Harga Tiket Mahal, Bisnis Travel di Timika Jadi Sepi

Kamis, 16 Mei 2019 23:29 WIT
Sepinya pembeli tiket di salah satu travel. (Foto: Yunita/SP)

TIMIKA | Masih tingginya tarif tiket pesawat tak hanya membuat jengkel para calon penumpang. Akan tetapi, para pengusaha bisnis travel juga ikut imbasnya karena sepinya pembeli. 

Seperti yang diungkapkan Diana, pemilik Travel Kuera Jaya. Kata dia, sebelum ada peraturan ambang batas tiket dikeluarkan, penjualan tiket ramai bahkan ada yang memesan via telepon saja. Tetapi sekarang ini pembeli boleh dikata sangat kurang. 

"Tahun-tahun lalu itu boleh sebelum Desember 2018, harga tiket masih boleh dikata standarlah. Kalau macam masuk bulan puasa itu sudah banyak yang mulai booking jauh-jauh hari untuk mudik lebaran, tapi tahun ini syukur kalo ada dalam sehari satu atau dua yang beli. Tapi biasa tidak ada sama sekali," kata Diana, Kamis (16/5).

Menurutnya, kurangnya pembeli tiket berimbas pada omset penjualan juga berkurang.

Bukan hanya itu saja, komisi dari penjualan juga ikut dikurangi yang dulunya masih dapat 5 persen sekarang hanya 2 persen saja.

"Malahan pada waktu desember lalu kami hanya dapat 1 persen saja dan bahkan insentifpun ikut ditiadakan," akunya. 

Senada dengan Diana, Travel Solata juga mengalami hal serupa. Seperti yang diungkapkan Yuli. 

Kata dia, kenaikan tiket per-Desember 2018 itu sangat mahal sehingga mempengaruhi penjualan tiket. 

"Selama tiket naik penjualan kami merosot turun, kalau dulu sebelum naik itu pas seperti bulan puasa begini dalam satu keluarga biasa booking 4 - 5 orang tetapi sekarang pembeli boleh di hitung dalam satu hari," kata yuli. 

Kenaikan harga tiket ini tentunya sangat dikeluhkan masyarakat. Sehingga, banyak masyarakat beramai-ramai mencari tiket murah di media sosial. 

Bahkan, banyak warga yang akan merayakan Idul Fitri di kampung halamannya mengurungkan niat, karena mahalnya harga tiket. 

"Harga tiket sangat mahal mba, boro-boro mau pulang, perginya saja udah berapa belum baliknya. Harga perginya aja itu bisa bayar uang kost kita selama 3 bulan, mending disini ajalah nyari duit," ungkap Madi seorang warga Timika. (Cr-03/SP)

Kategori:
Bagikan