yanto sendiri sudah berulang kali terbukti melakukan makar dan sudah pernah disidang sebelumnya. 


Terkait dengan kasus ini, pada 28 Desember 2018 lalu, Yanto Arwekion menyampaikan secara lisan kepada seluruh anggota dan simpatisan KNPB Timika bahwa 31 Desember 2018, akan dilakukan syukuran HUT KNPB dan PRD Timika ke 5. Dan dari rencana itu, maka disampaikan siapa saja yang menyumbang makanan dan minuman diperbolehkan. 


Selanjutnya, Yanto Arwekion dan Sem Asso menandatangani surat pemberitahuan untuk diajukan kepada Kasat Intelkam Polres Mimika, namun surat tersebut ditolak oleh pihak kepolisian, dikarenakan KNPB merupakan lembaga yang tidak terdaftar di Badan Kesbangpol.


Kemudian, pada 30 Desember 2018 Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto  memerintahkan kepada Kabag Ops untuk melakukan pengamanan dan razia pada 31 Desember di Sekretariat KNPB, serta meminta penebalan pasukan kepada TNI dan BKO Brimob.


Saat melakukan razia di sekretariat KNPB, aparat keamanan melihat bendera KNPB dan atribut lainnya. Sehingga meminta untuk tidak melakukan kegiatan tersebut. Namun, pihak KNPB meminta untuk tidak menggangu doa HUT KNPB.


Aparat keamanan pun melakukan pengamanan barang bukti baik berupa bendera, ban bermotif bendera bintang kejora, spanduk, dan lainnya, aerta enam orang diamankan termasuk ketiga terdakwa.


Atas dugaan kasus makar tersebut, JPU pada dakwaan sebelumnya menjatuhkan beberapa pasal, yakni dakwaan pertama atau utama pasal 106 KUHP Jo pasal 87 Jo pasal 88 KUHP, tentang makar. Dakwaan kedua, 110 ayat 2 ke 4 jo pasal 88 KUHP juga tentang makar. Dan dakwaan ketiga, pasal 169 ayat 1 dan 3 KUHP, tentang kelembagaan. (mkr/SP)

Kategori:
Bagikan