Pedagang Ratusan Amunisi Didakwa Undang-Undang Darurat

Kamis, 16 Mei 2019 22:55 WIT
Sammy Septonno saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kota Timika. (Foto:Muji/SP)

TIMIKA | Sammy Saptenno alias Sem alias Bapak Yahuda terdakwa dalam kasus sidang kepemilikan dan perdagangan ratusan amunisi menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri (PN) Kota Timika, pada Kamis (16/5) dengan agenda pembacaan dakwaan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Mimika, Habibi Anwar mengatakan, kasus ini merupakan pengembangan dari ditangkapnya Titus Kwalik, pada Februari 2018 silam di sekitaran SP 5. 

Yahuda diduga kuat memperdagangkan amunisi berupa peluru tanpa izin dari pihak berwenang. Dan pada perdagangannya, terdakwa menjual ratusan amunisi kepada Titus.

“Dari itu kami mendakwakan kepada terdakwa pasal 1 ayat (1) Undang undang Darurat nomor 12 tahun 1951,” katanya.

Pasal 1 ayat (1) berbunyi “Barang siapa, yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun”. 

Setelah pembacaan dakwaan, sidang yang dipimpin Majelis Hakim Tunggal Fransiscus Y Babptista dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi. 

JPU menghadirkan enam orang saksi, yakni tiga anggota kepolisian diantaranya Muhammad Nur, Juma dan Safria. 

Sementara tiga saksi lainnya, merupakan pihak yang terlibat dalam transaksi dan sudah pernah disidangkan, yaitu Titus Kwalik, Polce Tsugumol,dan Julianus Dekme. 

Titus Kwalik dalam keterangannya mengatakan bahwa dirinya mengenal terdakwa di sebuah warung, ketika menanyakan soal tanah yang kemudian terdakwa menawarkan dengan ingin menjual amunisi. 

"Karena dia (terdakwa) tawarkan jual amunisi, maka saya langsung hubungi Julius Dekme dan Polce Sulgomo. Sehingga, saat mereka dua ada uang, maka saya langsung saya hubungi terdakwa untuk bawa amunisi," terangnya.

Kata Titus, transaksi jual beli amunisi dilakukan empat kali. Untuk amunisi berjumlah 100 butir dibelinya dengan harga Rp10 juta.

Transaksi kedua terdakwa menjual 30 butir dengan harga Rp3 juta. Transaksi ketiga 20 butir dengan harga Rp2 juta. Dan terakhir 10 butir dengan harga Rp1 juta. 

“Transaksi kami lakukan di kebun saya di SP 5. Tapi dia (terdakwa) hanya kasih peluru saja. Dan setelah itu, saya yang kasih ke Deikme," ungkapnya.

Sementara saksi Polce Tsugumol, dan Julianus Dekme dalam keterangannya mengakui telah memperoleh amunisi dengan membeli dari terdakwa. 

Sedangkan tiga saksi dari anggota kepolisian dalam keterangannya mengatakan bahwa, tertangkapnya terdakwa itu berdasarkan hasil pengembangan dari tiga saksi yang diamankan terlebih dahulu. 

"Kejadiannya di tahun 2018 lalu. Dimana waktu itu, kami amankan terlebih dahulu Polce Tsulgomo dan Julianus Dekme. Dan dari keterangan keduanya, diperoleh bahwa amunisi itu didapatkan dari Titus," kata ketiga anggota Polisi tersebut.

"Dari keterangan itulah, Titus kami tangkap,” ujar mereka bertiga.

Selama ini Polce selalu diikuti pihak kepolisian. Karena sebelumnya ia terlibat di kelompok kriminal bersenjata (KKB) kelompok kali kopi.

Setelah sekitar delapan bulan pengembangan, baru diketahui Ponce membeli peluru dari Titus yang didapatkan dari Yahuda.

"Amunisi yang dibeli campuran. Namun, sepengetahuan kami tidak ada izin penjualan dan kepemilikan peluru (dari terdakwa),” ungkap salah satu polisi yang menjadi saksi.

Dari keterangan ketiga Titus, Polce, dan Dekme terdakwa mengakui perbuatannya. Selanjutnya, sidang akan dilanjutkan pada 20 Mei 2019 dengan agenda lainnya. (mkr/SP)

Kategori:
Bagikan